Thursday, April 12, 2018

Earth Day: Merayakan Hari Bumi Setiap Hari



Merayakan Hari Bumi Setiap Hari - Tidak terasa di tahun 2018 ini kita sudah memasuki bulan April. Alih-alih merayakan April Mop yang nggak ada manfaatnya, di bulan istimewa ini kita justru akan bertemu dengan salah satu hari perayaan yang tidak biasa, yaitu Hari Bumi Internasional alias International Earth Day.

Mungkin banyak dari kita yang belum akrab dengan Hari Bumi Internasional ini, seperti kemarin pas saya dan teman-teman blogger dari Female Blogger Banjarmasin membahas tentang Hari Kebahagiaan Internasional 😁


Oh iya, teman. Ngomongin tentang Hari Bumi internasional menurut saya tidak terlepas dari apa yang sudah kita lakukan untuk bumi, planet tua yang sedang kita tinggali saat ini.

Apakah kira-kira dengan numpang tinggal disini, kita sudah menjaga dan merawatnya dengan baik? Tidak menyakitinya? Hmm.... Mari kita renungkan lagi... Sudah atau belum?

Kalau saya sih, jujur aja masih belum yakin udah bener apa belom. Kayaknya sih banyak belomnya yaaa daripada yang sudah... πŸ˜‚πŸ€”

Karena itu, kali ini saya pengen membahas tentang cara merayakan Hari Bumi Internasional yang bisa kita lakukan setiap hari, yakni dari sisi mengelola sampah. 

🌷🌷🌷

Teman, pernah dengar kata-kata "kebersihan adalah sebagian dari iman"?

Biasanya kalimat nasehat agar menjaga kebersihan ini menempel sebagai reminder di ruangan kelas atau bahkan di pinggir-pinggir jalan. 

Kalau sekarang sih mungkin jarang yaa, secara kita (kita??) kan sudah nggak sekolah lagi. 😁 Tapi dulu pas masih SD, seingat saya hampar di setiap ruangan kelas di sekolah pasti ada tulisan itu. Berkesan banget karena setiap hari pas masuk kelas pasti tidak sengaja baca. Hehe

Kalimat 'Kebersihan sebagian dari iman' itu bak kalimat mandatory di zaman saya buat memacu semangat bersih-bersih kelas karena disangka bagian dari hadits

TAPI... ternyata kalimat itu bukan hadis. ❕ 

Meski begitu, kebersihan memang hal yang sangat penting. Saya yakin semua orang dari berbagai SARA juga akan setuju. Iya kan?

Tapi sedihnya itu... Meski sudah tahu kebersihan itu penting. Masih banyak yang mengabaikannya. 

Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang keren. Bajunya branded, tasnya cihuy, gayanya kekinian, make-up juga on fleek banget. Sekali melihat itu kesannya cantik/ganteng dan classy. Dari bahasa tubuhnya juga kelihatan kalau pendidikannya bagus. 

Tapi apa?

Tapi habis pakai tisu sama makan-minum itu sampahnya dibuang sembarangan. 😯

Rasanya impresi saya yang indah dan tiba-tiba terhempas. πŸ˜”


Yang kenal saya pasti tahu, saya bukan orang yang clean freak seperti Levi di Attack on Titan. Jadi saya pribadi orangnya juga sebenarnya juga nggak bersih-bersih amat.

B aja gitu.

Saya dulu pas masih di asrama lebih dikenal sebagai 'penimbun sampah' karena sering merasa sayang buat buang-buang barang.πŸ˜‚

Pas pulkam SMF dulu, bahkan barang bawaan saya menuh-menuhi rumah mama. Wagelaseeehhh rempong banget masa 5 karton isinya buku semua. Belum lagi baju sama perintilan lain.  πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Kalau Abah sekarang sering bilang saya mirip sama Patrick karena kebiasaan numpuk barang ini. Untungnya, saya orangnya nggak terlalu hobi nonton Sponge Bob, jadi saya nggak merasa tersungging sama sekali. Saya ingatnya Patrick ya bintang laut yang lucu. Hahaha. 

Ya saya dulu pernah juga lah 'nakal' buang-buang sampah sembarang.

Duluuuu banget, pas masih SD.

Habis jajan marimas, pop ice, frutang atau jus ngeliat tempat sampah yang paling dekat penuh, ya sampah sendiri pun ditumpuk aja deketan sama keranjang tempat sampahnya yang penuh tadi. Ikut-ikutan temen yang juga begitu. πŸ˜—

Tapi makin gede, saya makin mikir, kayanya buang sampah begitu salah deh ya? Soalnya melihat tempat sampah yang lain kok kosong aja. Cuma tempat sampah yang deket sama mas-mas yang jualan jajan doang yang penuh.

🌱🌱🌱

Kalau melihat cara menangani sampah dari sisi keluarga, maka yang paling saya suka adalah cara Mama. 

Why? 

Karena Mama saya itu orangnya teratur banget, masalah buang sampah itu semacam ada template-nya.😁Kalau buat saya sebagai anak, beliau itu adalah single mother yang paling keren diatas muka bumi ini. πŸ’œ

Mama paling nggak bisa melihat ada sampah plastik atau cuma sekedar dedaunan kering berserakan di halaman kami, pasti ujungnya beliau bakalan bersih-bersih. Kalau kata kami orang Kalimantan, namanya itu "batimbun", sampahnya ditumpuk jadi satu terus dibakar.
(Sebenarnya pembakaran nggak terlalu bagus, tapi untuk saat ini masih efektif)

Mama dulu pernah cerita kalau waktu masih bocah, beliau menghabiskan masa kecilnya di Kandangan. Disana beliau tinggal di rumah nenek (Kalau saya manggilnya datuk) yang a la rumah Banjar.

Kalian tau rumah Banjar?

Itu loh, yang bubungan (atapnya) tinggi dan juga punya kolong rumah yang lebih dari satu meter.

Jadi neneknya Mama di Kandangan itu orangnya tipe yang sangat disiplin menjaga kebersihan lingkungan. Rumah boleh biasa-biasa aja. Makanan boleh cuma singkong rebus. Tapi kata mama, buat beliau, menjaga kebersihan itu adalah hal yang utama. Kolong rumah aja rutin beliau bersihkan, daun-daun bila sudah menumpuk banyak juga akan dibakar, udah deh soal lantai rumah, sehari bisa dipel beberapa kali πŸ˜†.

Praktis, karena kebiasaan  itu rumah beliau jadinya lebih kinclong daripada punya tetangga.✨

Zaman old, jarang ada orang yang begitu, kata mama.  Kalau ingat cerita itu, menurut saya sih, habits Mama buat bersih-bersih diturunkan dari Datuk ya, suka bersih-bersih.

Btw, nama anaknya Datuk (alias ayahnya mama) itu Barsih.
Mungkin karena saking cintanya beliau dengan kebersihan, ya? Hehe πŸ˜†

Nah, karena kebiasaan bersih itu mengakar sejak dari kecil, sampai sekarang Mama sudah pensiun bekerja, beliau jarang memanggil jasa potong rumput. Padahal rumah mama itu pekarangannya lumayan luas dan tanahnya juga subur. Jadi selain bunga dan pohon-pohon seperti kelapa, pisang, atau jambu yang sengaja ditanam. Gulma yang tumbuh juga luar biasa banyak.πŸ‚

Kalau sebulan nggak dipotong, bakalan cukup buat pakan sapi 1-2 ekor.

Eerr..  nggak punya sapi sih, ngira-ngira aja. 3 karung gitu cukup kan ya?
(Lalu diketawain yang beneran ternak sapi πŸ˜‚)

Dan yang saya kagum dari mama. Beliau nyaris nggak pernah memakai herbisida.

Kenapaaaaa??
Why oh why, kan gampang ya, tinggal semprot doang ntar rumput pengganggu itu juga mati sendiri.  Habis saya tanya, oh ternyata mama ingat pesan kakek untuk menghindari herbisida agar keseimbangan alam terjaga.  Nanti kalau pakai herbisida terus, tanah bakalan kehilangan sistemnya. Cacing di dalamnya mati. Kodok juga. Jangkrik juga. And so on, Ya intinya keganggu lah.

Soal menjaga kebersihan, Mama juga tidak pernah meminta saya buat harus begini begitu. Tapi dulu SMP saya beberapa kali membuang tisu keuar jendela, saya kena marah mama. πŸ˜‚

Jadi akhirnya sekalian keprogram buat nggak buang sampah sembarang lagi, meskipun itu cuma selembar tisu yang menurut kita gampang banget ancurnya.  

Apalagi kalau tentang buang sampah ke sungai. Iyuhhhh banget lah pokoknya.

A BIG BIG BIG NO!!!

Burung albatros yang memakan sampah.
Source: huffingtonpost.com

Saya kesal setiap kali melihat ada sampah yang larut di sungai. 

Yang pertama, saya kesal dengan yang membuangnya sembarangan karena merusak alam.😠

Yang kedua, saya kesal dengan diri sendiri karena nggak bisa bantu apa-apa. Palingan cuma bisa ngedumel rese, ikutan bersihin juga nggak. 😑

Ah, pokoknya entah kenapa saya bisa stress dan tiba-tiba ngedumel nggak jelas hanya dengan melihat sungai yang banyak sampahnya. 😡

Kalau sampah sisa buah atau sayuran dibuang masih oke, ntar juga busuk. Jadi unsur hara buat bahan makanan tanaman yang lain.

Tapi sampah plastik?
Perlu berapa lama untuk bumi menguraikan?


Dan ngomongin plastik, sebagai  emak pemakaian sampah plastik biasanya juga banyak yang berasal dari pospak alias popok sekali pakai. Betul kah? Kalau saya sih dari ini. Hehe...

Saya sendiri sebenarnya masih memakaikan pospak sesekali sama Syuna kalau pas lagi jalan-jalan. Soalnya gampang.

Daaan... Saya masih belum ketemu cara mengatasi sampah popok ini. Untuk saat ini, saya berencana buat beralih lagi ke clodi lagi untuk menggantikan penggunaan pospak tidur malam.

Masalah sampah juga jadi pokok ide dr. Gamal Albinsaid dengan bank sampahnya.


🚯🚯🚯

BELAJAR MENGELOLA SAMPAH DARI JEPANG

Kemaren buka-buka YouTube ketemu anak-anak Vlog keseharian anak-anak SD di Jepang. Menurut saya ada beberapa kebiasaan baik dari mereka yang bisa kita adopsi dalam keseharian kita.

Yups, kalau nggak bisa mengajak orang lain paling nggak kita dulu deh, anak-anak kita, keluarga terdekat kita. Pokoknya dari yang kita bisa mulai dulu ^^

Ini dia video yang saya tonton!



Jadi jam siang itu itu mereka dapat jatah lunch. Makanannya dimasak khusus sama bagian dapur sekolah dan nutrisinya juga udah di kalkulasi.

Meskipun bagus karena nutrisi si anak sudah diperhatikan oleh pihak sekolah. Tapi sepertinya buat mayoritas sekolah negeri akan sulit deh menerapkan sistem makan siang begitu (apalagi kalau setiap hari πŸ˜—). Soalnya sekolah disini kan umumnya nggak punya koki khusus atau bagian dapur sekolah, sekolah saya dahulu juga hanya ada kantin.

Beda negara, sistemnya juga beda dong ya. Jadi kita skip dulu soal meniru makanan di sekolahnya, skipppp...

Bagian selanjutnya adalah mereka juga dapat sekotak susu.

Naaaah... yang istimewa itu, habis mereka selesai minum susu, mereka nggak langsung membuang kotak kosongnya ke tempat sampah. Tapi lipatan kotak susu dibuka, terus dilipat rapi-rapi, habis itu dikumpulkan kolektif satu kelas, lalu dipack buat dikirim ke pusat daur ulang.

Saya takjub. Itu masih SD lho. Masih pada kicik-kicik, tapi udah bisa disiplin membuang sampah.

Malu sama diri sendiri. πŸ™ˆ

Jadi semakin nggak heran kalau Jepang jadi negara yang bersih dengan predikat ZERO WASTE TRASH.✨

Selain makhluk kecil yang sudah memahami konsep disiplin sampah. Saya juga pernah membaca tentang sistem buang sampah rumah tangga di Jepang. (Saya lupa blognya, tapi kalau nggak salah blognya itu yang punya emak-emak asal Indonesia yang ngikutin suami bekerja disana, saya lupa alamat blognya. Maaf ya 😬).

Nggg, seperti apa emangnya?

Jadi ternyata disana itu pembuangan sampah harus dipisahkan dulu jadi beberapa macam. Lebih kompleks daripada tempat sampah kita yang cuma  ada 3 macam (sampah anorganik, sampah organik, dan sampah kimia)

Membuang sampah rumah tangga di Jepang itu harus diklasifikasikan berdasarkan hari dan jenis sampah. Oh iya, sampahnya juga harus dibungkus dengan plastik khusus. Jadi, kita harus menyortir sendiri sampahnya dirumah, terus dibuang ke tempat sampah berdasarkan jenisnya.

Nanti, oleh petugas dari instansi terkait akan dipilah-pilah kembali, yang mana bisa didaur, yang mana yang akan dimusnahkan, dan seterusnya.

Kalau nggak patuh? 
Dikumpulin jadi satu aja gitu sampahnya? Kayak saya sekarang?

Ternyataaaa... petugas nggak akan mau ngambil tipe yang begitu. Jadi sampah kita akan ditinggalkan dan akibatnya ada sanksi sosial tersendiri. Apalagi kalau cuma kita doang yang begitu sementara yang lain taat.

Kan malu. πŸ™„

Nah, yang bisa kita jadikan pelajaran dari sistem pengelolaan sampah di Jepang ada beberapa poin ya, misalnya aja:

1. Mengajarkana anak untuk membuang sampah pada tempatnya sedari dini.
2. Lebih kreatif untuk mengelola limbah yang tidak berbahaya menjadi produk baru (daur ulang).
3. Taat membuang sampah rumah tangga ke tempatnya.
4. ... ada yang mau nambahin? hehe


🌴🌴🌴

HOW TO CELEBRATE EARTH DAY!

Lama juga ngalor-ngidulnya ya... *lap keringet.

Buat saya, daripada merayakan Hari Bumi sekali setahun dengan mengadakan acara ini-itu (yang habis acara selesai kadang sampahnya masih ketinggalan), lebih baik kita merayakan Hari Bumi setiap hari dengan cara yang sederhana, yakni dengan mengelola sampah yang pastinya kita hasilkan setiap hari.

How? Begini cara saya...

1. Membuang sampah (terutama yang terbuat dari plastik) pada tempatnya. Tidak ke sungai, ke selokan, ke pinggir jalan, atau ke pekarangan. 

Selain kotor dan nggak sedap dipandang mata, kandungan kimiawi dalam plastik bisa meresap dalam tanah dan mencemari air sekitar. Belum lagi tanah juga tidak bisa menguraikannya dalam waktu singkat.

2. Sampah organik yang masih bisa diolah menjadi kompos dipisahkan dari sampah yang tidak bisa hancur, sampah jenis ini nantinya bisa dipakai untuk menjadi media menanam. Lumayan buat pupuk :D

3. Membawa air minum sendiri atau kemasan yang bisa digunakan berulang kali (misal: botol minum, shopping bag) untuk mencegah kita memakai produk yang menggunakan kemasan sekali pakai. 

Kalaupun memang pakai kemasan sekali pakai, usahakan agar tidak langsung dibuang saat selesai dipakai atau jika sebenarnya masih layak pakai. Contohnya plastik kresek masih bisa kita manfaatkan buat menampung sisa sampah di poin 1 & 2.


4. Saat di perjalanan jangan dijadikan pembenaran untuk membuang sampah sembarangan. Cari tempat sampah dan buang kedalamnya. Jangan kesamping atau asal masuk ya!


Sampah di pendakian gunung Ijen. Foto gelap karena diambil saat subuh hari.
5. Buku/majalah di rumah bisa kita berikan untuk tukang loak atau jika sudah tidak terpakai dan kondisinya bagus disumbangkan saja pada yang membutuhkan.

6. Meminimalisir penggunaan bahan kimiawi untuk lingkungan kita.

7. Menerapkan prinsip reduce, reuse dan recycle. Untuk reduce, ini bisa kita terapkan untuk penggunaan air dan listrik juga ya ^^

Baca juga: Frugal Living Idea untuk Menghemat Penggunaan Air dan Listrik

7. Memungut sampah yang kita temui saat dijalan untuk dibuang dengan benar.

Minggu kemaren saya jalan-jalan ke bedengan gunung. Disana ada satu plang yang bagus banget. Selain buat menghimbau pengunjung membuang sampah ke tempat yang benar, juga mengajak untuk memungut sampah yang kita lihat untuk dibuang ke tempat sampah meskipun bukan sampah dari kita sendiri

Maaf yang namanya Lisa ya...

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raaf:56)
Yuk, kita renungkan sama-sama lagi tentang bagaimana kita membuang sampah selama ini. Kalau sudah sesuai, Alhamdulillah. Bisa dipertahankan sampai akhir. πŸ‘

Kalau kebiasaan membuang sampahnya masih belum tepat, bisa langsung kita rubah saat ini juga, sekalian kita ajarkan buat putra-putri kita supaya bumi yang kita tinggali ini nggak kecapekan dikasih racun melulu.  ❤

Saya juga masih berusaha nih, mari merayakan hari bumi dengan menjaga kebersihan bersama-sama.


We can change the world with our two hands

Disclaimer:
"Tulisan ini diikut sertakan dalam Blog Collaboration Female Blogger Of Banjarmasin"
2 comments on "Earth Day: Merayakan Hari Bumi Setiap Hari"
  1. Astaghfirullh kasihan sekali burungnya :(
    Saya kadang suka merasa bersalah seenaknya buang buang tisu padahal nge lap meja basah yang gak seberapa. Padahal bisa pake lap meja tapi karema deketnya tisu jdi asal ambil aja huhu :(

    ReplyDelete
  2. Lisa: Lihat Sampah Ambil Hihihi. Kalau anakku liat ini dy mungkin ga bs baca kepanjangannya. Alhasil bingung ada apa dengan lisa. :D keren lah mb leha bs didik anak kek gini buat cintai alam bumi. Btw, aku kok jd pengen jalan2 kehutan pinus ya. Cius nih, pengen banget. Ke bjb aja kali ya.. Hihi

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature