Sabtu, Januari 13, 2018

Pulang Kampung Ke Kalimantan. Travelling Kemana Enaknya?

Liburan telah tiba. Yeay! Bulan ini kami sekeluarga akhirnya punya kesempatan untuk pulang ke kampung halaman di Kalimantan. Rencana matang untuk pulkam ini sebenarnya baru muncul seminggu terakhir, sebelumnya kami sempat berniat untuk menghabiskan liburan dengan jalan-jalan di Malang saja. Kebetulan ada banyak sekali spot wisata kece disini yang ingin saya datangi.

Rasanya setiap sudut Malang penuh dengan godaan untuk didatangi. Hehe

Tapi nih, karena nenek yang dengan gencarnya menelpon beberapa minggu belakangan, kami pun pikir-pikir lagi.

Ah, iya, beliau pasti kangen sekali dengan Syuna, cucu tunggal beliau saat ini yang masih belum ada saingannya.

Saat nenek menelpon, beliau selalu menanyakan kabar Syuna dan juga tak ketinggalan pertanyaan seperti 'kapan Syuna pulang ke tempat nenek?'.
Kode keras, kan? Hihi

Dalam hati yang terdalam, kami sebenarnya pengeeen banget pulang.

Kami memutuskan untuk tinggal saja dan jalan-jalan sebagai pengisi aktivitas mengisi liburan. Lagian, kan mumpung di Malang, gitu lho. 😁

Iya, jadi awalnya kami nggak mau bangkrut beli tiket pesawat bolak balik, secara Syuna udah dihitung satu tiket dan masih belum sampe dua bulan pindahan ke Malang, eh udah masuk liburan perkuliahan dan kami udah pulang lagi ke Kalimantan. Lumayan kan harga tiketnya kalau penerbangan awal tahun gini 🙄

Teringat lagi resolusi saya di tahun 2018. Saya mau menabung lebih banyak tahun ini.

Dan saat saya memeriksa harga tiket.

Hmmmmmmmm, ini kok pada mahal semua yak? 🤔😂

Mencari Tiket Murah.


Sebagai emak irit, saya biasanya selalu membandingkan harga antara satu jasa pencarian dengan yang lainnya supaya dapat harga yang paling terjangkau. Biarpun cuma 10-50ribu, biasanya yang harganya lebih murah akan saya prioritaskan.

Lumayan, kan? Uang yang jadi selisih harga itu bisa buat akomodasi menuju bandara. Jadinya pengeluaran bisa dihemat. 



Saya meng-install beberapa aplikasi jasa pencarian tiket di smartphone saya untuk mempermudah pencarian. Jadi pas lagi butuh, was wis wos, langsung bisa saya cek satu-satu.

Seperti kemarin, saat sudah fix mau pulang, saya dan suami pun segera memeriksa smartphone. Siapa tahu ada tiket pesawat promo yang masih bisa kami pakai.

Dan Alhamdulillah, ada!

Dengan memakai voucher dari aplikasi Airy rooms, kami dapat promo potongan harga tiket pesawat sebesar 120ribu untuk beberapa transaksi tertentu yang saya lakukan.

Buat saya itu lumayan banget. Secara, dari bandara menuju rumah saya ke Tapin kan masih perlu biaya yang lumayan lagi.

Tips-tips mencari tiket murah seperti misalnya membeli tiket penerbangan pagi di hari kerja juga sudah kami terapkan lho, jadi udah maksimal banget deh kayaknya buat menekan harga ini.

Travelling di Kalsel. Mau Kemana?


Dan untuk mengobati sedikit rasa pengen dolanan di Malang yang batal. Maka saya akhirnya memutuskan untuk membuat sedikit catatan tentang beberapa tempat wisata di Kalimantan Selatan yang pengen saya kunjungi, Insha Allah bila sempat nih ceritanya 😁

Nggak banyak-banyak. cukup tiga saja tapi kemungkinan bisa dilakukan besar.

Kemana? Ini dia:

1. Amanah Borneo Park.

Lagi booming nih. Hehe

Tempat wisata yang satu ini sudah saya target sejak masih belum rame, tapi berhubung pak suami sedang banyak kesibukan pas pengen saya ajak, eh akhirnya saya nggak jadi-jadi kesini sampe sekarang udah ramai.

sumber: banjarmasinpedia

Paduan antara pemandangan hijau yang menyegarkan mata, wisata yang edukatif, dan tempat-tempat yang sangat instagramable bikin tempat ini langsung nge-hype. Katanya sampai ada wisata petik buah juga. Keren kan?

2. Bukit Palawan

Berjarak setengah jam dari Tapin, yakni di Kandangan. Ada Bukit Palawan yang menawarkan spot foto cantik berupa panggung dan gardu untuk berfoto-foto. Ya agak-agak mirip dengan Coban Rais. Namun lebih menonjolkan sisi hijau alami yang menjadi latar belakang pemandangan.

credit foto : IG mtma_tamianglayang


Saya juga pengen kesini. Jika memungkinkan, saya ingin mengakan Syuna ikut serta.

3. Mesjid Keramat Al-Mukarromah Banua Halat.


Diyakini sebagai mesjid tertua di Kabupaten Tapin. Mesjid yang diyakini sebagai kampung pembatas antara dua agama ini menyimpan banyak sekali cerita menarik dan juga hal-hal magis. Misalnya satu tiang utama yang masih kokoh bertahan sejak pembangunannya pada tahun 1840 (hampir 2 abad!) dan bejana keramat yang berasal dari dinasti Tsung.

Ah, hal terakhir membuat saya penasaran. Soalnya meskipun saya beberapa kali kesana saat ada acara Baayun Maulud, saya tidak memperhatikan sampai ke tajau (bejana) yang ada disana. ^^

sumber wikipedia

Ah, merunut tiga destinasi travelling diatas membuat saya jadi gembira dan bersemangat!

Soalnya karena domestik dan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah saya di Tapin, sepertinya bukan hal yang sulit deh untuk menyisihkan sedikit dana untuk biaya perjalanan.

Kan’ sebelumnya balik ke Kalimantan saya udah saving beberapa ratus ribu saat memanfaatkan tiket pesawat promo? Hehe...
Jadi masih ada sisanya meskipun sudah sipakai untuk perjalanan sepulang bandara kemaren. ^^

Yuk, happy travelling!
Minggu, Januari 07, 2018

11 Hal yang Saya Pelajari dari Drakor Go Back Couple


11 Hal yang Saya Pelajari dari Drakor Go Back Couple – Akhirnya, setelah lumayan lama nggak nonton drama Korea lagi pasca hebohnya Goblin. Saya menemukan juga drakor bikin saya penasaran. Iya, penasaran. Soalnya di WAG sana-sini bertebaran bujukan kalau katanya drama yang satu ini cocok buat yang sudah berkeluarga.

Ditambah lagi pas saya berselancar di Instagram, ada teman yang lagi anniversary pernikahan dan pakai quote dari drama Go Back Couple ini. 😁

Fix, penasaran maksimal deh saya jadinya. Hehe...

Dramanya tentang apa sih? Yeps, seperti judul blogpostnya, Go Back Couple!

Ceritanya soal sepasang pasutri (Couple) satu anak yang sedang mengalami masalah rumah tangga dan memutuskan buat bercerai. 

Terus kenapa jadi Go Back? Ya karena mereka ujung-ujungnya rujuk lagi~

Drama Korea satu ini mengusung tema time travel, jadi diceritakan kedua suami istri tersebut diberi 'kesempatan' untuk kembali ke masa muda mereka dan menjalani hidup mereka sejak baru mengenal. 

Nah, di sepanjang cerita masa muda mereka bertaburan banyak sekali life lesson yang bagus banget, terutama soal rumah tangga.

🏵🏵🏵

Sinopsis singkat

Go Back Couple/ Confession Couple (고백부부) berfokus pada cerita Choi Ban Do (Son Ho-jun) dan Ma Jin Joo (Jang Na-ra). Pasangan suami istri ini punya masalah masing-masing tentang partnernya.

Ma Jin Joo misalnya, sang istri ini merasa suaminya yang sekarang menjadi begitu pelit, nggak perhatian dan lebih mementingkan pekerjaan.

Jin Joo merasa lelah dan kelimpungan mengurus anak sendirian. Sebagai Ibu yang diceritakan tanpa ART, Jin Joo makan dan bahkan pup pun sambil mengurus anak. 

Oke, yang terakhir ini saya (dan ibuk-ibuk rumah tangga lainnya) juga pasti pernah merasakan ya?? 
Pas lagi enak makan anak nangis, pas lagi panggilan alam digedor-gedor 😂😂😂

Selain itu Jin Joo juga merasa nggak punya waktu untuk mengurus penampilan lagi seperti saat mudanya yang begitu stylish dan fashionable.

FYI, Jin Joo saat kuliah merupakan perempuan tercantik di fakultasnya. ✨

Setelah married, dia merasa penampilannya malah menjadi lusuh karena sibuk mengurusi rumah dan anaknya.

Hauuuh, scene yang menggambarkan kondisi ini juga bikin baper, saya jadi terbayangkan bagaimana kalau ada di posisi Jin Joo saat bertatapan dengan para gadis stylish dan dipandang dengan aneh karena penampilan yang acak-acakan, pas lagi bawa anak pula. 💔

Balik lagi ke pasangannya, Choi Ban Do, suaminya ini juga nggak jauh beda sama yang istri, alias sama-sama punya masalah. 

Ban Domerasa kalau istrinya yang sekarang seperti sibuk sendiri dan jadi pemarah. Ban Do juga merasa tidak didukung saat bekerja, padahal dia punya beban kerja yang segambreng. 🙁

Ban Do memang tipe pekerja keras, demi keluarganya dia melakukan apapun, termasuk melakukan suruhan ‘kotor’ dari dokter Park yang menjadi klien perusahaan farmasi tempatnya bekerja.

Sayangnya bagian pengorbanan tulus Ban Do ini luput dari perhatian Jin Joo yang sudah negatif duluan.  

💌💌💌

Seperti biasa, waktu nonton drama ini saya ngerayu suami supaya mau nonton bareng. Soalnya meskipun India lover, belakangan paksu semakin mau saya cekokin drakor. 😆


Oke deh, habis kami berdua nonton maraton drama ini dalam 24 jam. (Suami saya nonton maraton dari pukul 6 sore sampai jam 3 sore besoknya). Banyak banget hal-hal yang saya dan suami bisa jadikan pelajaran buat bekal berumah tangga kedepannya. 

Setidaknya, ada 11 hal yang kami pelajari dari drakor Go Back Couple.

Apa aja? Ini dia...


🎀 1.  Married is not easy 🎀

Diawal pernikahan, Jin Joo dan Band Do juga saling mencintai, mereka dimabuk asmara dan begitu bahagia.

Tapi, apa pernikahan segampang itu?

go back couple, drakor go back couple
via @kutipan.drama.korea

Tidak sodara-sodara. Apalagi kalau kelen terpapar tayangan dengan kandungan family goals begini-begini-begini, tidak akan gampang menyeimbangkan isi dua kepala. Banyak toh contohnya.

Menikah adalah menyeragamkan visi dan misi, kita nggak bisa menyamakan isi kepala. Karena itu nggak mungkiiiin.... Rasanya mustahil sampai kapanpun, kecuali cuci otak terus di doktrin.😂

Manusia kan beda-beda. Kembar identik pun juga punya perbedaan. Kalau cuma selera makan yang berbeda masih bisa diakali, tapi kalau cara berpikir kan jadinya lebih sulit.

Married is not easy. But every hard stuff will always bring us a big lesson.

Kalau lelah mengerjakan tugas akhir kuliah, perempuan maunya nikah aja supaya beban hidup kelar. Padahal salah besar~

Welcome to the jungle. 🐙

Jangan terlalu mengkhayal habis nikah jadi puteri raja. Habis menikah kita akan ditempa untuk meredam ego dan memahami banyak orang asing, ada mama mertua, bapak mertua, ipar, tante, paman, kakek, nenek, dan seterusnya. (Semakin keluarga besar, biasanya semakin kompleks 😂)

Jadi, menikah bukan perkara gampang. Meskipun baru 3-4 tahun menikah, saya juga merasakan kok. 

Entah ya bagaimana bila sudah 13 tahun (?) macam Jin Joo dan Ban Do ini. Tapi katanya sih yang sulit itu di 5 tahun pertama. Hehe


🎈 2. Hubungan yang Dewasa, Bukan Cinta Semata tapi Juga Penerimaan.🎈

Ah, basic banget ya kan buibu.

Women from Venus, Men from Mars. Then, why God send us to earth? To raising our family and children lah. Buat apalagi~

Laki sama bini itu kadang bisa jadi kebalikan, tapi ya begitulah adanya, saling melengkapi, saling menyempurnakan. 💕

Kelebihan pasangan kita jadikan pelecut semangat untuk menjadi lebih baik, sedangkan kekurangan pasangan kita jadikan ladang pahala untuk bersabar. Eaaa... 

Kenyataannya, terkadang kita malah meluapkan kemarahan kita justru pada orang terdekat yang paling kira sayangi.😶

Ban Do misalnya, dia sayang dengan Jin Joo, tapi justru memarahinya.

Sama dengan Jin Joo, dia menyayangi Ban Do, tapi malah membuat situasi semakin runyam dengan berbagai luapan emosi.

Mamam tuh cinta. 

Setelah bertahun-tahun menikah, kebanyakan dari kita nggak akan lovey dovey seperti newly wed. Hanya sedikit yang bisa mempertahankan romantisme macam Habibi Ainun.

"Hubungan kelak akan berjalan karena sudah dewasa dan bisa menerima serta memahami, bukan karena cinta semata lagi." Begitu kira-kira kata paksu yang mendadak bijak.

Ah, Long life drakor.



🌝  3. Peka Terhadap Keadaan Pasangan 🌝

Seiring waktu, ada sebagian perasaan kita yang luntur, dan ada bagian lainnya yang menebal.

Masih ingat dong, awal-awal nikah, selalu ngasih kabar, sebentar-sebentar manggil "yank...", sebentar-sebentar mesra cem lovebirds. 

Apa? Kalian nggak gitu? Ya anggap aja gitu deh.
*malah maksa*

Yang mana kalau jalan-jalan tangannya mesti saling genggam, mau AC sedingin apapun kehangatan mengalir lewat tangan kita yang saling meraba.

Pernah? Ingat?
(pembaca: NGGAAAAK 😂)

Tapi habis punya anak dan jadi sibuk, semua jadi terasa hambar, nyaris nggak punya quality time berdua buat pacaran, yang semula selalu menggenggam hangat, sekarang melenggang seolah tidak perduli dengan pasangan yang kerepotan di belakang.

Peka dengan kondisi pasangan bukan hanya sebatas menyediakan kebutuhannya doang, tapi memperhatikan kesejahteraannya.

Dari sini saya belajar, mungkin buat saya sebagai istri, mungkin saya bisa ngasih waktu buat suami berteman dengan teman-temannya, atau mungkin memberi izin sama aktivitas yang menjadi hobinya? misalnya main futsal, fotografi, modif motor, koleksi gundam.

Yah, asalkan nggak lupa waktu sama menguras jatah bulanan sih ya, Abah? 😜

Nah, kalau kesejahteraan istri? 

Perhatian dan kasih sayang, waktu me time cukup, budget centil cukup, uang shopping aman, setia, menepati janji dan bicara lemah lembut.
Hal-hal kecil begitu menurut saya.juga termasuk kesejahteraan.

Apaan hal kecil ya, itu semua penting. LOL



Atau nggak usah repot-repot, cukup sediakan waktu luang buat ibu-ibu untuk menikmati sedikit 'kemewahan' tanpa harus mengurus anak. Iya, sekali-sekali gantian deh supaya impas kan ya?

Emak memang sekolah pertama anak, tapi Kepala Sekolahnya juga wajib care dong sama kesejahteraan sekolah. 😏😁

Guru nggak sejahtera, gimana muridnya hayoloo

⭐ 4. Berkomunikasi yang baik. ⭐

Sometime, you need to say it loud.

Minimalisir kode dan katakan apa yang sebenarnya.

The ultimate problem is, kebanyakan perempuan (saya salah satunya) suka main kode a la anak pramuka. Ada masalah dikit, bukannya ngomong malah dieeeeeem.
Diemnya itu obviously ketahuan banget caper. 😂😂😂

Yang biasanya:

👨: "Ma masak apa hari ini?"
👩: "Masak tongkol balado sama urap, Abah mau dibikinin sambel kacang yang pedes lagi kayak kemaren? Stok ikan kita mau habis nih, besok Jagain Syuna ya? Mama mau kepasar pagi-pagi, nanti susah kalau siangnya Abah di kampus Syuna kelaperan, siang udah nggak ada paman dagang sayur lewat, kan besok hari jumat. Bla bla bla"

Menjadi:

👨: "Ma masak apa hari ini?"
👩: "Ikan goreng."

Serius, sedikitnya kata perempuan kata suami saya adalah indikator dia lagi senang apa nggak. 😂

Lagian, emangnya suami punya indera ke-6? Clairvoyance? Bisa telepati macam Pikollo?

Tidak, mereka manusia biasa.



Komunikasi dalam pernikahan Ma Jin Joo dan Ban Do juga adalah masalah utama. Masing-masing merasa terabaikan, Band Do setelah seharian bekerja keras kesana kemari, memuaskan para pelanggan obat dengan harapan karirnya lancar, lalu pulang ke rumah dalam keadaan emosional karena lelah.

Ban Do tidak berbagi sedikitpun cerita dengan sang istri karena tidak mau membebani.

Yang istri beda lagi, dia juga lelah seharian dirumah mengurus anak, Ibu-ibu rumah tangga dengan balita tanpa ART pasti mengerti perasaan ini.

Perasaan bertemu dengan tokoh yang oh-aku-bisa-mengerti-perasaan-ini dan merasa berempati karena sedikit banyak ada bagian yang bisa kita relate dengan diri sendiri.

Jin Joo merasa hidup suaminya tentang bekerja dan bekerja saja, tidak ada waktu untuknya, tidak ada kehangatan lagi, tidak ada perhatian lagi. 

Tidak ada cerita lagi. Hanya ketegangan.

Jurang ini akhirnya kian melebar, tembok penghalang perasaan mereka kian menebal dan puncaknya hilanglah sudah kepercayaan.

Hanya dengan satu kesalahpahaman saja, hubungan mereka berakhir.

Dan masalahnya memang di komunikasi. 
Karena komunikasi adalah k o e n t j i kelancaran sebuah hubungan.

👴 5. Mengunjungi Orang Tua dan Memperhatikan Mereka 👵





Saya pernah dengar adab di Korea tentang pernikahan kedua, jadi sesudah pasangan pertama tiada/cerai, maka harus ada jeda beberapa tahun dulu baru boleh melakukan pernikahan kembali.

Nah, di Go Back Couple ini ayahnya si Jin Joo menikah lagi sesudah ibunya meninggal baru satu tahun. Jin Joo kesal tanpa menyadari bahwa ayahnya melakukan itu karena kesepian.

Bagian ini juga bikin baper, saya jadi pengen cepet-cepet pulang ke tempat mamaaa... hiks

🎏 6. Tidak mengungkit-ungkit masa lalu. 🎏


Yang berlalu biarlah berlalu. Jangan diungkit-ungkit lagi, apalagi soal hubungan yang sudah berakhir.

Ada yang bangga pernah pacaran dengan Mr/Ms.Perfect sebelum menikah dengan pasangan yang sekarang?😎

Well, semanis apapun. Kenangan itu cukup disimpan dalam hati. Karena jika dibagi-bagi dan ketahuan suami atau istri jadinya makan hati.

Ditatap begini sampai meleleh
via soompi.com

Se-legowo apapun orangnya, jika benar-benar cinta so pasti dalam hatinya ada percikan bara cemburu. Masa udah berikrar atas nama Tuhan Yang Maha Esa masih aja menyimpan foto atau nge-stalk akun mantan?

Nggak lucu dong ya.
Makanya, hentikan kebiasaan burukmu itu, Amira. 

(PS: Jangan buru-buru merasa di stalking mantan yang udah nikah juga, siapa tau yang makai akun itu pasangannya yang lagi kepo LOL)


🍃 7. Tidak ada yang kebetulan. 🍃

“Kok kita bisa nikah ya?”

“Kok kamu bisa jatuh cinta sama aku ya?”

“Kok... kok... kok...”

Ya, panjang deh ceritanya kalau ngomongin keanehan dalam dunia asmara (((huek, dunia asmara 😂))). Saya sendiri juga pernah bingung kenapa dapat suami yang nerd gini, sementara saya sering masuk daftar remedial.

Kata Tere Liye, tidak ada kebetulan di dunia ini. Segala hal yang terjadi sudah ada yang mengatur.

Pertemuan kita, perpisahan kita, sampai-sampai sehelai daun yang jatuh dari pohon yang rimbun pun sudah ada diatur dengan rinci oleh-Nya. 

Masak iya sih, pernikahan kita yang penuh barokah ini berjalan ‘kebetulan’?

Semuanya jelas ada agendanya sendiri-sendiri, tidak ada yang kebetulan.

Meskipun tetep sih ya, pertanyaan macam "do you love me" itu selalu ada dalam satu purnama. Hahaha

🌵 8. Masalah untuk dipecahkan bersama. 🌵

Menyimpan masalah dalam rumah tangga itu seperti menyimpan sampah. 

Kalau nggak dibuang ya makin busuk, makin bau, makin nggak sehat.🙅

Dari kasus Ban Do, kita belajar bahwa istri juga sesekali ingin diceritakan bagaimana perasaan suami. Jangan cuma diam dan pasif soal diri sendiri. Siapa tau pasangan kita bisa membantu mencarikan jalan keluar.


Kasus dokter Park misalnya, setelah Jin Joo tahu dan ikut beraksi kan hasilnya case closed. Suami saya puassss banget melihat ending nasibnya yang mengenaskan. Hahahaha

Tukang selingkuh mah cocoknya emang dirajam, ya kan?
*langsung anarkis*

Ya begitu, kesetiaan adalah sesuatu yang mahal, maka jangan harap akan menemukannya dengan orang-orang murahan.

🌷 9. Masa muda hanya datang satu kali, use it well. 🌷

Go Back Couple hanyalah drama, ingat, drama.

Di dunia nyata mah nggak ada kesempatan buat balik lagi ke masa lalu. Apalagi buat memperbaiki hal-hal yang sudah terjadi.

Istilahnya nasi sudah menjadi bubur, tinggal nyari suwiran ayam, kuah kaldu, emping sama taburan kacang dan daun seledri supaya jadi hidangan enak. 🙆

Supaya yang jelek-jelek nggak bikin sakit hati, kita harus pinter menggali hikmah dan menyerap pelajaran.



Nah, kaya kata dosennya Jin Joo. Masa muda memang hanya kita lalui satu kali, jadi gunakan sebaik-baiknya, nikmati setiap momen hidup karena kita tidak bisa mengulanginya. Lakukan semua hal yang kamu mampu. Live to the max!

Meskipun saya nggak muda-muda banget lagi, bagian ini tetap mengajarkan bahwa setiap kesempatan hanya ada sekali, jangan disia-siakan.

Oke, bagian ini saya ngomong sama diri sendiri. 😬


🌱 10. Jika ingin menyerah, ingat alasan menikah dan ingatlah anak-anak. 🌱

Nah nah nah, bagian ini juga mengandung bawang.

Sebagai emak-emak. Membayangkan anak yang menjadi korban egoisme orang tuanya itu terasa perih-perih gimana gitu, masih ada luka yang basah dalam hati karena pernah menjadi korban macam Seo Jin –tapi tidak terselamatkan-.

Percakapan antara Jin Joo dan ibunya benar-benar ngasih quote yang luar biasa.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu rasakan. Tapi aku tahu satu hal, kamu bisa hidup tanpa bersama orangtua, tapi kamu tidak bisa hidup tanpa anak. Jangan menangis, kesedihan apapun yang kamu lalui, akan membuatmu kebal dan menjadi lebih kuat.”- seingat saya sih gitu.

Akhirnya ketemu sama quote emak-emak seribu drama ini
via @koreankolages

Masya Allah, brebes mili. Saya anaknya emang nggak bisa tersentuh dikit, nangis. 
Cengeng, baperan, apalah itu namanya.

Pokoknya adegan ini benar-benar mengandung bawang. Bikin perih mata! 😭😭😭



Another nohok scene
via @kutipan.drama.korea

11. Minum jus menyehatkan.

Ini sih nggak ada kaitannya sama rumah tangga ya? Tapi nggak apa-apa deh saya masukin juga soalnya paksu seneng ngeliat adegan ini. Hehehe

Jus kubis buat Ban Do, jus wortel parut buat Jin Joo.

Aish, jangan-jangan ini rahasianya kulit mereka nggak jauh berbeda padahal sudah 17 tahun menikah?🙄

Serius lho, perbedaan antara Jin Joo kuliah dan Jin Joo menikah kayaknya cuma baju yang lebih kusut, rambut yang acak-acakan dan juga sedikit mata panda. 

Tinggal beli baju, ke salon, pakai concealer dikit, kayaknya masalahnya bakalan selesai deh.
(Analisis sotoy emak wkwkwk)

🐞🐞🐞

Anu, panjang juga ya? *lap keringet*

Ngomongin drama Korea dengan tema divorce, drakor ini bukan kali pertama yang saya tonton, tapi yang kedua. Sebelumnya saya sudah nonton Cunning Single Lady yang sama-sama membahas tentang divorce and getting back together.

Yang lagi nyari drakor dengan tema serupa kayaknya bakalan suka juga deh sama Cunning Single Lady.

Saya sampe nangis-nangis lho nontonnya pas hamil, soalnya pas hormon emosional lagi tinggi-tingginya. Waktu itu nontonnya juga nyeret suami, dan anehnya dia bersedia, katanya aktor cowoknya mirip Teuku Ryan 😆😯

Jangan lupakan 2 sahabat super banyol~~ ^^

Nah, kira-kira segitu dulu deh ulasannya, dari 12 episode saya dapat banyak banget pelajaran berharga, minimal ya yang ada di list 11 hal yang saya pelajari dari drakor Go Back Couple di atas tadi. Bener-benerworth it begadang nontonnya. 😂

Kamu sudah nonton? Ada punya kesan khusus juga nggak? Atau rekomendasi drama Korea serupa?
Sharing yuk! 



.                   
Kamis, Januari 04, 2018

Dari Blog, Emak Menuju Sekretariat Negara (Bagian 2)



Baca tulisan bagian pertama disini dulu yaa...

Masukan sebagai Blogger...

Oke, sehabis kami 'ngomongin' Bapak Presiden dalam presentasi singkat kami. Selanjutnya kebagian saran & kritik sebagai blogger. Para tim TKP yang ada di ruangan sibuk mengetik poin-poin hasil FGD.

Saat kebingungan membuat slide, saya akhirnya meminta masukan dari beberapa grup Blogger yang ada di WhatsApp saya. Saya kira tidak masalah sekaligus mewakilkan aspirasi teman-teman blogger yang lainnya. 

Dan begini hasil rumusannya:

1. Tentang perpajakan.

Sudah tau kan kalau pajak buku itu dibebankan pada penulis? Semakin produktif dan laris penulis maka pajak semakin tinggi. 😶

Padahal juga sudah tahu kan dengan nilai baca di Indonesia bagaimana? Rendah sekali. 

Jadi sebuah ironi kalau menginginkan bangsa kita gemar membaca sedangkan untuk mensejahterakan para penulis saja belum ada upaya, padahal mereka menulis buku untuk bangsa.

Penulis-penulis keren seperti Tere Liye dan Dee Lestari menghentikan penerbitan bukunya lewat penerbit resmi bukan tanpa alasan, gambaran tentang hitung-hitungan pajak penulis bisa kita baca disini .

Polemik soal perpajakan buku sudah lama, bahkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer juga pernah melakukannya pada tahun 1957.

Zaman now, apakah akan tetap sama seperti 61 tahun yang lalu?

Poin perpajakan buku ini saya sampaikan dengan Bapak Sukardi Rinakit, dan dijawab akan disampaikan pada menteri keuangan, Ibu Sri Mulyani Indrawati (MenKeu) yang mengepalai instansi perpajakan. 

Sungguh besar harapan saya saat mendengarnya, meskipun dalam hati yang terdalam juga muncul harapan lainnya seperti mimpi akan adanya subsidi untuk para penulis agar karya anak bangsa semakin maju, namun cukup perpajakan ini saja yang dibenahi, saya akan sangat bersyukur. 

Karena artinya para penulis bisa berkaya dengan maksimal tanpa khawatir lagi soal pajak, dan juga artinya saya bisa beli buku-buku para penulis keren lagi. Yay!😍

Ngomong-ngomong nih, Bapak Sukardi juga seorang penulis, beliau kerap kali mengisi artikel di koran-koran ternama. Dan jangan lupa, profesi beliau adalah sebagai penulis naskah pidato Presiden, seperti pembukaan Konferensi Asia Afrika pada tahun 2015.

Duh, lama-lama saya nge-fans juga nih. 😁

Intermezzo.
Foto bersama ibu Lasmi yang awet muda.


2. Perlindungan untuk para blogger & anak.

Dari pemaparan mbak Pita, sesudah giliran saya presentasi, payung hukum yang menaungi blogger dan hasil tulisannya itu belum jelas. Misalnya masih ada kasus-kasus tentang blogger yang diseret ke ranah hukum karena menuliskan fakta lapangan (misal: Acho dan kasus apartemen). Juga adanya copy paste yang terjadi di kalangan blogger oleh media komersil, yang parahnya tidak melalui proses edit mendalam sehingga masih mengandung personal penulis aslinya, jadinya ya ketahuan banget lah kalau artikel yang nongol itu hasil dari tulisan blogger B, wong namanya ada kok tercantum di salah satu kalimatnya.

Padahal nggak ada ngasih referensi tulisannya dicomot dari sana (apalagi komisi). Lha, piye?

Hal tersebut dikatakan akan dijadikan masukan catatan untuk digodok kembali. Alhamdulillah. 😊

Selesai urusan copy dan paste, saya juga ngomongin tentang konten negatif di internet. Sebagai orang tua dari anak millenial yang akan mengisi masa depan negara tercinta (cia cia ciaa 😂), saya sadar sepenuhnya bahwa akan datang hari dimana anak-anak saya juga akan menjadi pengakses internet.

Agak khayal sedikit kalau saya mengharapkan akan adanya internet yang 100% aman. Namun mengingat belakangan sedang marak terbongkarnya gunung es sindikat pedofilia dan LGBT yang -naudzubillahi min dzalik- sangat mengerikan sistemnya. Saya kira perlu diadakan kampanye agar keluarga dan para orang tua di Indonesia semakin memahami tentang betapa berbahayanya internet jika di salah gunakan.🤔

Saya pernah menonton video singkat tentang wawancara Giring Nidji dengan tactical cyber crime Polda Metro Jaya tentang child porn yang menggurita di Indonesia, saya juga pernah membaca tentang pornografi anak di Indonesia yang banyak dipasok ke situs gelap internasional seperti deep web (sayang, saya lupa sumbernya).



Karena itulah saya sangat memahami dan mendukung kampanye perlindungan anak, seperti misalnya kampanye yang digagas oleh psikolog Elly Risman dan keluarganya.

Saya percaya, pemerintah dan instansi terkait juga sedang bekerja keras di belakang layar. Namun saya kira juga perlu diadakan edukasi pada masyarakat karena hal-hal semacam ini masih banyak yang belum tahu. 😊

3. Kebebasan Berpendapat, jangan lupa re-check!

Ah, saya berpikir petisi atau pelaporan situs dan komunitas tertentu juga harus ditinjau berulang dahulu sebelum melakukan reaksi. Hal ini saya ikut sampaikan terkait dengan petisi dari anonim yang tidak jelas sumbernya tapi yang mendukung itu banyak.

Yha, netijen zaman now, terkadang tersulut dengan hoax meyakinkan dan dengan mudahnya menggerakkan jemari.

Tapi saya percaya kok, semakin hari dengan adanya konten positif yang kita bangun pasti kelak akan ada hasil yang bagus. Mari selalu andalkan fakta, jangan terbawa persepsi dan lakukan check serta re-check! Begitu kalau saya boleh mengutip kata-kata Bapak Sukardi Rinakit. 😁


Bincang-bincang santai dengan Bapak Sukardi...


Sesudah habis presentasi, akhirnya Bapak Sukardi datang ke ruangan kami. Beliau meminta maaf karena sebelumnya ada kesibukan di tempat lain dan baru bisa menemani kami sekarang. 

Bapak humoris satu ini mencairkan suasana, sepanjang perbincangan kami ruangan terasa hangat dan sesekali kami tertawa mendengarkan guyonan beliau. Bapak Sukardi banyak bercerita tentang istana dan sisi humanis presiden, terutama Bapak Jokowi.

Yang mana saya baru tahu kalau Bapak Presiden makanannya dingin karena harus diperiksa dulu, Presiden yang juga pernah mengelabui ajudan demi makan makanan favorit, Presiden yang pernah menegur paspampres supaya tidak terlalu keras, dan masih banyak lagi.

Ingat paspampers, auto-ingat yang satu ini.😂

Kami juga mengungkapkan kembali hal-hal yang jadi pokok permasalahan di materi kami presentasi tadi untuk beliau dengarkan kembali.

Aih, keren memang beliau ini. Sehat terus ya, Pak!

Jalan-jalan di Kantor Sekretariat Negara dan Beli Oleh-oleh.

Setelah acara FGD selesai, Kami berempat ditemani Ibu Lasmi kemudian diajak melihat beberapa ruangan, disuguhi durian yang lezat sambil ngobrol-ngobrol ringan, juga melihat-lihat lukisan hasil karya anak negeri yang luar biasa menarik dan berseni tinggi. ☺

Kami pun sempat mampir di salah satu lukisan hasil karya terakhir salah satu pelukis ternama Indonesia.

No picture sama dengan hoax, begitu kata orang-orang.

Supaya nggak dibilang hoax, pastinya kami foto-foto dong. Meskipun kata Ibu Lasmi kami tergolong blogger yang nggak banyak mengambil foto saat di kantor Sekretariat Negara bila dibandingkan dengan para blogger perwakilan daerah lain.

Maklum, kami kan lou perofail. 
*ngaku-ngaku😂

Halo!

Saat kami sedang foto-foto, kebetulan Mbak Pita sedang menunaikan tugas sebagai Busui, sehingga nggak masuk frame foto.

Oh iya, saya juga baru tahu kalau dalam gedung sekretariat negara juga ada toko souvenir!




Dari penjelasan Ibu Lasmi, saya baru tahu kalau toko souvenir ini memang dikhususkan untuk para tamu negara membeli cinderamata. Di toko ini dijual berbagai barang mulai dari baju, pulpen, payung, jam, pajangan, bros, dan banyak lagi lainnya.

Saya memutuskan untuk membeli bros saja. Kebetulan saat itu peniti kerudung saya tercecer sehingga kerudung saya berantakan.
Saat bayar ke kasir, saya sekaligus minta ajari pramuniaga disana bagaimana cara memakainya.

Akhirnya saat keluar dari toko souvenir, bros itu menancap manis menghiasi kerudung saya.

Brosnya tadi ada di awal ya, berwarna kuning emas dengan lambang garuda pancasila dikelilingi dengan tulisan Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Saat melihatnya saya langsung suka! 💕

Berfoto di hall of fame para Menteri Sekretaris Negara.

🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Akhirul kalam, saya sangat respect dengan adanya event seperti ini. Setiap daerah dikirimkan perwakilan yang mana masing-masing memiliki beragam sudut pandang dan juga diminta masukan serta solusi. Siapa tahu, hal-hal seperti ini dimasa depan akan merubah Indonesia?

Suara rakyat yang benar-benar didengarkan adalah sebuah hal yang luar biasa di negara demokrasi yang sesungguhnya. Apalagi kalau ada action yang tepat terkait masalah rakyat. Benar, kan? :D

Indonesia, Negeriku yang Bhinneka Tunggal Ika.

Saya juga semakin bertekad untuk memberantas hoax, apapun jenisnya. Meskipun itu hoax membangun sekalipun. Hoax ya hoax. Berita bohong dan palsu untuk mengakali pembaca hanya dibuat oleh para penipu jahat. Dan cara saya mengatasinya adalah dengan berbagi lebih banyak konten positif yang membangun. 

Terakhir, pertahankan semua yang sudah baik serta selalu evaluasi diri dan kinerja, karena sejatinya yang konstan dalam hidup adalah perubahan. -Tidak ada sistem yang sempurna-, begitu kira-kira.

Selalu semangat, jangan pernah lelah mencintai Indonesia!


Rabu, Januari 03, 2018

Dari Blog, Emak Menuju Sekretariat Negara (Bagian 1)

Dari Blog, Emak Menuju ke Sekretariat Negara - “Selalu andalkan data dan lakukan check serta re-check” demikian potongan kata-kata Bapak Sukardi Rinakit saat pelaksanaan Flash Blogging di Hotel Mercure Banjarmasin bulan Oktober 2017 lalu.

Kalimat itu membekas kuat di ingatan saya. Melihat seorang bapak paruh baya yang doyan bercanda dan murah senyum ini tanpa segan-segan bersua dengan kami.
Hati emak satu ini begitu tergugah.

Jika saja hari itu saya memutuskan untuk tidak jadi ke Banjarmasin, mungkin saya tidak akan bertemu beliau dan mengikuti kegiatan Flash Blogging.

Jika saja hari itu saya memutuskan untuk tidak jadi ke Banjarmasin, mungkin saya tidak akan beruntung dapat menjadi salah satu pemenang lomba Flash Blogging.

Jika saja hari itu saya memutuskan untuk tidak jadi ke Banjarmasin, mungkin saya tidak diundang ke Jakarta dan berkesempatan memasuki kantor Kementrian Sekretariat Negara.

.......

Tunggu sebentar, tadi saya bilang Sekretariat Negara?

Ya, kali ini izinkan saya bercerita sedikit tentang saya yang berkesempatan memasuki kantor Sekretariat negara. 

Salah satu kantor penting pemerintah yang ada di Jakarta.

Pengalaman berharga yang saya sama sekali tidak pernah menyangka bisa mendapatkannya.


Jilbab miring, kacamata miring, yang penting eksis!😂

Saya, emak-emak.

Ibu rumah tangga biasa yang menulis suka-suka (meski maunya sih selalu bermanfaat 😬) ternyata punya kesempatan masuk gedung utama sekretariat negara dan mengikuti FGD (Forum discussion grup alias diskusi berkelompok) bersama Tim Komunikasi Presiden (TKP).

Wah, tentu hal semacam ini merupakan momen istimewa buat saya. Diminta presentasi dengan tema Presiden Jokowi di Mata Blogger Indonesia dan menjadi narasumber untuk menyampaikan aspirasi, It’s just way too good to be true! ✨

***


Perjalanan Menuju Jakarta...

Sebagai mama beranak satu yang selalu sepaket kemana-mana dengan si bocah, maka sesudah undangan dari Bapak Karjono (staf khusus kepresidenan) saya terima melalui email pada tanggal 12 Desember 2017. Hal yang pertama saya pikirkan bukanlah mau packing atau menanyakan tiket pesawat.

Tapi nanya sama suami tentang kegiatan kampusnya, bagaimana dengan Syuna? Siapa yang menjaga nanti? 🤔

Syuna sudah lulus ASI 2 tahun, jadi tidak masalah jika tidak dibawa.

Dan yang namanya rezeki, setelah memeriksa jadwal beberapa hari kedepan, suami ternyata punya beberapa jadwal praktikum. Saya pun kembali heboh mencari penitipan anak harian di Malang.

Maklum saja, saya baru saja pindahan ke Malang. Saat acara itu menjelang, saya baru kurang lebih sebulan menempati rumah kontakan. 

Saya juga nyaris tidak pernah menitipkan anak saya dengan siapapun sejak masih bayi di Kalimantan Selatan (selain dengan keluarga terdekat tentunya). Jadi ini semacam ‘pemanasan’ karena semakin mepet dengan tanggal keberangkatan, semakin heboh mencari tempat penitipan anak.   

Emak-emak lyfe emang rempong. Deal with it. ðŸ˜

13 Desember 2017. 
Alhamdulillah, saat saya sudah menunggu pesawat di bandara, saya menerima telpon dari suami yang menjelaskan bahwa dia sudah menemukan beberapa alternatif penitipan terpercaya hasil rekomendasi dari teman-temannya yang asli Malang.

Saya akhirnya bisa pergi dengan tenang

(pergi ke Jakarta maksudnya doooong... hehehe)


Karena pesawat yang saya tumpangi dijadwalkan berangkat dari Bandara Abdul Rachman Saleh Malang menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta mengalami delay, akhirnya saya yang awalnya direncanakan akan sampai sekitar 2 jam lebih awal daripada teman-teman saya yang berangkat dari Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin akhirnya tidak perlu menunggu lama lagi.

Tidak lama sesudah sampai, ikutan mengantri di WC perempuan yang super panjang dan kemudian mengambil koper. Saya mendengar pengumuman bahwa pesawat dari Banjarmasin baru saja mendarat.

Benar saja, tidak lama kemudian saya melihat Mbak Pita, Bang Jimmy, dan Mas Pujo datang menuju tempat pengambilan koper.

Sesudah semua barang dan personil Blogger Banjarmasin lengkap, kami kemudian memesan taksi dan menunggu sebentar sambil makan-minum, sekedar mengganjal perut sesudah perjalanan.

Buram juga nggak masalah, karena setiap foto punya memori masing-masing.

Sayangnya saya ini orang Indonesia asli, yang nggak afdhol kalau makannya nggak pakai nasi. Meskipun sudah makan 2 biji apel dan beberapa potong roti yang bareng dengan air putih plus teh hijau botolan. Saya masih merasa lapar. Dan karena itulah, sepanjang jalan menuju hotel saya banyak diam sambil pasang telinga mendengarkan pembicaraan teman-teman.

Karena.... saya lapar. (Iya, nggak ada yang nanya 😂)

***

Blogger Undangan Diminta Bikin Presentasi.

Sebelumnya via WhatsApp saya dikabari oleh Bu Lasmi dari TKP alias Tim Komunikasi Presiden tentang permintaan untuk presentasi dengan tema Presiden Jokowi di Mata Blogger Indonesia.

Pertama kali mendengarnya, saya ketar-ketir.

Presentasi?

Di kantor Sekretariat Negara?

Wah, apa nggak salah nih?

Kemampuan ngomong saya ini nggak begitu bagus. Skill saya ngomong ditengah orang banyak itu jelek karena saya orangnya pemalu, saya pernah menjelaskannya disini.

Pun kalau ditanya tentang pemikiran, atau semisal diminta mengenai masukan, saya pastinya punya.

Meskipun hanya IRT, rumah mertua saya nggak asing dengan topik politik. Arus informasi yang saya terima lumayan bagus meskipun hidup di kampung kecil yang buat mencari sinyal mesti naik ke loteng dulu. Hehehe.

Yang jelas sih, menurut saya sebagai warga negara zaman now, kita juga harus melek dengan situasi negara.
Dan sepertinya bapak Presiden Jokowi kali ini juga memahami itu. Untuk pertama kalinya ada event yang melibatkan blogger satu Indonesia begini, salut! 😎

Kita ambil sisi positifnya saja, berarti rakyat melalui suara blogger juga sudah mulai diperhatikan. 

Kalau nggak, buat apa event begini diadakan? 🙂

***

Hari H Menuju Kantor Sekretariat Negara!

Dengan hati yang dag-dig-dug-duer, di pagi hari tanggal 14 Desember 2017 saya akhirnya berangkat bersama mbak Pita menuju kantor Sekretariat negara dengan menggunakan jasa taksi online.

Jalan Majapahit adalah jalur masuk menuju kantor sekretariat negara, tanpa kami panjang lebar menjelaskan sepertinya pak supir juga sudah tahu :)

Emak Blogger dari Banjarmasin. Yang baju merah calon blogger masa depan,

Sesudah melalui pos penjagaan, kami berdua berjalan kaki mencari gedung utama tempat acara akan dilangsungkan. Mencari gedung utama ini lumayan sekalian olahraga pagi-pagi karena ternyata gedung dalam kawasan Sekretariat Negara ini nggak cuma satu, tapi banyak! 😯
Kami berdua kebingungan tanpa adanya guide. Hehe

Sementara itu Bang Jimmy dan Mas Pujo sudah lebih dahulu sampai karena berangkat lebih awal dengan berjalan kaki dari hotel Amaris tempat kami menginap. Maklum, kami para perempuan memang sedikit lebih lama ya :D

Begitu sampai di gedung utama. Disana sudah menunggu Tim TKP, seingat saya ada Ibu Lasmi Purnawati, Bapak Andoko Darta, serta Bapak Ariasa Supit yang berada di dalam ruangan tempat FGD hari itu dilaksanakan.

Dan kalian tau?

Ruangan tempat FGD ini diadakan adalah ruang kerja (alm) Bapak Soeharto, Presiden kedua RI. Wow!

Memang sih, saya tidak sempat merasakan bagaimana pemerintahan beliau dan hanya mendengar dari cerita saja. Tapi saya masih ingat dengan jelas perpustakaan sekolah saya saat SD penuh dengan buku-buku keren yang ada tanda tangan beliau, dan betapa bahagia saya membaca buku-buku itu! Rasa senang anak kecil pecinta buku yang nggak punya uang buat beli.
Nah, baper kan jadinya. 

Okeee, kembali ke topik...



Sesudah semua Blogger Kalimantan Selatan lengkap, FGD pun segera dimulai.

Yang mendapatkan kesempatan presentasi pertama kali adalah Bang Jimmy Ahyari.

Dalam presentasinya, selain membahas tentang Presiden Jokowi dan kebijakannya seperti lapor.go.id serta perubahan yang terasa beberapa tahun belakangan (contoh: pungutan liar di instansi menurun drastis).

Sesuai dengan bidang keilmuan yang beliau miliki yakni Apoteker, beliau juga memberikan pandangan dan beberapa masukan tentang kefarmasian, pemaparannya lugas dan padat. Saya sebagai asisten apoteker merasa satu suara karena beliau juga menjelaskan tentang permasalahan di dunia farmasi ☺

Berikutnya adalah Mas Pujo.

Beliau juga memberikan saran dan masukan seputar pemerintahan presiden Jokowi. Ada beberapa poin yang beliau sampaikan pada kesempatan itu, yang paling saya ingat adalah pemblokiran situs-situs tertentu di internet oleh pihak yang berwenang.

Selebihnya, beliau juga berbicara tentang kebudayaan Kalimantan Selatan serta berbagai macam kearifan lokal yang agak terkepinggirkan, dan beliau ini terjun di industri kreatif, industri kesenian tradisional Kalimantan Selatan seperti anyaman daun purun. 

Saya manggut-manggut, karena ada banyak hal yang saya ketahui dari materi yang beliau sampaikan, misalnya saja ada fosil gajah yang ditemukan di Kalimantan. Hal besar seperti itu sayangnya kurang publikasi karena tidak ada tempat atau media yang bisa digandeng, padahal itu kan luar biasa! 🙁

Ah, terlarut mendengarkan presentasi keren dari dua narasumber sebelumnya, tak terasa tiba giliran saya untuk mempresentasikan diri. 

Wah wah, semakin gugup karena presentasi yang saya siapkan tidak sedetail para bapak tadi.😅

Bismillahirrahmanirrahiim.
Baiklah, saya mulai!

Pertama-tama saya memperkenalkan diri.

Nama saya Zulaeha, saya dari kota Rantau, Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan, tempat tumbuhnya cabai Hiyung, cabai terpedas se-Indonesia raya yang sudah teruji dan dipatenkan. Tingkat kepedasannya mencapai tujuh belas kali lipat cabai rawit!

Sudah pernah nyoba?

Kalau belom, coba dong sekali-kali main kesini, dijamin acara makan sambal akan punya sensasi unik tersendiri. Bakalan mendesis lah pokoknya.
*promosi daerah sendiri... hihi 😁


Saya kemudian juga angkat bicara tentang pandangan saya tentang Presiden Jokowi. Berdasarkan dengan track record selama beliau terjun di dunia kepemerintahan, saya tangkap fakta bahwa karir beliau terus melejit pesat.

Buktinya setelah menang besar dalam dua periode pemilihan walikota Solo (2005-2012), beliau langsung menuju Jakarta, kota kapital Indonesia, dengan posisi sebagai gubernur (2012-2014). Saking cepatnya, hanya dua tahun dari lima tahun masa jabatan sebagai gubernur Jakarta. Beliau dicalonkan sebagai RI-1 dan terpilih bersama Wapres Jusuf Kalla pada November 2014. Saat ini beliau masih berstatus Presiden RI ke-7.

Potongan slide show saya saat presentasi

Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan. Dengan motto “kerja, kerja, kerja”, saya memiliki kesan beliau adalah pekerja keras. Hal serupa sering diucapkan oleh julak (kakak kandung ibu saya) yang berdomisili di Solo puluhan tahun terakhir, bila beliau sedang main ke rumah saya di Kalimantan biasanya pasti terselip cerita tentang walikota yang dibanggakan beliau, yakni Bapak Jokowi.

Sosok Bapak Jokowi yang sederhana saya tangkap dari beberapa media, ada artikel tentang koki pribadi beliau yang mengatakan bahwa camilan kesukaan adalah Singkong goreng dan ketela rebus.

Baik, bagian ini saya satu selera deh. Singkong goreng dikasih garem dan tumbukan bawang putih adalah salah satu nikmat dunia yang tak terdustakan. Apalagi hari sedang hujan dan ditambah dengan segelas teh panas. Amboi! Sepiring juga saya habis.

(Emak hobinya makan 😂)

Namun, kalau bicara soal pemerintahan. Menurut saya bagaimana?

Ya, yang pasti setiap presiden punya agenda masing-masing.

Saya sendiri belum memiliki kesan khusus tentang beliau. Saya hanyalah warga biasa, emak-emak pemerhati harga sembako di pasar dan juga seorang Ibu.

Sebagai warga negara, yang saya harapkan sederhana saja, semisal janji-janji yang pernah diikrarkan saat kampanye atau saat pemerintahan beliau ditunaikan tuntas sebelum masa jabatan berakhir. Juga tak lupa untuk menyelesaikan beberapa kasus korupsi besar dan mendamaikan sentimen agama yang ramai diperdebatkan belakangan ini. ☺

Aih, banyak ya request emak... 😁

Saya membaca sekilas brosur Nawacita yang dibagikan saat Flash Blogging lalu dan mengingat beberapa poin yang disampaikan Bapak Andoko Darta tentang kinerja Bapak Jokowi, seperti berikut:



Dan mutlak dalam sebuah pemerintahan itu ada pro dan kontra. 

Tapi, misalnya semua masalah ditimpakan pada pemerintah tentu lucu jadinya. 😅

Soal banjir misalnya, untuk mencegahnya maka kewajiban pemerintah adalah menyediakan fasilitas pembuangan sampah yang memadai, menyediakan drainase agar air tidak terperangkap dan menggenang, menanam pohon agar air mempunyai tujuan, hingga misalnya memindahkan pemukiman tepi sungai ke tempat yang layak.

Jika pemerintah sudah melakukan itu semua dan masih banjir juga.

Coba tengok diri sendiri, buang sampahnya bagaimana? Sudah sesuai belum? Jangan-jangan masih sering ‘nggak sengaja’ dilempar ke sungai? Ke selokan? 😏

Saya masih gagal paham dengan orang yang bicara koar-koar tapi nggak punya andil apa-apa dalam mengubahnya.

Tapi okelah, resiko menjadi pimpinan kan memang seperti itu ya? :)




Custom Post Signature

Custom Post  Signature