Sunday, April 22, 2018

Belajar Psikologi dari dr.Frost yang Jenius dan Rupawan



Awal mengenal aplikasi membaca komik online, Webtoon, pada tahun 2016an, aku benar-benar jatuh cinta.

Kala itu aku yang lama vakum dari dunia perkomikan membabat semua genre yang ada tanpa kecuali, baik itu komedi, slice of life, drama, fantasi, bahkan horor dan thriller. Dua genre yang biasanya kuhindari.

Maklumlah, mama muda satu ini me time-nya memang gitu, membaca komik. πŸ˜

Aku masih ingat webtoon yang kubaca saat pertama kali adalah The Sake of Sita, cerita time travel dengan sentuhan mitologi Dewi Kumari berwujud anak kecil di negara Nepal yang mengharu biru. 

Baru baca satu judul aja mata udah sepet, ceritanya mengandung bawang sih, bikin nangis! 😒

Tapi seakan tidak jera, berikutnya aku meluncur ke judul lain, Tower of God, Noblesse, King of Bath, Hive.

Ah, entah kenapa kebanyakan komik yang berikutnya kubaca mempunyai genre fantasy. Hehe πŸ˜†

Overdosis webtoon tema fantasi ternyata membuatku merasa bosan. Aku mulai mencari rekomendasi webtoon yang lebih realistis.

Saat itulah aku menemukan judul dr.Frost di salah satu forum.

Pertama kali membaca judulnya yang berbau medis, aku langsung merasa tertarik. 

Kenapa?

karena dari judulnya, sepertinya komik ini berkaitan dengan kesehatan, yang merupakan salah satu genre favoritku, like, I was working on that field too. So I can relate the situation. 😁

Sayangnya saat itu webtoon dr.Frost ternyata belum available di Webtoon regional Indonesia.

Aku yang baru saja bisa membaca di platform aplikasi Webtoon juga masih belum tahu bagaimana cara switch bahasa. Jadi ya udah, nggak baca deh.

Rezeki, berkat iseng dan kurang kerjaan kepo dengan menu pengaturan, aku pun mengutak-atik setting bahasa dan mengubah regional negara (salah satunya switch dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris).

Dan, voila!

Ternyata Webtoon yang tersedia juga berbeda! Waktu itu aku baru tahu kalau ternyata beda negara, komik yang available pun juga berbeda-beda πŸ˜†.

Bagi pecinta komik sepertiku, menemukan fakta begini rasanya itu senang banget, kayak ketemu barang bagus yang dikasih diskon gede... 
(Perumpamaan si emak emang random ya, harap maklum. hahaha)

Webtoon yang langsung menarik perhatianku tentu saja adalah dr.Frost.



Wew, ternyata dia duluan terbit di belahan dunia lain toh, bukannya di Indonesia raya. Pantesan nggak ketemu pas dicari kemarin-kemarin. πŸ€”

Tentang komiknya...

To be honest, kesan pertamaku adalah gambarnya biasa-biasa saja.  πŸ˜‚

Berbeda dengan manhwa lain yang biasanya memiliki teknik pewarnaan atau penokohan yang mendetail, di komik karangan Lee-Jeong Bum ini bahkan ada beberapa tokoh yang wajahnya terlihat mirip (di author box kasus persona -CMIIW-, komikusnya pun mengakui hal itu karena protes dari beberapa pembaca yang masuk). 

Tapi tunggu, jangan buru-buru underestimate. Hehe...

Okelah gambar nomor sekian, seperti halnya teknik Mangaka Detective Kindaichi yang IMHO wajah tokoh-tokohnya rada mirip. Keduanya punya daya tarik disisi lainnya.

Untuk cerita Det.Kindaichi mungkin lebih pada plot twist dan metode yang benar-benar out the box.

Sedangkan pada webtoon dr.Frost, lebih pada jalan cerita yang dibawakan dan juga psikologi terapan yang bisa kita lihat sehari-hari. 

Eh iya, meskipun ada unsur 'dr', tapi webtoon ini membahas tentang psikologi lho! πŸ˜‰


Alurnya yang smooth dan disertakan penjelasan yang gampang dipahami, bahkan oleh orang yang tidak memiliki background psikologi sepertiku, komik yang benar-benar menarik.✨

FYI, komik dr.Frost disusun bukan hanya berdasarkan riset pribadi oleh penulis. Tapi juga konsultasi kasus dengan para professor dari Universitas ternama yang berada di Korea. 

So, penjelasannya itu runut dan juga jelas karena ada pakar yang ikut memberi materi. (Meskipun best com Indonesia di bagian komentar isinya penjelasan istilah psikologi semua sih πŸ˜…)

Sebuah kiriman dibagikan oleh Zulaeha B.A Rozali (@syunamom) pada

Mmm, Mungkin kalian sudah pernah menonton film barat serupa yang berjudul 'Lie to Me'?

Nah, bisa dibilang konsepnya mirip-mirip lah, meski beda profesi tapi backgroundnya sama-sama psikologi. Keduanya baik Carl Lightman dan Frost sama-sama ahli menggunakan mikro-ekspression, yaitu ilmu untuk membaca emosi seseorang dalam tempo waktu 0,2 detik. 

Mungkin author keduanya sama-sama terinspirasi dari Paul Ekman, Ph.D, si bapak mikro-ekspresion.

WEBTOON YANG DIANGKAT JADI DRAMA 

Begitu mendengar kabar webtoon dr.Frost ada versi adaptasi ke drama, aku pikir pastinya akan sama persis dengan kasus-kasus psikologi di dalam komiknya. Jadi aku pun menunda-nunda nonton. 

Ya... buat apa gitu kan? Toh aku kan udah tau ceritanya gimana. LOL.

Penundaan ini berlangsung 2 tahun lebih. Bener-bener nggak niat nonton lah pokoknya mah. πŸ˜‚

Tapi karena lagi ada bonus kuota, bulan kemarin aku memutuskan untuk menonton beberapa episode.

Dan... Errr, rasanya kok beda jauh banget yak plotnya sama di komik?πŸ€” 

Diantara 10 episode yang ada, kasus yang sama paling hanya 1 atau 2 biji saja, itupun dikembangkan dengan plot yang baru dan memakai pemecahan yang sedikit berbeda.

Salah satu chapter yang nggak ada, yakni cerita wanita yang saat kecil menjadi korban ibu yang mengalami post-partum depression

To sum it up, dibanding dengan versi manhwa dr Frost yang memecahkan kasus gangguan psikologis sehari-hari, dramanya lebih pada genre detektif, murder, dan juga sedikit unsur thriller. 

Meskipun pada pemecahan kasusnya juga dijelaskan sedikit tentang gangguan/faktor yang menyebabkan pelaku melakukan kejahatan. 

Intinya kalau pengen yang damai-damai, baca komiknya.
Kalau ingin yang berdarah-darah, nonton dramanya.

Buuuuuut one thing for sure, brace yourself karena keduanya sama-sama minim unsur romance! 

Don't expecting too much laaah.. 😜

DETAIL TOKOH-TOKOH DI DRAMA DR.FROST




1. dr.Frost atau Professor Baek Nam Bong

Main cast, seorang pria ganteng yang memiliki otak jenius.

Sayangnya saat masih kecil dia terlibat kecelakaan parah yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal dunia serta cedera pada frontal lobe (otak depan) yang berefek dr.Frost kehilangan sebagian besar emosinya.

Kenapa Frost?

Karena orangnya dingin, kaku, dan rambutnya berwarna putih. Otaknya terlalu logis dan memandang segala sesuatu berdasarkan teoritis, wajahnya selalu datar.

Btw, meskipun bertitel Professor, judulnya masih menggunakan titel doktor... 😁

2. Yoon Sung-A.

Asisten dr.Frost di ruang konseling Universitas Yonggang. 

Memiliki kepribadian yang terbalik dengan dr.Frost, Sung-A bersifat ceria, hangat, perhatian dengan orang lain, dan emosional.

3. Professor Song sun

Ya, banyak professornya ya... haha

Prof. Song Sun adalah teman kuliah dr.Frost dan dempat naksir dengan dr.Frost, tapi akibat salah paham dengan sebuah kasus jadi benci setengah mati.

4. Professor Chun

Ayah angkatnya dr.Frost, sangat baik dan tipe dosen yang sepertinya akan disenangi para mahasiswanya.

πŸ“½πŸ“½πŸ“½



Dari komik dan dramanya (yang nggak saya nonton habis karena gak mau baper secara psikologis), banyak istilah gangguan psikologi yang baru aku kenali. 

Misalnya Smile Masker Syndrome, yaitu gangguan psikologis berupa selalu tersenyum di keadaan apapun, bahkan saat menceritakan atau mengalami hal-hal buruk. 

Mengingatkan kita pada  tokoh  Joker di  film Superman yang selalu tersenyum lebar, creepy, isn't it?




Gangguan ini dikemukakan oleh psikiater Jepang Makoto Natsume, ini biasanya diderita oleh orang-orang yang bekerja di perusahaan jasa yang of course, manner pada pelanggan itu selalu diutamakan.

Jadi, meski berada dalam situasi yang normalnya membuat seseorang marah, mereka harus meredam emosi dan menampilkan senyum semenawan mungkin karena membawa citra tempat kerja. 

So, intinya sih emosi seperti marah, sedih, khawatir, itu normal ya. Yang nggak normal adalah saat nggak bisa menampilkannya atau justru tidak bisa berlebihan menampilkannya.

Tentang resensi drama dr.Frost bisa kalian baca selengkapnya disini ya πŸ˜‰

πŸ“½πŸ“½πŸ“½

Beberapa yang saya pelajari dari komik dr.Frost, diantaranya:

1. Ruang tamu seseorang adalah bagaimana dia ingin dipandang, citra diri. 

Karena jejak perilaku bawah sadar kita pasti tertinggal disana.

Namun senyata-nyatanya ruang tamu, itu tetaplah sebuah pencitraan. Kamar tidur adalah tempat yang paling menunjukkan diri kita sebenarnya.

2. Anak-anak yang emosionalnya tidak terselesaikan/terabaikan cenderung mempunyai masalah kepribadian di masa depan.

Misalnya, anak yang tidak mendapatkan simpati dari orangtua saat kecil kebanyakan akan mencari simpati dari orang lain saat dewasa.



3. Orang yang tidak ingin membuka diri/menyimpan sesuatu biasanya akan  bicara dengan tangan terlipat (bersedekap) atau kaki menyilang. 

Coba, pas kesel diomelin misalnya, pernah memperhatikan nggak biasanya tangan kita pasti terlipat? Itulah bahasa tubuh.

Saat tidak ingin menerima sesuatu, tubuh kita juga akan menunjukkan 'defense' secara tidak sadar.


4. Jika berbohong, ada sikap natural yang akan dilakukan tubuh dan bisa dijadikan indikasi.

Misalnya:
🎈 Menggesekkan kedua jempol tangan
🎈 Mata yang sering berkedip.
🎈Meminta lawan bicara mengulang pertanyaan dengan nada yang naik.
🎈 Menutup mulut/bagian tubuh terdekat seperti bibir atau hidung. 

5. Ketertarikan seseorang bisa dilihat dari arah pusarnya.

Seseorang yang berkencan dan tertarik satu sama lain biasanya duduk berhadapan dengan pusar saling mengarah.

Tubuh bagian bawah (kaki) seseorang juga bisa dijadikan indikasi, bila kakinya mengarah ke letak pintu keluar saat kalian ngobrol.

Well, itu artinya dia pengen cepet-cepet pulang (alias dia bosen sama lu πŸ˜‚πŸ’”)

πŸ“½πŸ“½πŸ“½

Nah, segitu dulu yang aku ingat, kalau mau tahu lebih lanjut bisa langsung baca komiknya atau nonton filmnya aja ya, recommended kok buat nambah-nambah pengetahuan soal psikologi. 

Dan oh iya, untuk poin 3, 4, 5 itu  juga harus lewat pengamatan yang mendalam. Nggak bisa disimpulkan secara instan dari ciri fisik oleh orang awam. Tapi secara bahasa tubuh sih katanya begitu. πŸ˜‰

Saat ini sendiri webtoon dr.Frost memasuki penghujung season pertama dengan ending yang masih menggantung, dramanya pun demikian.

Aku tebak tidak lama lagi akan menyusul season kedua. Tapi karena sudah lumayan lama dan masih belum ada kabar terbaru tentang jadwal perilisannya, mungkin saja sang author saat ini masih mengumpulkan informasi dari ahli psikologi beneran, ya? 😁

Anyway, thanks for reading! Jika ingin menonton dramanya langsung search aja di internet ya, untuk versi manhwanya bisa kalian baca di aplikasi Webtoon ya.

Have a nice day! ^^
4 comments on "Belajar Psikologi dari dr.Frost yang Jenius dan Rupawan"
  1. itu betulan mau dibikin dramakah? wah keren kayaknya. aku dah lama nggak baca komik. terakhir komik yang kuikuti itu cuma princess

    ReplyDelete
  2. Keren lah ya bisa baca komik. Aku gak begitu lihai baca komik karena sering salah urutan ngebacanya. Duh.. Akhirnya kecintaan pada webtoon masuk juga ke blog. Hihihi

    ReplyDelete
  3. Nomor 2 ak setuju banget. Pernah mmbca bbrp kasus psikologis mmg bgt. Termasuk salah satunya kisah nyata dilingkungan sendiri. Hehe. Ak br tau loh dr. Frost ini. Jd mupeng mau baca n nntn dramanya. Selama ini ak tau ilmj psikologi keren pertama it waktu nntn sherlock holmes. Hihi. Trus lanjut ke gaya profiler kyk criminal mind. Rame emg kalau membahas psikologi ini ya..:)

    ReplyDelete
  4. aku malah ga terlalu suka sama komik ttg kesehatan πŸ˜… anaknya cuma mau yg romance kalo bacaan. wkwkwk

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature