EbMBK9LV3U2J5pqb5aBuXdjmVrgXJ3azcHngXLqi

Report Abuse

Mengatur Jarak Kehamilan Pertama dan Kedua

Kapan nih hamil anak kedua?

Dunia nggak ada habisnya. Kelar anak pertama, maka pertanyaan berikutnya adalah: kapan nih anak kedua?



Pertanyaan semacam ini sudah aku terima sejak Nuy belajar merangkak, saat Nuy masih belum genap satu tahun. Bayangkan…

Sejujurnya, aku berterima kasih karena itu artinya mereka kan ada perhatian dengan keluargaku, dan intens orang itu saat memberi saran juga baik-baik. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untuk marah. Pertanyaan itu menurutku hanyalah basa-basi yang masih manis. Jadi ya santai sajalah, tidak perlu buang-buang emosi.

Chill, mama.

Tentang Jarak anak Pertama dan Anak Kedua

Sebuah nasehat kecil yang kubuat untukku diri sendiri: Saat teman-teman sebaya sudah hamil anak kedua, kita para emak beranak satu tidak perlu merasa panas hati dan mengambil tindakan berupa action langung mengadon tiap hari.

‘Membuat’ anak itu mudah, namun sekali Allah menitipkan amanah untuk menjaga dan membesarkannya, itu adalah tanggung jawab yang luar biasa besar. Tanggung jawab itu tidak hanya di dunia saja, tapi juga nanti di hari akhir.

Nasehat itu kudapat saat melihat kehamilan orang-orang di sekitarku. Aku menyadari kalau ternyata perencanaan jarak anak itu sangat berpengaruh pada pendidikan anak di masa depan. Karena dengan jarak kehamilan yang tepat pula, maka fisik dan psikis Ibu bisa ‘waras’ dan kebutuhan anak bisa tercukupi dengan baik.


Porsi terbesar pelajaran ini kudapat dari Mama, yang merupakan seorang guru SD dan juga single mom yang bertahun-tahun membesarkan kami, ketiga anaknya, dari kecil sampai kuliah dan bekerja. Terlebih karena kami bertiga kuliah di bidang kesehatan, biaya sekolah kami lebih ekstra. Gaji guru sebelum ada sertifikasi dan sedang masa krisis moneter tahun 90an bisa di googling. Sampai hari ini aku masih terkagum-kagum dengan manajemen keuangan mama yang nyaris tanpa cacat.

Kalau dipikir-pikir lagi, seandainya Mama dua-tiga puluh tahun yang lalu tidak berpikir kedepan tentang jarak kehamilan serta pengasuhan dan pendidikan kami bertiga. Jauh-jauh beruntung lulus jadi PNS, kami bisa saja berakhir di pernikahan bawah umur atau hidup luntang-lantung sebagai anak broken home, tanpa pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk membiayai keluarga.

Namun sungguh, Allah Maha Baik. Kami memiliki Mama begitu tangguh dan berhasil mendidik kami. Kami tanpa Mama bukan siapa-siapa, sungguh.

(Kalau sudah bicara soal mama bawaannya mellow dan jadi baper sendiri. Yah, pokoknya di bagian ini pengen nyanyi penggalan lagu Kids-nya Rich Brian: Shout out to my mother, gave birth to three winner)

Nasehat Mama untuk Merencakan Anak Kedua

Saat Nuy masih kecil, mama adalah orang yang paling sering mengingatkanku tentang pentingnya kontrasepsi. Mungkin karena beliau tahu aku adalah anaknya yang paling pelupa, ditambah lagi dengan  kehamilan pertamaku yang diluar planning, jadi beliau sangat amal peduli dengan kontrasepsi apa yang aku pakai dan keteraturanku menggunakannya.

Ini berkaitan lagi dengan mama dan alergi beliau dengan kontrasepsi.

Yup, pernahkah kalian mendengar orang yang tidak cocok dengan pil KB kontrasepsi?

Mamaku adalah salah satu orang tersebut. Kata beliau, meskipun sudah berganti-ganti merk pil KB, endingnya tetap sama: mual dan muntah. Hal ini membuat beliau tidak leluasa dalam menggunakan kontrasepsi.

Baca juga: Pengalaman Suntik KB

Makanya, begitu Mama tahu aku fine-fine saja menggunakan pil KB, beliau cerewet sekali mengingatkanku setiap hati tentang jadwal minum pil KB, apalagi dengan dukungan kakak perempuanku, Mama menjadi lebih vocal lagi dalam memberi nasehat.

Nasehat yang Mama ulang-ulang kurang lebih seperti ini; anak bukan kompetisi, anak itu tanggung jawab sampai dia besar. Jangan menyepelekan anak.

Sampai hari ini nasehat-nasehat beliau masih aku ingat. Nasehat beliau ini mungkin juga mempengaruhi pola pikirku sehingga aku menjadi tidak menjadikan anak kedua sebagai goals dalam pernikahan yang masih muda.

Bicara Jarak Ideal Anak Pertama dan Kedua

Untuk kedua kakakku, jarak anak pertama dengan anak kedua rata-rata hanya dua tahun.

Untukku sendiri, dengan berkah berupa rahim yang subur dan sejarah kehamilan pertama yang conceived saat lengah menerapkan kontrasepsi coitus interuptus. Aku memang harus lebih disiplin dengan kontrasepsi.

Jangan salah paham, meskipun kehamilan pertama terjadi sebelum kami mempersiapkannya dengan matang, kami dari awal memang menginginkan anak. Kami berdua tidak menyesal dengan kehadiran anak pertama, Allah yang Maha Mengatur dan Maha Mengetahui seakan mempersiapkan Nuy menjadi kekuatan di masa-masa sulit kami.

Sebenarnya anak pertama kami planning ,nanti sesudah aku menyelesaikan study tour, alasan menundanya kehamilan waktu itu cukup sederhana, yakni karena dalam jangka waktu itu aku harus mengikuti study tour kampus keluar daerah dan selalu berpindah-pindah tempat karena kunjungan industri farmasi dan pengolahan jamu yang menjadi konsentrasi ST tersebar dari Jawa Timur – Bali – dan Lombok. Namun Qodarullah, ternyata aku positif hamil 5 minggu lebih awal dari rencana, dan Alhamdulillah semua berjalan baik tanpa ada hal yang dikhawatirakn terjadi.

Jarak Anak Pertama dan Kedua Menurut Islam

Nah, berapa sih idealnya jarak anak pertama dan anak kedua kalau  menurut Islam?

Aku coba googling di internet. Keluar hasil kalau menurut AL-Qur’an, jarak minimal anak agar terselesaikan haknya adalah 30 bulan. Kalau dirunut berdasarkan ilmu Kesehatan, jarak ini setidaknya sudah cukup untuk menunaikan ASI ekslusif 6 bulan dan ASI sempurna sampai anak berusia 2 tahun.

Ini minimal loh ya.

Jadi, Kalau Ditanya: Kapan Nih Hamil Anak Kedua?

Mengingat sekarang usia Nuy sudah 5 tahun lebih, fase menyusui dan bayi Nuy sudah terlewat dan pertanyaan ini sepertinya sudah layak untuk dipikirkan jawabannya. Dengan kondisi yang sekarang Insya Allah kami lebih siap dan stabil dari berbagai sisi.

Meskipun kami baru tahu sesudah memeriksakan letak IUD, kalau rahimku ternyata tergolong dalam jenis Rahim retrofraksi yang memiliki chance kehamilan berbeda dari Rahim normal, aku tetap yakin kalau memang rezeki anak kedua akan diberikan Allah jika kami berusaha dan mampu untuk menerima amanahnya. 

Semoga diberi kelancaran untuk kita semua!




Related Posts
Zulaeha Achmad
Blessed Wife & Mother. Blogger. Podcaster. Tea Drinker. Devoted Manhwa Reader.

Related Posts

Post a Comment