Sunday, May 05, 2019

Semakin Bersyukur dengan Membuat Jurnal Rasa Syukur (Gratitude Journal)


Semakin Bersyukur dengan Membuat Jurnal Rasa Syukur (Gratitude Journal) - Salah satu pelajaran berharga yang saya dapatkan saat mengikuti workshop Lactogrow di bulan November tahun lalu adalah pentingnya mencatat hal-hal kecil yang kita syukuri setiap harinya. Sama seperti halnya saya sewaktu pertama kali mendengarnya, saya pun juga bertanya-tanya, buat apa sih hal seperti ini dicatat? 

Nah, di workshop itu psikolognya berkata kalau rasa syukur ini berkaitan erat dengan self-esteem. Sebagai perempuan, ternyata kita ini cenderung lebih perasa dan mood swing daripada para kaum adam, terlebih bagi yang sudah menikah, perasaan negatif seperti 'perasaan tidak berharga'', 'cemas',  atau 'insecure' ternyata lebih banyak menghinggapi para ibu. Penyebabnya tentu bervariasi, namun salah satu muaranya adalah kurangnya bersyukur pada hal-hal dan pencapaian kecil.

Yup, sadar nggak sadar saya pun juga mengiyakan saat ibu psikolog menjelaskan hal ini. Dulu pas masih SMK, mendengar satu lagu favorit saja rasanya mampu membangun mood bagus seharian, Sekarang? Wadidaw. Saya juga jadi bingung dengan diri saya sendiri. Jelas bukan poin menjadi Ibu yang bikin saya begini, tapi manajemen emosi saya yang kurang baik. Fix, karena itu saya harus melakukan sesuatu sebelum saya benar-benar dilekati perasaan negatif sepanjang hidup saya. 



Belajar dari workshop itu, saya pun merasa kalau saya harus mewujudkan self-love dengan memanfaatkan media jurnal Bahagia aka Gratitude journal ini. Untuk saat ini masih belum sempurna sih penerapannya karena saya baru konsisten menerapkannya selama 3 minggu terakhir ini, tapi ya lumayan lah efeknya...


Soalnya  sejak Agustus tahun lalu, saya struggling menghadapi mood yang sering kacau, meskipun saya masih sering menggunakan kata seperti 'wkwkwk' ':D' 'hehehe' atau semacam itu saat chatting dengan teman-teman. Tapi perasaan saya yang sesungguhnya benar-benar seperti lagu Nobody-nya Mitski yang seperti orang depresi.


Yah... perasaan semacam ini mungkin ada hubungannya dengan saya yang sedang menjalani hubungan LDM dengan suami. Sendirian, kesepian, gak ada teman sharing karena sudah terbiasa bareng-bareng terus bertahun-tahun. Jadinya sekali ketemu lagu mellow ya begitu, auto baper. Berasa macam anak muda yang bisa mellow, padahal jadi mamak kan harus keep strong karena harus jadi pengawal si kecil :')


Manfaat Jurnal Syukur


Bagi saya, adanya dokumentasi perasaan positif di Jurnal Syukur ini seperti membekukan rasa syukur yang kita tampung seharian, sekaligus membuang momen-momen berat yang juga saya rasakan di hari yang sama. 

Saat saya menulisnya di malam hari, saya seakan diajak untuk recall kembali apa saja hal yang sudah kita lakukan selama seharian ini dan mencari celah untuk disyukuri. Rasanya... hmmm, selama seminggu ini lumayan ya. Saya jadi less negative, meskipun saya tau saya masih negatif sih.

...tapi ya berkurang sekitar 40-60%?

Lumayan banget ngurang-ngurangin mood jelek. Mungkin kamu juga harus coba selama 10 harian agar tahu bagaimana efeknya.

Baca Juga: 5 Hormon yang Membuat Kita Bahagia Sebagai Orang Tua (Dan Manusia Biasa)

Ada penelitian ilmiah terkait hal ini? Oh, ternyata ada juga dong.

Jadi berdasarkan penelitian American Psychologist, ternyata menulis jurnal rasa syukur ini menunjukkan hal yang  positif, yakni orang yang setiap harinya menuliskan paling sedikit 3 hal yang disyukuri secara berkala, akan lebih bahagia dan less depression, serta tubuhnya lebih kuat untuk berolahraga dibandingkan saat sebelumnya.

Wah, luar biasa ya!  :D

Cara Membuat Jurnal Syukur.


Nah, untuk membuat jurnal syukur ini sebenarnya sederhana sekali. Modalnya cukup dengan kertas (bisa notebook atau buku harian biasa), dan pulpen.

Saya menghindari menulis di smartphone/gawai karena menurut saya feel-nya berbeda antara tulisan di gawai dengan tulisan tangan sendiri, tapi itu sih saya ya, kalau kamu fine-fine saja dan merasa efeknya sama ya nggak masalah. Monggo langsung dieksekusi. 

Oh iya, poin yang saya tulis pun terkadang terdiri dari beberapa bagian, misalnya begini :

Hal-hal yang disyukuri


Pertama dan utama, saya menulis poin-poin untuk disyukuri, jumlahnya bebas,, namun yang pasti seburuk apapun hari itu, pokoknya harus ditulis satu hal yang positif dan membuat hati jadi lebih lapang, misalnya:

✨ Anak berhasil makan sesuai porsinya tanpa sisa (kalau nambah malah lebih bagus lagi),
✨ Paman sayur langganan membawa kue tradisional kesukaan kita,
✨ Pas belanja ikan ketemu udang dan cumi segar dan bisa bikin tom yam yang sudah lama pengen dibikin.
✨ Cucian berhasil kering dijemuran, nggak kehujanan
✨ dll

Quote favorit


Quote ini juga bisa jadi salah satu alternatif mengisi Jurnal rasa sykur. Quote yang saya tulis tentu yang bermakna positif dan menimbulkan rasa semangat di hati. Tsaaaahhh... hahaha

Inspirasi quote ini bisa kita dapatkan darimana saja, entah itu dari akun instagram, yang biasanya banyak akun quote motivasinya, dari buku favorit yang lagi/pernah dibaca, ataupun dari film kesukaan yang kebetulan line percakapannya menohok ke diri kita. 

Bebas, make it your own gratitude journal yang nggak ada sama-samanya dengan milik orang lain ^^

Ayat Favorit


Yang ini juga optional sama seperti quote. Ayat Al-Qur'an biasanya saya ambil dari terjemahan saat tilawah atau saya petik random saja dari kitab suci. 

Hal yang perlu diperhatikan kalau memasukkan Poin ini adalah jurnal rasa syukur yang kita tulis tidak boleh diletakkan sembarangan karena memuat ayat-ayat suci. Harus khusus ya!

Hal yang Dipelajari Hari Itu 


Meskipun bagian ini agak jarang saya tulis, tapi Poin ini terkadang juga saya masukkan, terlebih di hari istimewa atau momen khusus. Tujuannya agar hal kecil tapi mendetail bisa saya 'kunci' dalam tulisan. Kalau kamu sudah punya jurnal harian, hal ini bisa dipisahkan dari Gratitude Journal saja agar lebih ringkas.  

🌷🌷🌷

Nah, rasa syukur ini emang sedikit tricky ya, perlu waktu untuk bisa mengumpulkan essensi syukur yang sebenarnya. Apalagi kalau kamu sebelumnya tipe yang negative, kalau dihubung-hubungkan sama tulisan saya yang ini sih, emang harus ada spare waktu ya ^^

Semoga bermanfaat! 

8 comments on "Semakin Bersyukur dengan Membuat Jurnal Rasa Syukur (Gratitude Journal)"
  1. Kok seru ya keknya punya jurnal syukur ini jadi kita juga jadi tau hal positif apa yang sudah kita lakukan dan apa yg belum kita lakukan. Jadi pengen buat deh.

    ReplyDelete
  2. Aku baru tau nih. Ternyata selain jurnal : goals hidup, tapi perlu jurnal syukur juga ya. Bermanfaat banget mba artikelnya. Nambah pengetahuan kalo mood itu juga tergantung pada ‘syukur’. Hal kecil, tapi dampaknya luar biasa.

    ReplyDelete
  3. Habis baca ini lisa jd tertarik jugaa bkin jurnal syukur, bner kt mba leha stelah mnikah mood bs brubah ky ad prasaan cemas dll, smoga kedepannya bs less depresion hehe

    ReplyDelete
  4. Mbak Leha, minta lampirkan foto2 gratitude journalnya dong. Mupeng mo bikin jg. Bagus ky nya utk kesehatan mental.

    ReplyDelete
  5. Mirip-mirip bikin buku harian jaman dulu ya, berasa pengen beli buku harian ah nanti. Wkwkk..supaya aman, beli yg ada gembok nya. Karena biasanya kita2 mak2 ini, paling tinggi tingkat stress nya, kalau gak dikeluarkan uneg2 nya bahaya nanti coba bikin journal juga ahh

    ReplyDelete
  6. aku penasaran dengan bentuk jurnalnya nih, leha. kemarin juga aku sempat beli buku gitu buat mencatat beberapa hal yang berasa penting eh sampai sekarang belum terealisasi

    ReplyDelete
  7. melatih bersyukur dalam keseharian, karena kadang kita ngeluh ini dan itu tapi lupa kalo ada bahkan banyak yang harus disyukuri dalam hidup ini.

    ReplyDelete
  8. aduuuuh, jadi pengen buat mbaaaak.
    biar diri ini gak ngeluh dan selalu bersyukur :D


    salam,
    rizkyashya.com

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^