EbMBK9LV3U2J5pqb5aBuXdjmVrgXJ3azcHngXLqi
EbMBK9LV3U2J5pqb5aBuXdjmVrgXJ3azcHngXLqi

Bagian dari Komunitas:

Bookmark

Surat Untuk Manuy Satu Tahun yang Lalu

Setiap tahun kita menghadapi masalah. Entah itu masalah lama atau baru, masalah yang terjadi karena perbuatan kita sendiri, ataupun masalah yang datang untuk menempa kualitas diri kita. Hidup selalu punya 'kado' di setiap tahunnya.

Satu yang jelas, hidup tahun berapapun dan usia berapapun selalu ada masalah. Bedanya mungkin hanya pada kadar kesulitannya saja. Semakin tua dan dewasa, hidup menjadi semakin kompleks dan masalah-masalah rumit pun akan mulai say hello dengan kita.

So, how's life, dear?


Jika ada yang bertanya seperti itu tahun kemarin, maka aku cuma bisa tersenyum.

Hmm. Mungkin rasanya seperti dimatangkan dengan paksa layaknya keripik yang masuk dalam oven dan dikeringkan dengan suhu panas tinggi waktu singkat, meski seharusnya dijemur kontinyu beberapa hari dibawah panas terik matahari.

Well. Pretty hard, I guess.
(Iya, analogi yang unik tapi itu yang pertama kali terpikirkan, maaf ya kalau dibaca agak unik )

Sejak tahun 2019 akhir, aku naik roller coaster kehidupan dan terlambat memasang sabuk pengaman. Rasanya melayang dan mabuk darat. 

Tapi menurutku, dengan semua kesalahan dan kebodohan yang dilakukan di tahun itu, seyogyanya akan membuatmu, iya kamu, diriku sendiri, menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kata pepatah, keledai pun tidak akan mau jatuh dua kali ke dalam lubang yang sama. Jadi di sisa umur yang nggak tahu apakah panjang atau pendek ini, semoga bisa jadi lebih pintar lagi. 

Emm... harus jadi lebih pinter lagi gak sih? Rugi sudah masuk lubang kalau nggak mengambil pelajaran apa-apa. Haha

Kalau mau dipikir dari sudut pandang positif nih ya, kalau bukan karena kejadian di tahun itu, kalau bukan karena kelabilan di tahun itu, dan kalau bukan karena kamu memutuskan untuk 'fight back' dengan semua kekuatan di tahun itu. Emang kamu ada dimana sih sekarang?

Tekanan, somehow, mengeluarkan sisi terbaik dan terkuat dalam diri kita. Karena hidup waktu itu sudah bukan tentang menjalani dengan sebaik-baiknya, tapi sudah mode survival. Mode bertahan hidup. All-out dengan semua yang dilakukan karena sudah nggak punya pilihan apa-apa lagi dan sendirian (bohong sih, ada keluarga yang mendukung. Tapi siapa sih yang paling bertanggung jawab dengan diri sendiri kecuali diri kita sendiri? We're adults anyway, we handle our things, no?)

Sulit pasti ya.....


BUT YOU DID GREAT!πŸ’—πŸ’—


Sayang diriku banyak-banyak. *langsung butterfly hug diri sendiri habis ngetik ini*

Terimakasih mama nuy, leha, sule, or whatever your name yang pernah dan sedang hidup di dalam diri ini. 

Terimakasih sudah kuat. 

Terimakasih untuk meski misuh-misuh dalam kamar mandi tapi tetap memeluk anakmu dengan hangat di tempat tidur. 

Terimakasih untuk nangis malam-malam tapi paginya tetap bangun, mandi, makan dan berjuang kembali. 

Terimakasih untuk berhenti memaki diri sendiri karena lamban dalam berpikir dan bertindak.

Terimakasih dan selamat untuk keberhasilanmu menahan emosi dan menahan diri agar tidak oversharing.

Hehe, iya... tadinya pengen menulis langsung secara gamblang apa saja yang terjadi. Tapi terlalu rumit sih, dan tidak berguna juga sepertinya di posting online di blog pribadi begini. Too much mudharat, too little manfaat. 

Ada masalah yang dibagikan dan orang mendapatkan insight menenangkan atau komentar yang solutif, tapi untuk kasusku, ini tuh nggak ada bagus-bagusnya. Malu-maluin malah wkwkwk. Jadi mohon maaf kalau masalahnya cuman tersirat ya, meskipun tulisannya lumayan panjang begini dan ada beberapa postingan soal ini juga sebelumnya yang intinya sama. Aku menulis hal yang sama berkali-kali ternyata.πŸ˜„

Life must go on ya naaak
Menangis bikin lega tapi gak bikin masalah selesaiπŸ˜‚


Aku pernah merincikan masalah ini dalam buku pribadi di rumah yang isinya curhat habis-habisan tentang ini. tapi yah, aku sendiri sudah lupa buku yang mana, halaman berapa, dan dimana buku itu berada. Biasanya untuk mengunci supaya tidak pernah dibaca lagi baik untukku atau orang lain yang mungkin tidak sengaja membuka catatanku, sebelum kusimpan, halaman yang 'rahasia' itu sudah aku plester dan atau staples dengan rapat, sehingga kalaupun bisa dibuka, tulisannya akan hancur. Jadi, aku sendiri sudah tidak terlalu khawatir tentang catatan itu.

Dan hal yang aku syukuri juga, diciptakan Allah sebagai makhluk yang cepat melupakan hal-hal buruk. Misalnya aku menonton film horror, besoknya aku tuh sudah lupa hantunya gimana, jumpscaresnya gimana. Begitu juga dengan hal buruk ini, aku tuh sudah melupakan sebagian besar detailnya. It becomes blurry memories. Nggak terlalu jelas untukku.

Meski tetap saja, respon trauma itu ada. 

Dan kita perlu waktu untuk bisa deal dengan hal itu. Sampai kapan? Only God knows. Mungkin setahun, lima tahun, seumur hidup? Kita manusia sebagai makhluk yang memikul emosi sepanjang hidup punya kemampuan berbeda menanggulangi rasa. Sampai saat ini, aku menyadari bahwa aku masih memiliki beberapa kata dan kondisi yang triggering, and it's okay. 

In the end of the day, masih ada Allah Azza wa Jalla, yang Maha Perkasa dan Maha Agung yang selalu menerima, menjaga, dan menyayangiku.

At that moment she was the bravest girl around me. This might not be easy for her. She might had fear too but she had the courage to move forward so strongly in spite of the fear to be humiliated again. She was an inspiration to me at that point of time. She taught me that, your self-worth is determined by you. You don’t have to depend on someone telling you who you are. 
 
Post a Comment

Post a Comment

Halo, terimakasih banyak sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^