EbMBK9LV3U2J5pqb5aBuXdjmVrgXJ3azcHngXLqi
EbMBK9LV3U2J5pqb5aBuXdjmVrgXJ3azcHngXLqi

Bagian dari Komunitas:

Bookmark

Memilih Sekolah Anak: SD Negeri atau SDIT?

Menentukan SD mana yang akan Nuy masuki sesudah tamat TK adalah sebuah PR untuk saya dan Abah Nuy. Ini adalah pengalaman pertama dan kami nggak punya pengalaman sebelumnya, karena itu, saya dan suami mulai mengumpulkan informasi dengan bertanya-tanya pada keluarga dan rekan kerja yang anaknya sudah masuk SD agar mendapatkan informasi yang lebih lengkap. 

Sebenarnya, beberapa bulan sebelum kelulusan TK pun, nenek dari pihak saya dan suami juga sudah mulai angkat suara soal cucu. Sehingga kami berdua sebelumnya yang juga sudah pernah berdiskusi tipis-tipis tentang SD lanjutan untuk Nuy, jadi kami tinggal mematangkan pembicaraan waktu itu dengan informasi tambahan yang sudah kamu kumpulkan.

Nah, setelah kami saring dan timbang, ada beberapa pilihan rekomendasi sekolah SD di Tapin. Hmm... Apa aja tuh? 

Untuk kami, pilihannya ada tiga, yakni: SD Reguler, MI, dan SDIT. 

Ketiga opsi ini sudah kami persempit banget karena secara garis besar dari beberapa Sekolah Dasar yang ada di kota kami konsepnya ya 3 diatas.

SD negeri ada yang bagus, direkomendasikan oleh sesama ibu-ibu, fasilitasnya bagus dan lingkungannya juga diperhatikan dengan baik namun minus letaknya lumayan jauh dari rumah. Hal ini juga senanda dengan MI yang menjadi rekomendasi kakak saya, yang sebelumnya kedua anaknya lulusan sekolah MI itu. Fasilitasnya jangan ditanya, ekstrakurikuler sudah berpengalaman bertahun-tahun. Jaringan Muhammadiyah juga everybody know gimana bagusnya. 
Sayangnya ini juga sama: jauh dari rumah. 

Kalau kami baca-baca baik SD Reguler, SDIT, dan MI ternyata kurang lebih sama. SD Reguler dan SDIT berasa dibawah naungan negeri/Kemendikbud) sedangkan MI (dalam case kami, yang masuk list adalah MI Muhammadiyah, itu dibawah naungan kementerian Agama.) 😄

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami adalah: Jarak tempuh, durasi belajar, biaya sekolah, dan lingkungan sekolah. 

Pengennya dapat sekolah yang tidak terlalu jauh supaya nggak perlu grasak grusuk pagi pas mengantarnya, waktu belajar nggak kecepetan dan nggak kelamaan, biayanya masih masuk akal, dan lingkungannya terjaga. 

Long story short, dengan pertimbangan itu akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan anak kami ke sekolah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Tentu saja keputusan ini tidak selalu benar menurut pandangan orang lain, karena komentar itu pasti ada, misalnya: buat apa sekolah SD mahal-mahal, yang penting kuliahnya. dll

Kami mengerti kalau sekolah manapun juga tidak ada yang 100℅ sempurna, namun alasan utama kami memasukkan anak ke SDIT adalah agar anak kami mendapatkan pondasi berupa ilmu agama yang kuat karena kami keduanya orangtuanya ini masih cetek banget soal ibadah. 😂

Rasanya kalau cuma bekal pemberian kami yang sedikit ini masih kurang karena zaman now dunia semakin gila. Pelajaran agamanya nggak cuma beberapa jam pelajaran dalam seminggu seperti SD negeri, tapi juga nggak terlalu memberatkan karena metode belajarnya lebih fun

Kurikulum sesuai Kementrian Pendidikan dan memiliki nomor izin resmi, jadi nanti ijazahnya terdaftar dan legal. Selain itu, karena sekolah ini berdiri nggak sendiri, tapi ada lanjutannya di MTs Alam yang sedang dirintis, saya worry less nanti anak gadis mau melanjutkan ke sekolah dibawah pengelola yang sama, atau ke luar. Sudah ada plan A lah sementara ini. 😃

Jam belajar SD berbeda-beda satu sama lain. Kami memilih SDIT yang jam belajarnya menengah. Misal SD negeri pulang jam 11, dan salah satu SDIT pulang jam 4 sore, maka sekolah yang kami pilih memulangkan murid-muridnya jam 2 siang. Itu pas dijemput, anaknya sudah makan, sudah sholat dzuhur, plus sudah qailullah (tidur siang) juga, jadi meski jam sekolah sedikit panjang tapi isinya 'sesuai'. Jadi karena sudah stabil jiwa da  raga, anak jadi less cranky pas dijemput pulang ✨

Ada PR? 
Oh, nggak ada Ferguso. 
Jadi sore hari bisa dipakai les/belajar membaca Al-Qur'an sebenarnya. Kami sempat mengira anak akan kelelahan, tapi ternyata nggak juga. Anak tetap antusias kalau diajakan jalan-jalan sore, malahan request masuk les belajar yang sama dengan teman sekelasnya. 😂

Selain itu, syarat lainnya yakni jarak tempuh, durasi belajar, biaya sekolah, dan lingkungan sekolah sudah terpenuh semuanya. 

 📎📎📎

Nah, sekian sharing seputar pertimbangan kami saat memilih SD untuk Nuy, Sebenarnya mau memilih SD negeri atau SDIT atau MI, semuanya kembali kepada orangtua dan anak. Insya Allah baik sesuai dengan niatan kita mendidik anak.

See you next post :)) 

Post a Comment

Post a Comment

Halo, terimakasih banyak sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^