SOCIAL MEDIA

Friday, July 31, 2020

Cerita Dari Anak Usia 15 Tahun


Tulisan ini merupakan tulisan saya yang ditulis iseng, tapi dari kejadian nyata. 

Pada akhirnya, semua cerita tergantung dari sudut pandang dan kepentingan yang menilai.


==


Saat berumur sekitar 15 tahun, aku punya teman.
Orang bilang dia tidak baik. 
Dia bukan wanita baik-baik. 


Katanya, dia bekerja malam-malam dan naik ke rumah saat hari sudah subuh. 
Katanya lagi, wanita baik mana yang kelakuannya seperti itu? 


Cerita yang sedikit, akhirnya jadi panjang. 
Dan yang mendengar cerita pun membenarkan, 


"kalau begitu, dia bukan wanita baik-baik"


==


Mungkin saat itu cuma aku yang tahu, 
Ada lebam di tubuh indahnya. 
Ada mata bengkak yang dia kompres setiap pagi. 
Ada maagh kronis karena stress dan makanan yang tidak teratur. 


Aku tahu. 
Karena aku yang mengoleskan minyak angin dibadannya. 
Aku yang mendengarkan cerita tentang rumahnya yang seperti neraka. 
Aku yang tahu ibu tiri nya tidak seramah yang ditampakkan. 
Aku yang tahu dia disuruh bekerja malam tinggi hingga subuh saat ayahnya sedang berlayar di lautan. 
Aku yang tahu dia menjadi babu di rumahnya sendiri. 




"Tahu nggak? Pacarku ada tujuh!" katanya padaku saat kami berdua sedang istirahat siang. 


"Terus mau apa?" aku menimpali. 


"Ya gak apa-apa kan? terpaksa. Supaya warungku ramai. Nanti mama marah-marah terus kalau sepi." katanya lagi disambung dengan tawa ceria khasnya. 


Saat itu aku benar-benar tidak tahu harus mengiyakan atau mengingatkan. 


==


Tapi yang aku tahu, 


Dia tidak memilih untuk seperti itu. 


Tapi apa kata orang?


Aku kenyang mendengar berita buruk tentangnya. Tentang dia, temanku yang kemudian menikah sebelum lulus SMP. 


Dia yang selalu tersenyum dan ceria. 
Dia yang tidak pernah membuka lukanya sendiri. 

==


Aku tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh temanku tadi. 


Tapi aku percaya dia orang yang baik. Meski lingkungannya abu-abu, dia pernah cerita untuk memberikan momen pertama hanya pada suaminya kelak. 


Dan aku percaya dengan janjinya, di umur 15 tahun hingga sekarang. 


==




Untuk bisa menilai sebuah cerita, kita harus tahu dua sisi agar tidak menghakimi.


Darinya, aku mengerti kalau setiap orang memiliki alasan dalam mengambil keputusan. 


Dan apa yang orang lain katakan tentang keputusan kita, bisa jadi lebih banyak yang menyalahkan daripada membenarkan. Dan itu tidak apa-apa. 


Pada akhirnya, Kita sendiri yang menjalaninya. Kita yang paling memahami keputusan mana yang baik untuk kita. 


Apa yang orang lagi bisa berikan? 
Mungkin sedikit masukan dari yang peduli, dan banyak bumbu penyedap dari orang yang senangnya membicarakan hidup orang lain.


==
Apapun itu yang sudah dia lewati, sekarang begitu aku membuka sosial medianya, rasanya aku senang.


Fotonya dengan suami kedua dan putrinya yang lucu begitu menyenangkan. 


"pada akhirnya, semua akan baik-baik saja. Jika belum baik-baik saja, maka itu bukan akhirnya."