Monday, February 26, 2018

Pengalaman dan Tips-Tips Mengatasi Kehamilan Sungsang


Pengalaman dan Tips-Tips Mengatasi Kehamilan Sungsang
Pengalaman Mengatasi Kehamilan Sungsang - Masa kehamilan pertama saya rasanya begitu nano-nano. Ya, nano-nano karena ada beragam hal baru yang saya alami, dari manis sampai asem, dari senang sampai sedih. Dan yang paling berkesan diantaranya adalah saat saya masuk rumah sakit karena terkena demam berdarah dengue (DBD) di bulan ke-6, dan juga posisi bayi sungsang di bulan ke-7.

Saya ada menuliskan pengalaman saya saat terkena DBD di blogpost saya beberapa bulan yang lalu. Barangkali ada yang tertarik mau membaca ^_^


Saya bukan termasuk orang yang memeriksakan kehamilan saya rutin setiap bulan. Saya hanya pergi USG jika memang dibutuhkan. 

Dan menurut DSOG saya waktu itu, sebenarnya idealnya kegiatan ultrasonografi selama masa kehamilan hanya sebanyak tiga kali. Nggak perlu setiap bulan seperti orang kebanyakan. 

Daaaaan, karena kata-kata beliau itu, efeknya saya jadi terlalu selow untuk urusan USG. Santai banget malahan. πŸ˜‚

USG pertama saya kalau nggak salah pas bulan ke-4. Padahal Syuna anak pertama yaaa 😜

Tapi itu juga karena pas lagi sibuk-sibuknya kerja sama kuliah sih, waktu itu belum tahu kalau USG 3x aja cukup.

Pas periksa pertama kali itu baru dikasih tau sama dokternya. Dan Alhamdulillah lega, sebelumnya agak-agak khawatir juga karena terlambat melakukan USG. πŸ˜…

Selain USG yang minimalis, waktu itu saya juga hanya periksa USG 2D, nggak pernah periksa 3D. Soalnya nggak di cover sama BPJS #eh.

Ya memang sih, di klinik tempat kerja dulu itu kalau karyawan yang periksa biayanya digratiskan, dan disana ada dokter spesialis kandungan, juga tersedia fasilitas USG 4D juga. Tapi saya yang merasa nggak enak sama dokter obgyn-nya karena nggak bayar apa-apa. 

Jadi akhirnya saya lebih memilih ke puskesmas dan meminta rujukan agar diperiksa ke Rumah Sakit.

Nah, memang soal USG ini tergantung pada orangtuanya sih. Hehe...

Ada orang tua yang kangen pengen melihat si kecil di layar monitor ultrasonografi setiap bulan.

Ada orang tua yang pengen memastikan keadaan buah hatinya disana bagaimana secara rutin.

Ada orang tua yang penasaran si jabang bayi bakalan mirip Bunda atau Bapaknya.

Well, itu kan hanya masalah prosedural, saya belum pernah dengar ada dokter obgyn yang melarang USG tiap bulan, meski juga ada dokter obgyn yang memberi himbauan USG seperlunya saja seperti obgyn saya yang tadi. 

Jadi menurut saya sih, tetap sah-sah saja kontrol rutin. 😁

Tapi seperti yang sudah saya bilang tadi, kalau saya sih waktu itu nggak rutin tiap bulan. Tapi rutin setiap waktu yang penting.

Dari yang saya ingat dan baca-baca, waktu yang penting untuk melakukan USG itu ada 3:


1. Di minggu ke-12 untuk memastikan kantung kehamilan dan juga detak jantungnya.

2. Di minggu ke-20 untuk mengetahui ada kelainan anatomi atau tidak, karena di minggu ini struktur anatomi sudah terbentuk dengan jelas.

3. Di bulan ke-7 untuk memastikan posisi bayi, sudah benar atau masih belum, alias sungsang.

Nah, pas USG ini nih saya tahu bahwa waktu itu Syuna sungsang. 

Kalau nggak salah waktu itu pas akhir bulan ke-5 apa pertengahan bulan ke-6 gitu (Catatannya ketinggalan di rumah di Kalimantan, maafkeun jadi nggak bisa ngecek πŸ™)

Ah iya, pokoknya pas seminggu saya dirawat untuk menaikkan trombosit hasil terinfeksi DBD itu, Syuna udah dalam posisi sungsang dalam perut.

Kiri: Posisi Normal
Kanan: 3 macam posisi sungsang janin

Saya masih ingat betul, saat itu bertentangan dengan saya yang melakukan USG hanya pada saat penting, obgyn dari poli kandungan Rumah Sakit nyaris setiap hari meminta saya untuk cek gerakan dan kondisi si janin via layar ultrasonografi. Kira-kira seminggu itu di USG sekitar 5 kali deh.

Jadi saya bisa dibilang udah keeeenyaaang banget dengan aktivitas buka perut-oleskan gel-letakkan alat-lihat layar ini. 

Hafal, gaes! πŸ˜‚

Oke, kali ini saya pengen sharing sedikit soal pengalaman saya waktu hamil sungsang dulu, tips-tips supaya si bayi mau balik ke posisi yang seharusnya yakni kepala dibawah dan kaki diatas (kepala masuk panggul atau istilah medisnya disebut posisi vertex). 

Siapa tahu ada yang sedang membutuhkan juga. ^^ 

Yuk, langsung aja!

PENGALAMAN MENGATASI KEHAMILAN SUNGSANG

1. Tetap tenang.

Nah, karena nggak begitu bahaya dan resiko dari kehamilan posisi sungsang, saya waktu itu nggak ada khawatir sama sekali soal posisi baby Syuna yang sungsang. 

Yang saya bold dari omongan dokter dan bidan hanya soal kesehatannya. Bagi saya yang penting janinnya sehat. Alhamdulillah. 

Yang ribut malahan kakak, mama, sama mama mertua. Hahaha...

Iya, kalau ingat itu saya rasanya pengen ketawa. Saya yang beresiko, tapi mereka yang nyaris tiap hari sounding saya buat melakukan ini-itu supaya baby Syuna balik ke posisi awalnya.

Hmm, Syuna, you’re loved since in my womb. 
  


Ah, iya, keep calm itu penting lho, karena emang katanya jangan stress karena bayi usia segitu emang kegiatannya berenang di dalam air ketuban, masih hobi muter-muter di perut emaknya.

Ekplorasi! Kata si janin :D

2. Ajak Bayi Ngomong (hypnotheraphy)


Saya dulu sering ngelus perut hamil sambil ngajak Syuna ngobrol. Bahagia, sedih, semuanya saya omongin sama si perut. 

Termasuk ngomong soal sungsang ini. Ya emang sih dia nggak bakalan jawab, tapi rasanya lega aja kalau habis ngomong. πŸ˜†

Apalagi katanya janin sudah bisa mendengar suara-suara sejak bulan ke-3. Jadi saya yakin waktu curhat itu dia denger. 

Saya percaya Syuna anak yang nggak rewel dan ngerti omongan emaknya, jadi sambil berbaring atau sujud (yang no.3 dibawah habis ini), saya juga sambil sounding si baby.

Dan somehow menurut saya yang ini juga ngefek sama kejadian sungsang yang saya alami. Wong kalau habis saya ajak ngomong hepi-hepi aja pasti deh tuh perut benjot kesana kemari. Mungkin Baby Syuna merespon perasaan bahagia saya dan ikutan senang. Hihi... 

Kalau dia denger emaknya kesulitan dengan posisinya di dalem, pasti deh dia mau muter dikit juga. 😊

3. Sujud & Knee Chest.

Ah, kalau ditempat saya, bila hamil  sungsang pasti disuruh sering-sering sujud sama orang-orang, bahkan sama orang awam juga gitu.

Waktu itu saya disuruh sujud sekitar 3-5x sehari dengan durasi tertentu, sekitar 7-10 menitan. Tapi saya kadang sering molorin durasinya sampai 15 menit. Kalau kebablasan lebih dari 20 menit, hasilnya saya ngantuk, jadi pengen bobok. Hehehe...

Nah, ternyata di barat sujud dengan kaki yang sejajar pinggul dan dada sejajar lutut ini disebut juga dengan posisi knee chest, dan termasuk olahraga yang disarankan saat hamil. 

Ah, dulu saya juga nggak ikutan senam hamil, cuma jalan-jalan doang olahraganya, jadi kurang tau deh soal senam hamil ini πŸ™

Oh iya balik lagi ke Knee chest. Posisi yang satu ini katanya bagus dilakukan saat kehamilan memasuki periode 32-35 minggu. Idealnya dilakukan saat perut dalam keadaan kosong (habis makan rawon berarti nggak ideal yah? 😝) serta saat si bayi dalam keadaan aktif.

Posisi Knee Chest
Sumber: Parent Resource Network

Dari sebuah sumber, durasi posisi knee chest ini bisa dipertahankan selama 10 sampai 15 menit dengan frekuensi 3x sehari. 

Selain sujud & knee chest (saya nggak tahu apakah ada perbedaan efek yang besar dari 2 gerakan ini, tapi kalau dari posisinya yang mirip sih menurut saya yang awam efeknya sama aja kali ya? πŸ˜†)

Pada prinsipnya, gerakan ini menaikkan pinggul 12-18 inchi di atas bahu. Jadi gravitasi yang dihasilkan akan mendorong kepala bayi ke fundus, daaaan... jeng jeng! Bayi balik ke posisi yang seharusnya deh, yakni ke posisi vertex.

Gerakan ini nggak cuma bagus buat bumil sungsang lho! Yang hamil dengan posisi janin normal juga boleh banget mengamalkannya. 

4. Berenang

Oke, saya nggak mengerjakan poin ini karena saya nggak lihai berenang. Hehe 

(Orang Kalimantan, tapi cuma bisa gaya mengapung sama batu, itulah saya πŸ™ˆ)

Eits, tunggu, apa hubungannya renang dengan sungsang? 

Dari yang saya baca di Wikipedia, paduan gerakan renang yang melemaskan otot-otot tubuh serta ketiadaan bobot dan aliran air yang dilakukan saat berenang ternyata akan membantu janin yang sungsang berputar ke posisi yang benar lebih mudah. 

Untuk gaya renangnya, yang disarankan adalah gaya dada dan gaya bebas. Ibu juga disarankan untuk melakukan kegiatan menyelam. 

Hmmm... Sepertinya olahraga yang satu ini akan cocok dilakukan jika ditemani dengan suami ya, sekalian nge-date di kolam renang 😍

5. Minum air putih

Minum air putih juga katanya berpengaruh dengan posisi sungsang.

Jika kebutuhan air putih tercukupi dengan baik, yakni minimum sebanyak 3 liter sehari. Bayi sungsang memiliki kemungkinan berputar lebih baik karena cairan tubuh berfungsi dengan lancar. 

6. Metode External Cephalic Version (ECV)

Yang ini saya nggak coba, karena dengan cara 1, 2, 3, dan 5, Alhamdulillah Syuna nurut mau balik ke posisi yang seharusnya. πŸ™‚

Jadi, apa sih itu metode External Cephalic Version?

ECV adalah salah satu teknik non-bedah yang dikuasai oleh Dokter Obgyn alias dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Cara kerjanya berupa menekan perut ibu hamil untuk dengan gerakan khusus sehingga kepala bayi akan berada dibawah. 

Teknik ini dilakukan khususnya untuk yang sudah melewati usia kehamilan 37 minggu, jadi secara normal bayi sudah tidak bisa lagi membalik sendirian lagi. Mesti ditolongin.


Dengan tingkat keberhasilan sebanyak 58% pada kehamilan pertama dan lebih besar lagi jika pada kehamilan kedua dan seterusnya. ECV juga memiliki beberapa kekurangan, yakni:

1. Rasanya bisa jadi nggak enak, karena berupa 'tekanan' pada bagian perut yang bertujuan memutar janin kembali ke posisi yang benar.

2. Tidak bisa dilakukan pada kehamilan dengan  komplikasi atau air ketuban yang tidak normal.

3. Metode ini tidak bisa dilakukan untuk bayi kembar.

4. Selama ECV, detak jantung bayi dipantau melalui USG. Jika turun drastis, maka kelahiran darurat akan menjadi solusinya.

7. Menggunakan Cahaya

Hah? Cahaya? Pakai senter gitu-gitu dong?πŸ€”

Eh ternyata beneran lho! Waktu itu saya juga rasanya sempat mendapatkan penanganan ini dari kakak saya yang seorang bidan.

Saya sempat terbengong-bengong waktu itu memikirkan korelasi antara posisi janin yang sungsang dengan cahaya senter. πŸ˜‚

Tapi saya manut sajalah, nggak ada ruginya juga. Siapa tau ada efeknya dan Syuna di dalam sana kesenengan ada cahaya senter berjalan-jalan di permukaan perut emaknya. Hehe...

Habis saya kepoin... Ternyata emang ada teorinya juga lho.

Jadi dengan mengarahkan cahaya senter dari puncak rahim ke arah jalan lahir (tulang kemaluan) dalam posisi Ibu sedang miring. Diharapkan si janin akan mengikuti pergerakan cahaya tersebut.

Saya jadi mengucapkan Masya Allah berkali-kali, kekuasaan-Nya memang Maha Luas ya teman? πŸ™‚ 

8. Menggunakan kompres Panas dingin

Yup, jadi dengan menggunakan kantong atau sesuatu yang bersifat panas dan dingin, kita juga bisa memancing bayi kembali ke jalan yang benar #loh.

Caranya mudah, yakni dengan mengompres bagian atas perut (posisi kepala) dengan kantung dingin (es). Maka secara alami bayi yang menyukai kehangatan akan menjauh dan menuju bawah. 

Cara ini aman dan konon lumayan efektif, apalagi jika dilakukan dengan berendam air hangat atau meletakkan kantung hangat di bagian bawah perut yang semakin merangsang bayi menuju ke bawah.

Hmmm... bagus ya tekniknya. Bisa dicoba sendiri sekalian mandi 😁

9. Teknik Webster & Moxibuction

Saya belum pernah melihat langsung kedua teknik ini. Plang prakteknya juga belum pernah, hehe...

Mungkin karena jenis praktek seperti ini belum begitu dikenal umum. Tapi kalau di forum-forum luar negeri, saya baca 2 hal ini sudah lumayan lazim dilakukan.

Yang jelas, poin ini harus dilakukan oleh professional dan juga harus memiliki lisensi (izin khusus) untuk praktik.

Teknik Webster adalah salah satu teknik chiropraktik yang dilakukan oleh seorang chiropraktor (teknik tradisional luar negeri) professional yang berlisensi untuk membenarkan tulang panggul dan sakrum. Prosesnya harus dilakukan berkali-kali untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Teknik ini masih dalam penelitian lebih lanjut. 

Kalau teknik moxibuction adalah teknik tradisional china yang menggunakan bahan-bahan herbal dan juga titik akupuntur. Sebelum mencoba, pastikan juga praktisinya memiliki lisensi yang legal. ^^ 

***

Oh iya, sebaiknya teknik-teknik di atas tetap dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan ya.. Misalnya dengan bidan atau dokter spesialis kandungan. Karena jika dilakukan tanpa ada pengawasan, maka ada resiko bayi akan terbelit tali plasentanya sendiri, atau bahkan plasenta mengalami kerusakan.

Waktu hamil sungsang dulu, Syuna memang berhasil berputar ke posisi vertex, tapi dapat 'oleh-oleh' belitan si tali pusar, jadi pas melahirkan agak sedikit rumit karena mempertimbangkan belitan yang ada. Tapi Alhamdulillah lancar. ^^

Dan jika cara-cara tersebut sudah juga dilakukan dan belum mendapat hasil yang diharapkan. Maka jangan bersedih dulu, karena zaman sekarang ilmu medis sudah semakin maju, masih banyak jalan melahirkan yang bisa dipilih, misalnya C-section (operasi caesar). 

Jadi, jangan putus asa ya. Ingat, happy mom, happy kids! Ibu hamil harus bahagia :D


Pengalaman dan Tips-Tips Mengatasi Kehamilan Sungsang

Nah itu dia beberapa tips mengatasi kehamilan sungsang dan juga pengalaman singkat saya saat sungsang. Semoga ada gunanya yaa! Jangan lupa di share jika dirasa bermanfaat . Terimakasih sudah membaca ^^
10 comments on "Pengalaman dan Tips-Tips Mengatasi Kehamilan Sungsang"
  1. Alhamdulilah y mba akhirnya Syuna mau balik ke posisinya, saat ini usia kehamilanku udah masuk 32w alhamdulilah sudah diposisinya semoga lahiran nanti lancar aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. ASemoga sehat selalu ya Bunda Neyna sampai masa bersalin tiba. Aamiin ya Rabbal Aalamiin 😍

      Delete
  2. Aku anak yang sungsang dalam kandungan mamaku dulu. Hehe. Pas hamil anak pertama, lupa usia kandungan brp, bidan mendeteksi kehamilanku sungsang. Aku disuruh USG.Kalau tdk disuruh bidan bisa bisa aku malah gak USG πŸ˜…. Gak tau knp dulu pas zaman aku hamil.m usg tu kuanggap gak penting2 amat. Nah..pas hamil si kembar..akubtiap bln USG.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah sehat semua ya anak-anaknya. USG emang penting banget buat ibu hamil.

      Delete
  3. Keren ulasannya nih. Apalagi aku belum pernah mengalami kehamilan posisi bayi sungsang. Jadi bisa nambah wawasanku

    ReplyDelete
  4. Wah baca ini ak jd inget zaman hamil. Dulu Farisha ga sungsang sih. Termasuk emak yg males USG jg. Pokoknya pas udah deket HPL tau ga sungsang ya bersyukur. Hehe. Tp krn over pede malah jd caesar. Jd yg nmny posisi tdk menentukan cara lahir jg pikirku. Sungsang jg byk cara spy bs balik normal ya. Keren aku baru tau ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kadang proses melahirkan ini berubah jauh banget dari rencana awalnya ya mba Winda. Dan posisi janin sungsang pun bs berubah juga, jd memang pemeriksaan dokter saat USG itu penting :D

      Delete
  5. Aku tiap bulan USG, bahkan mendekati hpl pemeriksaan jadi sebulan dua kali, ya dua kali usg hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya... Makin mendekati hari H makin tegang kitanya 😁

      Delete

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature