Sunday, January 28, 2018

Liburan Tipis-tipis ke Coban Rais, Terdampar di Batu Flower Garden


Liburan Tipis-tipis ke Coban Rais - Di tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya udah pernah cerita dong soal Malang dan tempat wisatanya yang kece-kece. Beragam pilihan wisata di kota Paris Van East Java ini bahkan membuat jiwa eksplorasi saya seolah-olah 'terpanggil' kembali. Padahal saya udah berstatus emak-emak.

Iya, emak-emak. 

Tapi rasanya masih pengen ngintil bareng si Abah kemana-mana, menjelajah Malang yang Ngalam ini.

Nah, dua hari sebelum saya dan keluarga pulang ke Kalimantan, kami akhirnya menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Batu. 

Perjalanan ini sebenarnya udah kami planning untuk dilakukan pada hari H-5 sebelum pulang.

Tapiiiii... Karena cuaca waktu itu hujan terus dan suami selalu ada kesibukan kampus, akhirnya molor deh ke H-2. 

Serius lho, udah siap-siap beberapa kali endingnya selalu zonk. Hahahaha. Agak sedikit merajuk cantik supaya ada kompensasi batal dolanan. πŸ˜‚

Padahal sebenernya nggak masalah juga sih soal mundur beberapa hari itu, soalnya Malang di sore hari yang lagi hujan itu males-able alias wuenak banget buat dihabiskan dengan leyeh-leyeh manja. 

Iya, malas-malasan sambil goler-goler, setengah jam beresin koper. Sisanya main-main sama Syuna. 

Aduh, sungguh quality time kalau kata orang zaman now. Haha

Alhamdulilah, meskipun sebenarnya merajuk cantik itu strategi pancingan doang. Akhirnya di suatu pagi menjelang siang sepulang dari klinik gigi, jadi deh, jalan-jalan. Yeay!

Nah, kesalahannya adalah: karena rencana mendadak, akhirnya kami nggak punya persiapan apa-apa untuk menghadapi cuaca. 

Jadi, ceritanya itu pas berangkat cuaca lagi adem ayem, meskipun udah pakai jaket buat mengantisipasi suasana Batu yang dingin, kami sama sekali melupakan kalau cuaca bisa berubah, dan pas sampai di kawasan UMM...

Byurrr! 

Hujan turun deras bak dituang dari langit. Kami yang naik sepeda motor pun bersinggah di sebuah toko kosong untuk menunggu hujan reda.

Setengah jam berlalu dan nggak ada tanda-tanda hujan bakalan berhenti, kami pun mulai galau. 

Ini beneran nggak sih bakalan jadi ke Batu? 

Tengok-tengok ke hp, eh udah lowbatt aja gara-gara malamnya kelupaan di charging. 😐

Mau pesan taksi online juga gak bisa, belum nyampe rumah pasti udah mati hapenya.

Akhirnya paksu bersabda kalau perjalanan harus dilanjutkan, bagaimana caranya. Karena kalau nggak dilakukan hari itu, maka besok udah nggak ada waktu lagi, kan lusa sudah harus ready dijemput subuh-subuh. 

Saya mikir-mikir, wah benar juga kan? Kalau nggak sekarang, ya kapan lagi?

Akhirnya beberapa ratus meter dari tempat kami bernaung kami melihat ada penjual jas hujan. Abah akhirnya memutuskan untuk membeli 2 pasang untuk saya dan Syuna. Jas hujan yang murah aja, 15 ribuan.

Oke, sesudah jas hujan terpasang. Kami pun ready untuk berangkat.

Karena hape kami tinggal beberapa persen, kami berdua akhirnya mengandalkan sense of human kami dengan melihat plang-plang di jalan.

Biiznillah, sampai juga di Batu. Hamdallah~



Sampai di Batu, kebingungan berikutnya adalah tempat yang di datangi. Sesudah sebelumnya nge bakso dulu untuk menghangatkan badan sesudah kehujanan, kami akhirnya berencana menuju Conan Rais.

Paman Bakso yang sedang nonton Indonesian Idol pun jadi sasaran kami untuk nanya-nanya. 
Plus, numpang charge hp kami berdua. Makasih ya, bang! Udah baksonya enak, bisa ikutan nebeng chargeran pula... 

☕ Another lesson Learned: kalau mau travelling, pastikan baterai full, dan jangan lupa buat bawa charger untuk jaga-jaga.

Coban Rais, Sebelah Mana?

Karena baterai hape sekarat, kami nggak pakai google maps, cuma bermodal nanya-nanya sama masyarakat. 

Senengnya di Malang itu ya orangnya ramah-ramah gini. Semuanya pas ditanya pasti ngasih kami senyum manis. hehe

Alamat lengkap Coban Rais sesuai dengan google adalah di Oro-oro Ombo, Kehutanan, Kec.Batu, Kota Batu, Jawa Timur 65151. 

Kalau saya nggak salah ingat, sebelum sampai ke Coban Rais, kami melewati jalan besarnya Batu yang sejalur sama Batu Night Spectakuler, habis itu ada plang petunjuk arahnya.  Disana bakalan diarahkan masuk ke beberapa jalan kecil. 

Kalau udah mulai nggak terlihat plang petunjuk arah, maka silakan nanya sama manusia terdekat atau mbak google.

Kami sendiri, setelah sempat nyasar ke pegunungan sebelah (lebayyy... πŸ˜‚) Akhirnya sampai juga di Conan Rais. 

Well, jalan-jalan tanpa google maps ternyata menantang adrenalin! Hahaha

Harga Tiket Coba Rais & Jam Buka Coban Rais

Tiket masuk sekitar 10 ribu per orang, dan jika ingatan saya bener, itu belum termasuk parkir, cuma tiket masuknya doang. 

Kata bapak-bapak yang jaga disana, jam buka Coban Rais itu sekitar pukul 8 pagi dan biasanya tutup sekitar pukul 5 sore. 

Hmmm, segera kami tengok hp, Zhuhur udah lewat jadi ini sudah sekitar jam 1 siang. Tinggal maksimal 4 jam dong buat jalan-jalan!



Oh iya, pas sampai disana saya baru tau kalau ternyata buat sampai ke Coban Rais itu mesti naik lagi ke atas yang kata pemandunya sih sekitar 3 km. 

Lumayan bikin manyun, apalagi sambil gendong batita yang lagi banyak tanya, bakalan ekstra kerja, kakinya jalan, mulutnya juga ngomong terus. 😝

Gimana naiknya? 

Selain jalan kaki, ada pilihan ojek dengan harga 10 ribu perorang. 

Karena kami sayang duit mau sekalian foto-foto norak, akhirnya kami pun memutuskan untuk jalan kaki saja.

Tapi belum sampai genap 1 km, ada yang menawarkan diri untuk naik ojeknya dengan biaya untuk 3 orang sampai keatas cukup 15 ribu saja. 

Wis, kata suami lanjut. Karena disini jam 5 udah tutup, mendingan kami buru-buru. Lagian stok foto di jalan udah lumayan banyak.

Nah, Begitu sampai dipuncak, kami pun pepotoan (lagi! Haha). 

Iya dong, momen kami waktu main gini mesti kami manfaatkan dengan foto sepuasnya deh pokoknya, huhuhu.

Nggak Sampai Coban Rais

Ngomongin Coban-cobanan, tentunya berhubungan dengan air terjun dong. 

Namun sayangnya saat kami sudah sampai di atas, Coban Rais sedang ditutup karena habis hujan lebat. 

Jalanannya lagi licin, katanya. Meskipun begitu, saya lihat tetap ada beberapa traveller yang masuk sih.

Awalnya pengen kesana juga. Secara kan, namanya aja "Jalan-jalan ke Coban Rais". Masa sih nggak ada main-main atau foto sama air terjunnya?

(Emak penganut no pic=hoax 😁)

Namun, akhirnya dengan pertimbangan kami membawa anak kecil, maka tentunya mending nggak usah memaksakan diri masuk kesana. Apalagi saya parno Syuna dengan keaktifannya bakalan ngasih surprise mendadak waktu di jalanan licin.

Jadi daripada belok kanan menuju Coban Rais, akhirnya kami lebih memilih belok kiri menuju Batu Flower Park. 

Wohoooo... emak satu anak ini pun kenorakannya naik begitu melihat berbagai bunga cantik yang terhampar menghiasi pagar jalan. Kegamangan memilih Coban Rais atau Batu Flower Park seolah-olah langsung sirna.

Duh, receh amat ya Bu, bahagianya? πŸ˜‚

Bahagia itu sederhana, emak narsis. Abaikan anaknya yang bingung mandangin bunga. hahaha

Sebelumnya, bayar tiket masuk dulu dong sekitar 25 ribu per orang.

Bila membawa kamera DSLR atau kamera Mirrorless akan kena charge lagi sekitar 15ribu. Action cam sama drone harganya beda lagi.

Tapiiiii..  worth it kok. Karena di dalam bisa puas foto-foto. Objek bunga bener-bener cantik!

Di batu Flower Park ini sistemnya rada-rada mirip gitu deh sama Jatim Park. Setiap wahana atau spot foto punya tarifnya masing-masing. Kalau mau dicobain semua ya kira-kira satu orang bisa habis 150 ribuan kali ya. 

Kalau saya sih, karena judulnya cuma bawa duit seadanya cuma bisa ikut yang gratis-gratis ajah. πŸ˜†

Oh iya, masuk sini jangan lupa pakai sepatu yang tapaknya nggak licin ya, soalnya kalau lagi naik-naik terus kepleset bakalan berabe. Secara ini tempatnya lumayan tinggi.

Tentang Foto-Foto

Nah, penting untuk diketahui  nih, tiket masuk ke Batu Flower parknya ini jangan sampai hilang ya, soalnya kalau hilang maka kesempatan untuk ngedapetin gambar gratis bakalan hilang. 

Apa? gambar gratis?

Iyaaa... jadi dengan bayar karcis masuk yang 25 ribu itu, kita nanti di dalam itu bisa dapat 2 spot foto yakni di spot foto love sama spot foto flower. 

Dengan take foto 3x per spot dan boleh dikirim 1 foto terbaik ke hp kita. Ini dia gratisan yang saya manfaatkan (yang sebenarnya nggak gratis 100% juga sih karena mesti bayar tiket kan. hahaha)


Beberapa kali foto sana-sini dan difotoin juga, akhirnya habis sudah baterai kamera dan baterai hp kami, tapi nggak masalah karena foto-foto hasil jepretan abang-abang yang ada disana kece beud

Ya iyalah, lensa tele gitu yang dipake. Jadi meskipun si abang jaraknya jauh tapi hasil foto tetep jernih paripurna. ✨

Saya lupa mereka pake tripod apa nggak, tapi hasil fotonya nggak goyang deh. 

Overall, pepotoan disini emang instagramable. Yang gratisan loh ya, belum lagi yang berbayar. 

Nggak heran kalau ada beberapa orang yang melakukan aktivitas foto-foto Pra Wedding disini. 

Kalau kami nah sudah lewat masa-masa Pra Wedding, jadi akhirnya disini malah foto Pasca Wedding alias foto Keluarga 

A post shared by Zulaeha B.A Rozali (@syunamom) on

Kalau ada kekurangan maka itu adalah... Waktu.

Saya mesti datang pagi-pagi deh kalau kesini lagi. Karena kesorean ada beberapa tempat yang tutup.

Soalnya pengen mampir ke Machete cafe yang interiornya kekayuan keren itu. 
Pengen ke Hobbit house juga. 
Pengen foto-foto bunganya lebih banyak lagi. 
Pengen ke Coban Rais. 
Pengen juga ke Coban Putri. 

Wah, kok list saya jadi tambah panjang, ya? πŸ˜†

Hmmm... semoga bisa balik lagi kesana nanti.

Well, Happy Travelling! Jangan lupa bila berkunjung ke Conan Rais ini sampahnya disimpan dalam tas masing-masing yaa supaya lingkungan kita tetap bersih.

Monday, January 22, 2018

Membuktikan Ketangguhan Oppo F5, Teman Terbaik untuk Travel Blogger


Pernah dengar istilah ‘kamera jahat?’ Atau pernah jadi korbannya? Nah, kalau belum tahu saya jelaskan dikit nih soal ‘kamera jahat’. Jadi, secara sederhana, kamera jahat adalah kamera yang bikin hasil foto kita menjadi terlihat jauh berbeda dengan aslinya sehingga membuat orang merasa tertipu.

Pastinya kalian pernah denger dong, soal beberapa orang yang sempurna saat difoto, pas ketemu eh sama aslinya jauh bener sampai nggak bisa dikenali lagi. πŸ™„

Apalagi yang hobinya nyari jodoh di media sosial nih, yang acap kali kepercayaan itu berbasis foto profile, sampai-sampai ekspektasi jadi ketinggian gara-gara hanya menengok foto di sosial media doang.

Gara-gara kamera jahat ini tadi, ujung-ujungnya banyak yang bilang kalau foto media sosial itu menipu. Padahal kan, ya nggak juga.

Oh iya, biasanya nih, foto yang dipajang adalah foto selfie.  πŸ˜

Ah, saya bikin pengakuan dosa nih, saya juga pernah jadi pengguna kamera jahat. Hahaha...

Dulu saya senang sekali selfie, isi galeri hp saya penuh dengan swafoto dengan berbagai pose. Meskipun kegiatan selfie itu sebagian besar tidak saya unggah ke media sosial karena beberapa hal.

Tapi kok rasanya yang di foto ini mukanya kinclong bener ya? (Dulu saya item maksimal karena hobinya panas-panasan), agak-agak tirus pula (padahal dulu chubby abis).
Hmmm, kok kesannya bukan saya banget, gitu.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk tidak selfie dengan brutal seperti dulu lagi karena efek beda jauh di foto sama selfie.

Sehingga praktis, setahun belakangan sosmed saya lumayan bersih dari selfie pakai kamera depan.

Iya, sadar nggak kalau nyaris semua aplikasi foto yang ada di hp itu efeknya membuat kulit menjadi 'terlihat' putih, bibir lebih merah, mata lebih besar, dan wajah lebih tirus?

Cantik sih. Tapi, memangnya semua harus sama?

Padahal semua orang kan berbeda, dan semuanya istimewa dengan dirinya masing-masing?

Lanjut soal selfie, belakangan karena saya lagi seneng-senengnya travelling, jalan-jalan mumpung masih bolak-balik antara Malang dan Kalimantan, akhirnya banyak yang saya lakukan dengan kamera depan smartphone saya.

Padahal nih, jujur aja saya bisa dibilang males banget pakai kamera depan di hp ini karena hasil fotonya jadi terlalu halus.

Suami saya yang hobi fotografi sebel banget kalau lagi selfie kemudian saya panggil manusia tanpa pori karena hasil swafotonya yang terlalu halus. Hahahaha

Makanya, dia mau repot-repot bawa mirrorless tiap kali jalan. Padahal spot favorit kami belakangan adalah pegunungan. Pas naik kesana susah juga kalau tenteng-tenteng kamera meski kameranya masih tergolong mungil. Soalnya kan kalau curam, bagian gendong anak ya paksu.

Jadinya perhatian terbagi deh, disatu sisi memperhatikan anak, disatu sisi memperhatikan keselamatan kamera.

Hmm, ribet ya jadinya?


Pas banget, kemarin saya bersama teman-teman blogger berkesempatan menghadiri acara launching Oppo F5 di Banjarmasin yang diadakan oleh pihak Oppo dan Liputan 6.

Acara yang berlokasi di Hotel Mercure Banjarmasin ini mengangkat tema “Oppo F5 Perfect Companion For Travellers”.

Registrasi acara dimulai sekitar pukul 3 sore. Sebelum masuk ruangan, kami dipersilakan untuk menikmati minuman dan hidangan kecil.

Lumayan, energi untuk menyimak acara terisi lagi. hoho

Tak lama kemudian, seorang MC cantik yang hari itu memandu acara tampil, dan hadirlah Mas Aryo Meidianto Aji yang memperkenalkan diri selaku PR Manager Opo Indonesia sebagai pembicara di sesi pertama.



Pada event ini beliau secara resmi memperkenalkan tiga seri F5, yakni Oppo F5, Oppo F5 (6GB), dan Oppo F5 Youth dengan varian berwarna. Dan di bagian ini, saya sukses terpana dengan pemaparan beliau tentang fitur-fitur dari Oppo F5.

Lah, emangnya beliau ngomong apa sih? Simak yuk sampai selesai... ^^


Oppo F5, Perfect Companion For Traveller


Nah, dari deretan kecanggihannya smartphone besutan vendor asal Negeri Tirai Bambu ini, saya menangkap 5 must have fitur smartphone untuk para Traveller.



#1. | Kamera

Ini yang paling istimewa dan wajib dimiliki travel blogger. Yups, Kamera
 Oppo F5 ini telah bekali fitur kamera dengan A.I Beauty Recognition technology.

Apa itu fitur AI Beauty Recognition Technology?

Fitur ini adalah teknologi kecerdasan buatan yang ditanamkan pada kamera depan Oppo F5 yang memiliki resolusi 20 megapixel dengan f/2.0. 

Selfie tidak lagi sekedar selfie karena sistem Oppo F5 akan memindai sekitar 254 titik wajah berdasarkan jenis kelamin, detil wajah, kulit, faktor cahaya dan usia. 

So, hasilnya diklaim akan lebih personalized.

Baik, sepertinya kalau pakai Oppo F5 saya bakalan sering-sering selfie dan suami saya nggak usah khawatir saya bully lagi karena efek kamera jahat. HAHA.

Oh iya, tadi tentang kamera depan. Terus gimana kamera belakangnya?

Nah, kamera belakang Oppo F5 juga telah dibekali dengan resolusi 16 megapixel f/1.8 yang sangat cocok digunakan untuk memotret dalam keadaan minim cahaya seperti saat malam hari.

#2. | Tampilan 

Travelling bawa kamera emang susah ya? Tapi kalau bawa hape gede juga susah ya?
Apalagi katanya Oppo F5 ini layarnya 6 inchi. πŸ€”

Namun, begitu melihat langsung produknya di booth, ternyata nggak segede yang saya kira loh. Desain layar yang nyaris tanpa bezel dengan teknologi full screen display dengan rasio 18:9 membuatnya pas digenggaman tanpa perlu khawatir layar besar akan menjadi mengganggu aktivitas.

Layar dengan resolusi 2160 x 1080 serta kerapatan 402 ppi juga mempernyaman pemakaian, terutama untuk yang sering membaca artikel menggunakan smartphone. Hmm, saya banget nih!

Ngevlog?

Sepertinya rekaman video dengan kualitas 1080p@30fps yang dilengkapi dengan fitur ES anti-shake DSP yang ada di perangkat ini juga sudah siap dijajal.

#3. | Jeroan Tangguh dan Lebih Smooth

Dengan OS yang lebih baik dari Oppo generasi sebelumnya yakni ColorOS OS 3.2 yang dikombinasikan dengan RAM 4 GB + 32 GB memory internal membuat perangkat lebih smooth. 

Gimana contohnya?

Salah satunya adalah kecepatan transfer file sampai 100 kali lebih cepat daripada bluetooth. Jadi, nggak khawatir lagi bakalan lama mengirim file.

#4. | Baterai Kuat

Jadi ingat, saat kemarin kami jalan-jalan ke Batu, Malang. Perjalanan belum selesai, baterai sudah habis. Bikin bete maksimal karena kami melewatkan kabut cantik di jalan pegunungan yang jarang-jarang ditemui. -_-

Lantas, bagaimana dengan Oppo F5?

Jujur, saya udah sangsi duluan karena layarnya yang gede dan OSnya pun tergolong kelas tinggi (prosesssornya menggunakan Mediatek octa-core 2.5 GHz) 

Namun ternyata berdasarkan uji coba, dengan pemakaian normal, baterai Oppo F5 dengan kapasitas 3200mAH ini sanggup bertahan sampai 14 jam. 

Pengisian baterai juga sudah mendukung teknologi fast charging sehingga nggak perlu lagi lama-lama menunggu charge penuh.

#5. | Aman 

Selama Travelling, tentunya kita harus memperhitungkan keamanan perangkat, iya nggak?

Nah, Oppo F5 ini ternyata sudah dibekali dengan bodi belakang dari bahan polikarbonat dan Gorilla Glass 5 yang membuatnya tahan gores, sensor sidik jari juga bisa kita temukan di bagian belakang perangkat.

Belum lagi fitur Facial Unlock yang mampu membuat titik khas wajahmu sebagai password smartphone. Dan bukan fitur main-main karena sistem facial unlock ini sanggup memindai 128 titik wajah dengan tempo waktu kurang dari 1 detik. 

Dengan fitur begini, sepertinya memang akan sangat cocok dengan traveller yang tetap memerlukan keamanan dan privasi saat di perjalanan.

Fitur lainnya juga tak jarang y menarik, misalnya saja fitur "Jangan Jangan ganggu / Do Not Disturb".

Fitur satu ini sangat membantu pengguna yang sedang bermain games agar tidak terganggu dengan panggilan masuk.

Cocok untuk para penikmat game online. Pas lagi asik maen AOV misalnya, panggilan masuk dari istrinya atau kerabat nggak akan mengganggu lagi. ^^

Yang paling menarik buat saya adalah fitur Kids Space

Seperti namanya, fitur ini adalah ruang yang dibuat untuk anak-anak saat menggunakan smartphone agar tidak mengganggu fungsi dan penggunaan oleh orang tuanya. Jadi tidak perlu khawatir lagi file atau aplikasi tiba-tiba menghilang sehabis perangkat kita dipakai anak. Cocok banget nih buat para emak kayak saya yang sering banget hp nya dibajak si kecil. 😁

Intinya sih, perlindungan Oppo F5 menurut saya memang bisa diacungi jempol.

Fitur Kids Space

Yus Lianson dari kanal Tech&News Liputan 6 kemudian hadir di sesi kedua untuk menjelaskan fitur-fitur canggih yang tersemat pada Oppo F5 dari sudut pandang beliau.

Beliau menggunakan contoh berupa foto pribadinya yang diambil menggunakan smartphone Oppo F5. Bagaimana hasil foto saat keadaan minim cahaya, lalu bagaimana hasil foto selfie kamera depannya, lebih ke eksplorasi kamera.

Belakangnya bisa bokeh a la DSLR. Tapi ternyata cuma pakai Oppo.
Sumber: liputan6.com

Dan hasilnya maknyussss... (bukan makanan sih, padahal :p)

Hasil foto selfie Mas Yus Lianson membuktikan kalau hasil kamera Oppo F5 dengan fitur beautify sekalipun, hal itu nggak serta merta membuat muka beliau jadi semulus porselen, Seperti slogannya Capture the real you. Hasil foto tetap menampilkan wajah mas Yus Lianson apa adanya dengan garis wajah maskulin khas lelaki. 



Sesi ketiga, ada Mbak Novi Nadya dari kanal lifestyle Liputan 6 yang menjelaskan dari sudut pandang beliau sebagai jurnalis dan juga perempuan yang doyan pepotoan.

Selfie mbak Novi nadya
sumber: liputan6.com

Pada sesi ini, Mbak Novi banyak sharing tentang aktivitas beliau yang banyak menggunakan smartphone saat bekerja. Misalnya saja saat menulis artikel.

Menurut mbak Novi, smartphone sebagai gaya hidup adalah sesuatu yang tidak bisa terbantahkan, apalagi untuk jurnalis yang harus selalu siap sedia. Maka kehadiran Oppo F5 ini benar-benar membantu beliau dalam aktivitasnya.




Nah, terakhir ada Kadek Arini, travel blogger yang sudah ngeblog selama 4 tahun dan jalan-jalan ke lebih dari 20 negara ini sharing soal pengalamannya travelling ke berbagai negara dan juga memaksimalkan fungsi smartphone untuk kepentingan media sosial.

Arini bercerita tentang perjalannya yang paling jauh menuju Afrika dan paling berkesan ke perbatasan Pakistan dimana masyarakatnya ganteng-ganteng seperti Al-Ghazali. (Wih, saya jadi kepo! πŸ˜†) 

Meskipun perjalannya backpacking-an selama seminggu itu terkendala bahasa karena harus menggunakan bahasa isyarat. Arini mengatakan perjalanannya tetap berkesan.

Selesai cerita seru dari Arini, acara akhirnya ditutup dengan sesi tanya jawab.

Asyiknya, penanya terbaik berhak mendapatkan hadiah. Btw, dari awal emang bertabur hadiah sih, sampai ada yang menang undian smartphone Oppo segala. hihi..

Nah, acara selesai, undangan kemudian dipersilakan untuk makan malam. Namun, sebelum makan, saya cepet-cepet ngacir ke booth Oppo.

Saya pengen membuktikan langsung tagline Oppo F5, Capture The Real You.

Karena itu saya akhirnya nyoba-nyoba kameranya buat dibandingkan dengan hasil foto di hp biasa.

Iyaps. Saya pengen membuktikan langsung omongannya Mas Aryo soal kecanggihan kamera selfie Oppo F5

No picture = hoax kalau kata orang asing. hehe

Kiri: kamera depan hape biasa.
Kanan: Kamera depan Oppo F5 


Daaaan... It’s beyond my expectation. Ternyata emang hasil selfie pakai kamera depan hp biasa dan dengan menggunakan Oppo F5 ini berbeda jauh. 

Saya jadi ingat jargonnya Oppo sebagai Selfie Expert & Leader. 😁

Nah, dari hasil foto diatas dengan menggunakan 2 kamera yakni perangkat biasa dan Oppo F5, dapat kita lihat di foto sebelah kiri kalau noise diredam sedemikian rupa hingga hasil fotonya menjelma menjadi manusia tanpa pori. Bak artis korea yang punya skincare regime 10 step. Hahaha... 

Sedangkan dengan menggunakan Oppo, warna foto lebih 'hidup'. Meskipun sudah menggunakan fitur beautify, beberapa kekurangan diwajah saya masih terlihat. Noda di gigi juga kelihatan. πŸ˜‚

Hmmm... Foto saya jadi terlihat lebih manusiawi. :'D

Tapi emang jadinya makin cantik sih, jadi semakin mirip dengan aaslinya.
*digampar pembaca πŸ˜‚

Hasil selfie tanpa editan dengan menggunakan Oppo F5.

Verdict

Kalau menurut saya, Oppo F5 ini memang mencukupi persyaratan untuk menjadi smartphone teman terbaik bagi travel blogger.

Jika melihat kemampuan kamera depan dan belakang serta 4 poin yang sudah saya jabarkan diatas. Maka pastinya dengan paduan kelima unsur tersebut akan mendukung perjalanan menjadi lebih berkesan dan juga bisa bye-bye dengan kamera jahat. ^^

Nah, bagaimana kalau menurutmu?

Tuliskan pendapatmu di kolom komentar yaa!
Saturday, January 20, 2018

Mengisi Akhir Tahun Bersama Keluarga di Belitung, Negerinya Laskar Pelangi.

Belitung, liburan ke belitung, laskar pelangi, andrea hirata


“Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga... Bersyukurlah pada Yang Kuasa, cinta kita di dunia, selamanya....” Potongan lagu itu tentu sudah akrab di telinga kita. Yup, Laskar Pelangi! Cerita yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan satu ini memang terlalu keren untuk dilewatkan. Terlebih buat saya yang seorang pengagum karya-karya Andrea Hirata.

Membaca novel beliau yang bersettingkan pulau Belitung membuat saya ikut-ikutan terbayangkan bagaimana hangatnya suasana disana.

Tunggu, pulau Belitung?

Ya! Pulau cantik yang terletak di barat laut Indonesia ini ternyata bukan hanya menawarkan spot-spot menakjubkan yang menjadi setting cerita Andrea Hirata dan kawan-kawan 43 tahun yang lalu. Tapi lebih jauh, juga memiliki berbagai tempat menarik dan kekayaan kuliner yang siap menggoyang lidah.

Rasanya kalau membaca berbagai cerita traveller yang mampir ke pulau Belitung, saya jadi kepingin memasukkannya ke dalam salah satu list bagian Indonesia yang paling ingin saya kunjungi.

Saya pengen suatu saat nanti mengajak keluarga kecil saya (saat ini sama paksu dan Syuna) untuk pergi kesini. Melihat betapa indahnya  Indonesia dan juga mengajarkan pelajaran berharga dari cerita Laskar pelangi yang menginspirasi dunia. :)

Ah, Belitung memang menarik!

Gimana ya caranya supaya saya bisa kesini?

Pertama-tama. Ya menabung dulu.

Iyaaaa... namanya juga liburan bersama keluarga, kan? Pastinya pengeluaran yang kita gunakan berbeda dengan saat travelling sendirian. Tingkat kerepotan meningkat dan level kesigapan juga mesti naik. Apalagi jika kita mengatur sendiri liburan kita.

Maka, perlu dicatat untuk memiliki keuangan yang cukup. Liburan akhir tahun bisa kita rencanakan dari sekarang, bulan pertama tahun 2018.  Sehingga kita bisa bikin target tabungan dan juga berapa ‘cicilan’ yang harus kita tabung setiap bulan agar target tercapai.


Tempat Wisata di Belitung yang Ingin dikunjungi, Apa Saja?

1. Pantai Tanjung Tinggi

Kalau ngomongin Belitung dan Laskar Pelangi. Rasanya pasti bakalan setuju deh, kalau dari potongan cerita dan filmnya, image kita tentang Belitung adalah pantai yang super cantik dengan hamparan batu granit besar.

Nah, di versi filmnya, Pantai tanjung Tinggi inilah tempatnya!

Disini, selain bisa puas-puas foto untuk menghias feed instagram, saya baca-baca juga tersedia pilihan aktivitas seru lainnya seperti snorkeling, menjelajah dengan kano atau perahu karet, juga bermain dengan jetski yang disewakan khusus.

Alternatif lainnya yang sama-sama pantai cantik adalah Tanjung Pendem yang katanya punya sunset kece. 

Bisa bermain bak Lintang, Mahar, Ikal dan teman-temannya disini yaaa... *mupeng

2.Museum Kata, Andrea Hirata.

Jelas, buat saya yang satu ini tidak boleh ketinggalan!

Museum yang berada di desa lenggang Gantung, Belitung Timur ini merupakan tempat penyimpanan dokumentasi yang berkaitan dengan Laskar Pelangi dan juga hal sastra.

Belitung, liburan ke belitung, laskar pelangi, andrea hirata


Ruangan yang berada di Museum Kata ini juga menggunakan nama tokoh-tokoh yang ada di novel Laskar pelangi. Dan seperti namanya, museum ini didirikan oleh Andrea Hirata, penulis buku Laskar Pelangi.

3. Replika Sekolah Laskar Pelangi

Ah, rasanya kok baper ya kalau membahas tentang replika sekolah Laskar Pelangi ini?

Saya terharu banget kalau teringat dengan ketulusan seorang guru seperti Ibu Mus yang sabar dan ikhlas mengabdikan dirinya untuk mendidik anak bangsa. Apalagi kalau melihat gambaran bagaimana ruangan kelas tempat cerita itu terjadi yang teramat sangat sederhana seperti yang ada di tempat ini.

Ah, nggak heran lah pokoknya kalau dunia pun bisa terinspirasi dengan Laskar Pelangi. Kalau kamu juga suka dengan Laskar pelangi, maka tempat ini wajib kamu datangi!

4. Pulau Lengkuas.

Di pulau Lengkuas ini terdapat mercusuar kuno setinggi 70 meter yang ikonik. Mercusuar ini dibangun pada masa penjajahan Belanda tahun 1882. Berarti tahun ini usianya sudah 136 tahun ya? 
Waah... Menarik! Berarti bangunan ini bersejarah panjang.

Katanya, kita juga diperbolehkan untuk naik ke atasnya, lho! Ah, kepo kan saya jadinya. Pasti view dari sana cantik banget.

Oh iya, di sekitar pulau yang konon berasal dari pelafalan ‘long house’oleh Belanda yang salah didengar pribumi  menjadi ‘lengkuas’ ini. terdapat gugusan pulau-pulau kecil lainnya seperti Pulau Basir, Pulau Pelayar, Pulau Burong yang bisa katanya bisa disinggahi dalam satu rute. Sehingga sekali jalan tidak akan rugi karena bisa langsung ‘mencicipi’ beberapa pulau.

5. Mie Belitung 'Atep' & Olahan Seafood (Semua tentang makan-makan!)

Seperti biasa, bila sedang jalan-jalan ke daerah pantai maka saya paling tertarik dengan olahan seafood-nya. Saya bisa tutup mata dengan makanan yang lain kalau sudah disodorkan sepiring kepiting besar atau kerang yang mengintip manja. Huhuhu

Tapi, rasanya Mie Belitung 'Atep' ini juga tak salah bila dicoba. Tak lupa juga dengan kopinya. Hehe.. Saya penasaran dengan Kopi Kuli yang katanya antriannya selalu mengular itu. ^^

Meskipun (ngakunya sih) seorang penikmat teh, saya juga sesekali minum kopi supaya melek nggak bobok melulu.

Mewujudkan Rencana Ke Belitung

Ngomongin itinenary emang asik ya?

Tapi lanjut ke bagian gimana caranya kesana deh. Hunting tiket pesawat, hunting hotel, akomodasi selama disana, biaya makan, ngurusin koper, ngurusin oleh-oleh.
Uulala... pusing juga ternyata.

Apalagi soal hunting tiket dan hotel itu. Kadang suka riweuh sendiri karena ngurusinnya mesti nge-cek satu-satu. 

Sebagai mom-hectic, buat saya ini lumayan menghabiskan waktu, tapi tetap harus saya kerjakan sih, karena saya kepengen dapat harga yang paling terjangkau dengan pelayanan yang paling oke oce.

Setelah cek harga tiket pesawat dan hotel sana-sini, akhirnya saya tahu kalau Traveloka sekarang punya pemesanan tiket+hotel dalam satu paket.

Iseng, saya coba saja ngeklik. Gimana sih paketannya?

Ternyata menarik, karena paket pesawat+hotel ini menurut saya lebih mudah digunakan dan juga menghemat waktu dan kuota buat browsing.

Lebih lanjut, bila pesan paket pesawat+hotel ini secara bersamaan, maka harganya akan jatuh lebih hemat daripada memesan terpisah

Hematnya bisa sampai 20% pula.

Aih, Naluri emak-emak bangkit nih denger kata ‘lebih hemat’ disini. Hahaha


Apalagi kalau dihitung-hitung, lumayan kan kalau semisal selisih uangnya dipakai buat nambah-nambahin biaya travelling? Dua-tiga porsi mie Belitung 'Atep' juga lumayan dong :D

Bayarnya juga dipermudah dengan adanya beberapa pilihan. Saya senengnya sih bayar lewat Indomaret aja sekalian beli makanan. Nggak perlu ngacir ke ATM bawa balita. huhuhu

So, buat yang mau berlibur ke Belitung seperti saya, boleh deh pesan paket pesawat hotel Traveloka supaya perjalanannya lebih mudah dan juga lebih hemat.

Apa? Kode promo? Oh, dia nggak perlu kode apa-apa... Jadi bisa langsung dilakukan tanpa menggunakan kode promo apapun. Lebih gampang dan sederhana prosesnya :)

Ah, Belitung... Menulis ini membuat saya rasanya semakin tertarik untuk liburan bersama keluarga kesana. Mengunjungi itinenary sendiri dan menghabiskan quality time bersama-sama. Hmm, mesti menabung dulu nih.


Yuk, persiapkan happy travelling dari sekarang!
Friday, January 19, 2018

[REVIEW] Hotel Amaris Juanda Jakarta, Strategis dan Nyaman untuk Bersinggah

Kali ini saya pengen cerita tentang hotel yang pernah saya kunjungi selama ke Jakarta pada pertengahan bulan Desember kemarin. Ya, Hotel Amaris Juanda. Hotel yang satu grup dengan Santika Hotel ini terletak di Jl. Ir. Haji Juanda No.3, Juanda, Jakarta Pusat, 10120. Tempatnya lumayan strategis.

Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Hotel Amaris Juanda ini saya tempuh dengan menggunakan angkutan mobil online, lebih cepat dan praktis karena saya pergi bersama 3 teman dan satu bayik unyu-unyu.

Alhamdulillah, karena saat itu jalanan tidak terlalu macet, maka dalam waktu kurang lebih 45 menit, kamis sudah mendarat dengan selamat sentosa di hotel. Padahal sore-sore, lho. Beruntung banget karena trafiknya lancar jaya, kata pak driver.

Oh, iya. Pak driver yang kami pilih juga ternyata ramah dan suka mengobrol sehingga perjalanan tidak terasa membosankan. Meski saya hanya bisa ooh-oh saja mendengarkan percakapan mereka karena kelaperan, hehehe.

Pak driver ini juga sempat membully bercanda karena ini pertama kalinya saya ke Jakarta Hahahaha :'D

Hotel Amaris Juanda Jakarta


Sampai di hotel, kami menunggu sebentar konfirmasi dari staff hotel untuk kamar kami. Ada satu dari empat kamar yang kami pesan belum diganti sepreinya, begitu katanya. 

Tak apa, kami menunggu sebentar sembari menikmati secangkir teh panas sambil berfoto-foto. Salah satu sudut hotel dengan gambar peta Jakarta menjadi objek yang sayang bila terlewatkan.


Beberapa take foto, kamar sudah siap. Kami pun segera menuju kamar masing-masing.

Fasilitas Kamar Hotel Amaris Juanda jakarta

Kamarnya menurut saya cukup besar untuk saya yang menginap sendirian. ^^

Ada satu bed, satu meja, LED TV, AC, dan juga beberapa hanger baju yang bergantung di space kecil ujung kamar. Ada pula 2 lembar handuk dan 2 botol air  mineral lengkap beserta gelasnya yang siap digunakan.

Kamar disini juga sudah menggunakan sistem kartu yang berhubungan dengan listrik seperti hotel modern lainnya. 

Menurut saya tak salah konsepnya smart trendy, meskipun kesan yang saya tangkap adalah minimalis. ^^

Hotel Amaris Juanda Jakarta


Ngomongin bobok...

Kasurnya empuk, cocok buat leyeh-leyeh manja. Sayangnya, waktu nyari-nyari channel tipi saya nggak ketemu animax atau korea. Nggg, Korea ada sih, cuma reality show yang kurang saya suka. 

Hmmm... apa saya waktu itu mencet remotenya kurang jauh ya? :(

(Udah tuwir masih nonton anime aja nih emak :'D)

Hotel Amaris Juanda Jakarta


Tapi tak apa. Karena Wi-Fi disini kencang. Saya pakai buat download deh, tayangan di TV sedikit saya abaikan. Hehe

Kalau tidak salah, saya juga melihat ada save deposit box disini.

Overall, good .

Toiletries

Kamar mandi menggunakan shower dalam ruangan bersekat, air hangat juga sudah tersedia. Lumayan untuk melemaskan otot setelah perjalanan yang melelahkan atau aktivitas seharian yang bikin penat badan. ^^

Hotel Amaris Juanda Jakarta


Untuk sabun dan shampoo juga sudah disediakan di dispenser. 

Sayangnya tulisan yang mana shampoo yang mana sabun tidak terlalu jelas karena terhapus air. Ada bayangan tulisan yang tersisa, tapi itupun juga tidak terlalu jelas. Jadi saya main tebak-tebakan waktu mandi :(

Hotel Amaris Juanda Jakarta


Oh, iya kamar mandinya cukup luas. Ada kaca gede dan wastafel juga buat cuci muka dan sikat gigi. Tak lupa, dimanfaatkan sekalian buat media selfie dong~ ^^

Lokasi strategis

Hotel Amaris Juanda ini letaknya sangat dekat dengan stasiun Juanda. Sayangnya keinginan saya naik kereta ini nggak kesampaian karena keterbatasan waktu. :(

Selain stasiun Juanda. Hotel Amaris Juanda ini juga berdekatan dengan Mesjid Istiqlal. Cukup berjalan kaki atau naik kendaraan kurang lebih lima menit, kita sudah sampai kesana. Yang ini juga tidak sempat saya lakukan...

Hotel Amaris Juanda Jakarta

Hotel Amaris Juanda Jakarta

Dari jendela kamar, terlihat ujung Monumen Nasional (Monas) yang menyembul indah seolah-olah memanggil untuk dikunjungi.

Tapi sayangnya dari ketiganya tetap nggak ada yang sempat saya kunjungi :')

Kebersihan

Lumayan, saya rasa sudah bersih. Setiap pagi saya bertemu dengan Cleaning service dan bisa nitip sampah dengan mereka.

Parkir

Hotel Amaris Juanda Jakarta

Jika menggunakan mobil memang area parkirannya bisa dibilang sempit sih. Tapi karena saya kesini bawa badan sama barang doang. Jadinya ya nggak masalah ^^

Pelayanan Staff 

Entah karena apa, hari kedua kami disini kamar kami terkunci dan kartu kamar tidak bisa berfungsi. Sempat mengira salah kamar, tapi ternyata memang ada gangguan. 

Kami pun segera menuju resepsionis dan mengadukan hal ini. Segera sesudahnya, kamar pun bisa dibuka kembali.

Pelayanannya ramah. Tapi tetap aja, capek juga habis pulang dari luar udah bolak-balik lagi naik turun ngurusin kartu kamar. πŸ˜‚
(Waktu itu saya di lantai 2)

Makanan Lezat.

Oh iya, disini kita dapat free sarapan dengan menu yang beragam. Dari roti panggang, bubur, telur dadar sampai menu prasmanan yang siap mengisi perut.

Senang, soalnya lumayan banyak pilihannya ^^

Hotel Amaris Juanda Jakarta

Hotel Amaris Juanda Jakarta

Hotel Amaris Juanda Jakarta


Untuk minuman, disediakan teh dan kopi yang saya lihat selalu bisa dinikmati kapan pun. Saya dua kali minum disini, yakni siang saat baru datang dan malam sebelum pulang. 

Kalau mau meet up dengan teman, bisa duduk di @xpress ini, ngobrol ditemani secangkir teh atau kopi hangat tentu bikin obrolan jadi makin mengalir, ya?

Dan, oh iya, khusus pagi ada disediakan infused water yang segar. Cocok untuk yang mau sarapan sehat. ^^

πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…

Final verdict.

Hotel Amaris Juanda ini lumayan oke untuk tempat bersinggah melepas penat setelah jalan. Cocok untuk para traveller atau eksekutif karena juga memiliki ruang pertemuan yang bisa digunakan.

Hotel Amaris Juanda Jakarta


Harganya juga relatif terjangkau, meski jika membawa keluarga sepertinya akan sedikit kurang nyaman karena tidak ada ekstra bed. 

Space kamar sepertinya ditujukan untuk maksimal dua orang dewasa. Jadi kalau buat Travelling sendirian menurut saya ini udah lebih dari cukup.

Nah, Mau coba menginap?

Salam, Happy Travelling!
Sunday, January 14, 2018

Pulang Kampung Ke Kalimantan. Travelling Kemana Enaknya?

Liburan telah tiba. Yeay! Bulan ini kami sekeluarga akhirnya punya kesempatan untuk pulang ke kampung halaman di Kalimantan. Rencana matang untuk pulkam ini sebenarnya baru muncul seminggu terakhir, sebelumnya kami sempat berniat untuk menghabiskan liburan dengan jalan-jalan di Malang saja. Kebetulan ada banyak sekali spot wisata kece disini yang ingin saya datangi.

Rasanya setiap sudut Malang penuh dengan godaan untuk didatangi. Hehe

Tapi nih, karena nenek yang dengan gencarnya menelpon beberapa minggu belakangan, kami pun pikir-pikir lagi.

Ah, iya, beliau pasti kangen sekali dengan Syuna, cucu tunggal beliau saat ini yang masih belum ada saingannya.

Saat nenek menelpon, beliau selalu menanyakan kabar Syuna dan juga tak ketinggalan pertanyaan seperti 'kapan Syuna pulang ke tempat nenek?'.
Kode keras, kan? Hihi

Dalam hati yang terdalam, kami sebenarnya pengeeen banget pulang.

Kami memutuskan untuk tinggal saja dan jalan-jalan sebagai pengisi aktivitas mengisi liburan. Lagian, kan mumpung di Malang, gitu lho. 😁

Iya, jadi awalnya kami nggak mau bangkrut beli tiket pesawat bolak balik, secara Syuna udah dihitung satu tiket dan masih belum sampe dua bulan pindahan ke Malang, eh udah masuk liburan perkuliahan dan kami udah pulang lagi ke Kalimantan. Lumayan kan harga tiketnya kalau penerbangan awal tahun gini πŸ™„

Teringat lagi resolusi saya di tahun 2018. Saya mau menabung lebih banyak tahun ini.

Dan saat saya memeriksa harga tiket.

Hmmmmmmmm, ini kok pada mahal semua yak? πŸ€”πŸ˜‚

Mencari Tiket Murah.


Sebagai emak irit, saya biasanya selalu membandingkan harga antara satu jasa pencarian dengan yang lainnya supaya dapat harga yang paling terjangkau. Biarpun cuma 10-50ribu, biasanya yang harganya lebih murah akan saya prioritaskan.

Lumayan, kan? Uang yang jadi selisih harga itu bisa buat akomodasi menuju bandara. Jadinya pengeluaran bisa dihemat. 



Saya meng-install beberapa aplikasi jasa pencarian tiket di smartphone saya untuk mempermudah pencarian. Jadi pas lagi butuh, was wis wos, langsung bisa saya cek satu-satu.

Seperti kemarin, saat sudah fix mau pulang, saya dan suami pun segera memeriksa smartphone. Siapa tahu ada tiket pesawat promo yang masih bisa kami pakai.

Dan Alhamdulillah, ada!

Dengan memakai voucher dari aplikasi Airy rooms, kami dapat promo potongan harga tiket pesawat sebesar 120ribu untuk beberapa transaksi tertentu yang saya lakukan.

Buat saya itu lumayan banget. Secara, dari bandara menuju rumah saya ke Tapin kan masih perlu biaya yang lumayan lagi.

Tips-tips mencari tiket murah seperti misalnya membeli tiket penerbangan pagi di hari kerja juga sudah kami terapkan lho, jadi udah maksimal banget deh kayaknya buat menekan harga ini.

Travelling di Kalsel. Mau Kemana?


Dan untuk mengobati sedikit rasa pengen dolanan di Malang yang batal. Maka saya akhirnya memutuskan untuk membuat sedikit catatan tentang beberapa tempat wisata di Kalimantan Selatan yang pengen saya kunjungi, Insha Allah bila sempat nih ceritanya 😁

Nggak banyak-banyak. cukup tiga saja tapi kemungkinan bisa dilakukan besar.

Kemana? Ini dia:

1. Amanah Borneo Park.

Lagi booming nih. Hehe

Tempat wisata yang satu ini sudah saya target sejak masih belum rame, tapi berhubung pak suami sedang banyak kesibukan pas pengen saya ajak, eh akhirnya saya nggak jadi-jadi kesini sampe sekarang udah ramai.

sumber: banjarmasinpedia

Paduan antara pemandangan hijau yang menyegarkan mata, wisata yang edukatif, dan tempat-tempat yang sangat instagramable bikin tempat ini langsung nge-hype. Katanya sampai ada wisata petik buah juga. Keren kan?

2. Bukit Palawan

Berjarak setengah jam dari Tapin, yakni di Kandangan. Ada Bukit Palawan yang menawarkan spot foto cantik berupa panggung dan gardu untuk berfoto-foto. Ya agak-agak mirip dengan Coban Rais. Namun lebih menonjolkan sisi hijau alami yang menjadi latar belakang pemandangan.

credit foto : IG mtma_tamianglayang


Saya juga pengen kesini. Jika memungkinkan, saya ingin mengakan Syuna ikut serta.

3. Mesjid Keramat Al-Mukarromah Banua Halat.


Diyakini sebagai mesjid tertua di Kabupaten Tapin. Mesjid yang diyakini sebagai kampung pembatas antara dua agama ini menyimpan banyak sekali cerita menarik dan juga hal-hal magis. Misalnya satu tiang utama yang masih kokoh bertahan sejak pembangunannya pada tahun 1840 (hampir 2 abad!) dan bejana keramat yang berasal dari dinasti Tsung.

Ah, hal terakhir membuat saya penasaran. Soalnya meskipun saya beberapa kali kesana saat ada acara Baayun Maulud, saya tidak memperhatikan sampai ke tajau (bejana) yang ada disana. ^^

sumber wikipedia

Ah, merunut tiga destinasi travelling diatas membuat saya jadi gembira dan bersemangat!

Soalnya karena domestik dan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah saya di Tapin, sepertinya bukan hal yang sulit deh untuk menyisihkan sedikit dana untuk biaya perjalanan.

Kan’ sebelumnya balik ke Kalimantan saya udah saving beberapa ratus ribu saat memanfaatkan tiket pesawat promo? Hehe...
Jadi masih ada sisanya meskipun sudah sipakai untuk perjalanan sepulang bandara kemaren. ^^

Yuk, happy travelling!
Monday, January 08, 2018

11 Hal yang Saya Pelajari dari Drakor Go Back Couple



11 Hal yang Saya Pelajari dari Drakor Go Back Couple – Akhirnya, setelah lumayan lama nggak nonton drama Korea lagi pasca hebohnya Goblin. Saya menemukan juga drakor bikin saya penasaran. Iya, penasaran. Soalnya di WAG sana-sini bertebaran bujukan kalau katanya drama yang satu ini cocok buat yang sudah berkeluarga.

Ditambah lagi pas saya berselancar di Instagram, ada teman yang lagi anniversary pernikahan dan pakai quote dari drama Go Back Couple ini. 😁

Fix, penasaran maksimal deh saya jadinya. Hehe...

Dramanya tentang apa sih? Yeps, seperti judul blogpostnya, Go Back Couple!

Ceritanya soal sepasang pasutri (Couple) satu anak yang sedang mengalami masalah rumah tangga dan memutuskan buat bercerai. 

Terus kenapa jadi Go Back? Ya karena mereka ujung-ujungnya rujuk lagi~

Drama Korea satu ini mengusung tema time travel, jadi diceritakan kedua suami istri tersebut diberi 'kesempatan' untuk kembali ke masa muda mereka dan menjalani hidup mereka sejak baru mengenal. 

Nah, di sepanjang cerita masa muda mereka bertaburan banyak sekali life lesson yang bagus banget, terutama soal rumah tangga.

🏡🏡🏡

SINOPSIS

Go Back Couple/ Confession Couple (κ³ λ°±λΆ€λΆ€) berfokus pada cerita Choi Ban Do (Son Ho-jun) dan Ma Jin Joo (Jang Na-ra). Pasangan suami istri ini punya masalah masing-masing tentang partnernya.

Ma Jin Joo misalnya, sang istri ini merasa suaminya yang sekarang menjadi begitu pelit, nggak perhatian dan lebih mementingkan pekerjaan.

Jin Joo merasa lelah dan kelimpungan mengurus anak sendirian. Sebagai Ibu yang diceritakan tanpa ART, Jin Joo makan dan bahkan pup pun sambil mengurus anak. 

Oke, yang terakhir ini saya (dan ibuk-ibuk rumah tangga lainnya) juga pasti pernah merasakan ya?? 
Pas lagi enak makan anak nangis, pas lagi panggilan alam digedor-gedor πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Selain itu Jin Joo juga merasa nggak punya waktu untuk mengurus penampilan lagi seperti saat mudanya yang begitu stylish dan fashionable.

FYI, Jin Joo saat kuliah merupakan perempuan tercantik di fakultasnya. ✨

Setelah married, dia merasa penampilannya malah menjadi lusuh karena sibuk mengurusi rumah dan anaknya.

Hauuuh, scene yang menggambarkan kondisi ini juga bikin baper, saya jadi terbayangkan bagaimana kalau ada di posisi Jin Joo saat bertatapan dengan para gadis stylish dan dipandang dengan aneh karena penampilan yang acak-acakan, pas lagi bawa anak pula. πŸ’”

Balik lagi ke pasangannya, Choi Ban Do, suaminya ini juga nggak jauh beda sama yang istri, alias sama-sama punya masalah. 

Ban Domerasa kalau istrinya yang sekarang seperti sibuk sendiri dan jadi pemarah. Ban Do juga merasa tidak didukung saat bekerja, padahal dia punya beban kerja yang segambreng. πŸ™

Ban Do memang tipe pekerja keras, demi keluarganya dia melakukan apapun, termasuk melakukan suruhan ‘kotor’ dari dokter Park yang menjadi klien perusahaan farmasi tempatnya bekerja.

Sayangnya bagian pengorbanan tulus Ban Do ini luput dari perhatian Jin Joo yang sudah negatif duluan.  

πŸ’ŒπŸ’ŒπŸ’Œ

Seperti biasa, waktu nonton drama ini saya ngerayu suami supaya mau nonton bareng. Soalnya meskipun India lover, belakangan paksu semakin mau saya cekokin drakor. πŸ˜†


Oke deh, habis kami berdua nonton maraton drama ini dalam 24 jam. (Suami saya nonton maraton dari pukul 6 sore sampai jam 3 sore besoknya). Banyak banget hal-hal yang saya dan suami bisa jadikan pelajaran buat bekal berumah tangga kedepannya. 

Setidaknya, ada 11 hal yang kami pelajari dari drakor Go Back Couple.

Apa aja? Ini dia...


πŸŽ€ 1.  Married is not easy πŸŽ€

Diawal pernikahan, Jin Joo dan Band Do juga saling mencintai, mereka dimabuk asmara dan begitu bahagia.

Tapi, apa pernikahan segampang itu?

go back couple, drakor go back couple
via @kutipan.drama.korea

Tidak sodara-sodara. Apalagi kalau kelen terpapar tayangan dengan kandungan family goals begini-begini-begini, tidak akan gampang menyeimbangkan isi dua kepala. Banyak toh contohnya.

Menikah adalah menyeragamkan visi dan misi, kita nggak bisa menyamakan isi kepala. Karena itu nggak mungkiiiin.... Rasanya mustahil sampai kapanpun, kecuali cuci otak terus di doktrin.πŸ˜‚

Manusia kan beda-beda. Kembar identik pun juga punya perbedaan. Kalau cuma selera makan yang berbeda masih bisa diakali, tapi kalau cara berpikir kan jadinya lebih sulit.

Married is not easy. But every hard stuff will always bring us a big lesson.

Kalau lelah mengerjakan tugas akhir kuliah, perempuan maunya nikah aja supaya beban hidup kelar. Padahal salah besar~

Welcome to the jungle. πŸ™

Jangan terlalu mengkhayal habis nikah jadi puteri raja. Habis menikah kita akan ditempa untuk meredam ego dan memahami banyak orang asing, ada mama mertua, bapak mertua, ipar, tante, paman, kakek, nenek, dan seterusnya. (Semakin keluarga besar, biasanya semakin kompleks πŸ˜‚)

Jadi, menikah bukan perkara gampang. Meskipun baru 3-4 tahun menikah, saya juga merasakan kok. 

Entah ya bagaimana bila sudah 13 tahun (?) macam Jin Joo dan Ban Do ini. Tapi katanya sih yang sulit itu di 5 tahun pertama. Hehe


🎈 2. Hubungan yang Dewasa, Bukan Cinta Semata tapi Juga Penerimaan.🎈

Ah, basic banget ya kan buibu.

Women from Venus, Men from Mars. Then, why God send us to earth? To raising our family and children lah. Buat apalagi~

Laki sama bini itu kadang bisa jadi kebalikan, tapi ya begitulah adanya, saling melengkapi, saling menyempurnakan. πŸ’•

Kelebihan pasangan kita jadikan pelecut semangat untuk menjadi lebih baik, sedangkan kekurangan pasangan kita jadikan ladang pahala untuk bersabar. Eaaa... 

Kenyataannya, terkadang kita malah meluapkan kemarahan kita justru pada orang terdekat yang paling kira sayangi.😢

Ban Do misalnya, dia sayang dengan Jin Joo, tapi justru memarahinya.

Sama dengan Jin Joo, dia menyayangi Ban Do, tapi malah membuat situasi semakin runyam dengan berbagai luapan emosi.

Mamam tuh cinta. 

Setelah bertahun-tahun menikah, kebanyakan dari kita nggak akan lovey dovey seperti newly wed. Hanya sedikit yang bisa mempertahankan romantisme macam Habibi Ainun.

"Hubungan kelak akan berjalan karena sudah dewasa dan bisa menerima serta memahami, bukan karena cinta semata lagi." Begitu kira-kira kata paksu yang mendadak bijak.

Ah, Long life drakor.



🌝  3. Peka Terhadap Keadaan Pasangan 🌝

Seiring waktu, ada sebagian perasaan kita yang luntur, dan ada bagian lainnya yang menebal.

Masih ingat dong, awal-awal nikah, selalu ngasih kabar, sebentar-sebentar manggil "yank...", sebentar-sebentar mesra cem lovebirds. 

Apa? Kalian nggak gitu? Ya anggap aja gitu deh.
*malah maksa*

Yang mana kalau jalan-jalan tangannya mesti saling genggam, mau AC sedingin apapun kehangatan mengalir lewat tangan kita yang saling meraba.

Pernah? Ingat?
(pembaca: NGGAAAAK πŸ˜‚)

Tapi habis punya anak dan jadi sibuk, semua jadi terasa hambar, nyaris nggak punya quality time berdua buat pacaran, yang semula selalu menggenggam hangat, sekarang melenggang seolah tidak perduli dengan pasangan yang kerepotan di belakang.

Peka dengan kondisi pasangan bukan hanya sebatas menyediakan kebutuhannya doang, tapi memperhatikan kesejahteraannya.

Dari sini saya belajar, mungkin buat saya sebagai istri, mungkin saya bisa ngasih waktu buat suami berteman dengan teman-temannya, atau mungkin memberi izin sama aktivitas yang menjadi hobinya? misalnya main futsal, fotografi, modif motor, koleksi gundam.

Yah, asalkan nggak lupa waktu sama menguras jatah bulanan sih ya, Abah? 😜

Nah, kalau kesejahteraan istri? 

Perhatian dan kasih sayang, waktu me time cukup, budget centil cukup, uang shopping aman, setia, menepati janji dan bicara lemah lembut.
Hal-hal kecil begitu menurut saya.juga termasuk kesejahteraan.

Apaan hal kecil ya, itu semua penting. LOL



Atau nggak usah repot-repot, cukup sediakan waktu luang buat ibu-ibu untuk menikmati sedikit 'kemewahan' tanpa harus mengurus anak. Iya, sekali-sekali gantian deh supaya impas kan ya?

Emak memang sekolah pertama anak, tapi Kepala Sekolahnya juga wajib care dong sama kesejahteraan sekolah. 😏😁

Guru nggak sejahtera, gimana muridnya hayoloo

⭐ 4. Berkomunikasi yang baik. ⭐

Sometime, you need to say it loud.

Minimalisir kode dan katakan apa yang sebenarnya.

The ultimate problem is, kebanyakan perempuan (saya salah satunya) suka main kode a la anak pramuka. Ada masalah dikit, bukannya ngomong malah dieeeeeem.
Diemnya itu obviously ketahuan banget caper. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Yang biasanya:

πŸ‘¨: "Ma masak apa hari ini?"
πŸ‘©: "Masak tongkol balado sama urap, Abah mau dibikinin sambel kacang yang pedes lagi kayak kemaren? Stok ikan kita mau habis nih, besok Jagain Syuna ya? Mama mau kepasar pagi-pagi, nanti susah kalau siangnya Abah di kampus Syuna kelaperan, siang udah nggak ada paman dagang sayur lewat, kan besok hari jumat. Bla bla bla"

Menjadi:

πŸ‘¨: "Ma masak apa hari ini?"
πŸ‘©: "Ikan goreng."

Serius, sedikitnya kata perempuan kata suami saya adalah indikator dia lagi senang apa nggak. πŸ˜‚

Lagian, emangnya suami punya indera ke-6? Clairvoyance? Bisa telepati macam Pikollo?

Tidak, mereka manusia biasa.



Komunikasi dalam pernikahan Ma Jin Joo dan Ban Do juga adalah masalah utama. Masing-masing merasa terabaikan, Band Do setelah seharian bekerja keras kesana kemari, memuaskan para pelanggan obat dengan harapan karirnya lancar, lalu pulang ke rumah dalam keadaan emosional karena lelah.

Ban Do tidak berbagi sedikitpun cerita dengan sang istri karena tidak mau membebani.

Yang istri beda lagi, dia juga lelah seharian dirumah mengurus anak, Ibu-ibu rumah tangga dengan balita tanpa ART pasti mengerti perasaan ini.

Perasaan bertemu dengan tokoh yang oh-aku-bisa-mengerti-perasaan-ini dan merasa berempati karena sedikit banyak ada bagian yang bisa kita relate dengan diri sendiri.

Jin Joo merasa hidup suaminya tentang bekerja dan bekerja saja, tidak ada waktu untuknya, tidak ada kehangatan lagi, tidak ada perhatian lagi. 

Tidak ada cerita lagi. Hanya ketegangan.

Jurang ini akhirnya kian melebar, tembok penghalang perasaan mereka kian menebal dan puncaknya hilanglah sudah kepercayaan.

Hanya dengan satu kesalahpahaman saja, hubungan mereka berakhir.

Dan masalahnya memang di komunikasi. 
Karena komunikasi adalah k o e n t j i kelancaran sebuah hubungan.

πŸ‘΄ 5. Mengunjungi Orang Tua dan Memperhatikan Mereka πŸ‘΅





Saya pernah dengar adab di Korea tentang pernikahan kedua, jadi sesudah pasangan pertama tiada/cerai, maka harus ada jeda beberapa tahun dulu baru boleh melakukan pernikahan kembali.

Nah, di Go Back Couple ini ayahnya si Jin Joo menikah lagi sesudah ibunya meninggal baru satu tahun. Jin Joo kesal tanpa menyadari bahwa ayahnya melakukan itu karena kesepian.

Bagian ini juga bikin baper, saya jadi pengen cepet-cepet pulang ke tempat mamaaa... hiks

🎏 6. Tidak mengungkit-ungkit masa lalu. 🎏


Yang berlalu biarlah berlalu. Jangan diungkit-ungkit lagi, apalagi soal hubungan yang sudah berakhir.

Ada yang bangga pernah pacaran dengan Mr/Ms.Perfect sebelum menikah dengan pasangan yang sekarang?😎

Well, semanis apapun. Kenangan itu cukup disimpan dalam hati. Karena jika dibagi-bagi dan ketahuan suami atau istri jadinya makan hati.

Ditatap begini sampai meleleh
via soompi.com

Se-legowo apapun orangnya, jika benar-benar cinta so pasti dalam hatinya ada percikan bara cemburu. Masa udah berikrar atas nama Tuhan Yang Maha Esa masih aja menyimpan foto atau nge-stalk akun mantan?

Nggak lucu dong ya.
Makanya, hentikan kebiasaan burukmu itu, Amira. 

(PS: Jangan buru-buru merasa di stalking mantan yang udah nikah juga, siapa tau yang makai akun itu pasangannya yang lagi kepo LOL)


πŸƒ 7. Tidak ada yang kebetulan. πŸƒ

“Kok kita bisa nikah ya?”

“Kok kamu bisa jatuh cinta sama aku ya?”

“Kok... kok... kok...”

Ya, panjang deh ceritanya kalau ngomongin keanehan dalam dunia asmara (((huek, dunia asmara πŸ˜‚))). Saya sendiri juga pernah bingung kenapa dapat suami yang nerd gini, sementara saya sering masuk daftar remedial.

Kata Tere Liye, tidak ada kebetulan di dunia ini. Segala hal yang terjadi sudah ada yang mengatur.

Pertemuan kita, perpisahan kita, sampai-sampai sehelai daun yang jatuh dari pohon yang rimbun pun sudah ada diatur dengan rinci oleh-Nya. 

Masak iya sih, pernikahan kita yang penuh barokah ini berjalan ‘kebetulan’?

Semuanya jelas ada agendanya sendiri-sendiri, tidak ada yang kebetulan.

Meskipun tetep sih ya, pertanyaan macam "do you love me" itu selalu ada dalam satu purnama. Hahaha

🌡 8. Masalah untuk dipecahkan bersama. 🌡

Menyimpan masalah dalam rumah tangga itu seperti menyimpan sampah. 

Kalau nggak dibuang ya makin busuk, makin bau, makin nggak sehat.πŸ™…

Dari kasus Ban Do, kita belajar bahwa istri juga sesekali ingin diceritakan bagaimana perasaan suami. Jangan cuma diam dan pasif soal diri sendiri. Siapa tau pasangan kita bisa membantu mencarikan jalan keluar.


Kasus dokter Park misalnya, setelah Jin Joo tahu dan ikut beraksi kan hasilnya case closed. Suami saya puassss banget melihat ending nasibnya yang mengenaskan. Hahahaha

Tukang selingkuh mah cocoknya emang dirajam, ya kan?
*langsung anarkis*

Ya begitu, kesetiaan adalah sesuatu yang mahal, maka jangan harap akan menemukannya dengan orang-orang murahan.

🌷 9. Masa muda hanya datang satu kali, use it well. 🌷

Go Back Couple hanyalah drama, ingat, drama.

Di dunia nyata mah nggak ada kesempatan buat balik lagi ke masa lalu. Apalagi buat memperbaiki hal-hal yang sudah terjadi.

Istilahnya nasi sudah menjadi bubur, tinggal nyari suwiran ayam, kuah kaldu, emping sama taburan kacang dan daun seledri supaya jadi hidangan enak. πŸ™†

Supaya yang jelek-jelek nggak bikin sakit hati, kita harus pinter menggali hikmah dan menyerap pelajaran.



Nah, kaya kata dosennya Jin Joo. Masa muda memang hanya kita lalui satu kali, jadi gunakan sebaik-baiknya, nikmati setiap momen hidup karena kita tidak bisa mengulanginya. Lakukan semua hal yang kamu mampu. Live to the max!

Meskipun saya nggak muda-muda banget lagi, bagian ini tetap mengajarkan bahwa setiap kesempatan hanya ada sekali, jangan disia-siakan.

Oke, bagian ini saya ngomong sama diri sendiri. 😬


🌱 10. Jika ingin menyerah, ingat alasan menikah dan ingatlah anak-anak. 🌱

Nah nah nah, bagian ini juga mengandung bawang.

Sebagai emak-emak. Membayangkan anak yang menjadi korban egoisme orang tuanya itu terasa perih-perih gimana gitu, masih ada luka yang basah dalam hati karena pernah menjadi korban macam Seo Jin –tapi tidak terselamatkan-.

Percakapan antara Jin Joo dan ibunya benar-benar ngasih quote yang luar biasa.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu rasakan. Tapi aku tahu satu hal, kamu bisa hidup tanpa bersama orangtua, tapi kamu tidak bisa hidup tanpa anak. Jangan menangis, kesedihan apapun yang kamu lalui, akan membuatmu kebal dan menjadi lebih kuat.”- seingat saya sih gitu.

Akhirnya ketemu sama quote emak-emak seribu drama ini
via @koreankolages

Masya Allah, brebes mili. Saya anaknya emang nggak bisa tersentuh dikit, nangis. 
Cengeng, baperan, apalah itu namanya.

Pokoknya adegan ini benar-benar mengandung bawang. Bikin perih mata! 😭😭😭



Another nohok scene
via @kutipan.drama.korea

11. Minum jus menyehatkan.

Ini sih nggak ada kaitannya sama rumah tangga ya? Tapi nggak apa-apa deh saya masukin juga soalnya paksu seneng ngeliat adegan ini. Hehehe

Jus kubis buat Ban Do, jus wortel parut buat Jin Joo.

Aish, jangan-jangan ini rahasianya kulit mereka nggak jauh berbeda padahal sudah 17 tahun menikah?πŸ™„

Serius lho, perbedaan antara Jin Joo kuliah dan Jin Joo menikah kayaknya cuma baju yang lebih kusut, rambut yang acak-acakan dan juga sedikit mata panda. 

Tinggal beli baju, ke salon, pakai concealer dikit, kayaknya masalahnya bakalan selesai deh.
(Analisis sotoy emak wkwkwk)

🐞🐞🐞

Anu, panjang juga ya? *lap keringet*

Ngomongin drama Korea dengan tema divorce, drakor ini bukan kali pertama yang saya tonton, tapi yang kedua. Sebelumnya saya sudah nonton Cunning Single Lady yang sama-sama membahas tentang divorce and getting back together.

Yang lagi nyari drakor dengan tema serupa kayaknya bakalan suka juga deh sama Cunning Single Lady.

Saya sampe nangis-nangis lho nontonnya pas hamil, soalnya pas hormon emosional lagi tinggi-tingginya. Waktu itu nontonnya juga nyeret suami, dan anehnya dia bersedia, katanya aktor cowoknya mirip Teuku Ryan πŸ˜†πŸ˜―

Jangan lupakan 2 sahabat super banyol~~ ^^

Nah, kira-kira segitu dulu deh ulasannya, dari 12 episode saya dapat banyak banget pelajaran berharga, minimal ya yang ada di list 11 hal yang saya pelajari dari drakor Go Back Couple di atas tadi. Bener-benerworth it begadang nontonnya. πŸ˜‚

Kamu sudah nonton? Ada punya kesan khusus juga nggak? Atau rekomendasi drama Korea serupa?
Sharing yuk! 



.                   

Custom Post Signature

Custom Post  Signature