EbMBK9LV3U2J5pqb5aBuXdjmVrgXJ3azcHngXLqi

Report Abuse

Pengalaman Vaksin Corona Sinovac Dua Dosis

SYUNAMOM.COM | Apa kabar teman-teman semua? Semoga semuanya dalam keadaan yang sehat dan tidak kurang apapun ya. Di tulisan kali ini saya pengen sharing tentang pengalaman saya divaksin beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan februari 2021.

Kalau ada teman-teman yang heran kenapa kok cepat dapet kuota vaksinnya? Hal ini karena saya masuk dalam salah satu prioritas vaksin awal karena saya bekerja di Rumah Sakit sebagai nakes (Tenaga Kesehatan), jadi kami masuk di gelombang pertama saat vaksinasi mulai diterapkan di Indonesia.


Siapa Saja yang Boleh Di Vaksin?


COVID-19 merupakan virus baru yang baru muncul akhir tahun 2019 lalu, penelitian masih terus dilakukan oleh para ilmuwan guna didapatkan cara terbaik untuk mengatasinya dengan seminimum mungkin resiko. Saat ini, ada beberapa kelompok yang masih belum diperbolehkan untuk mendapatkan vaksin, diantaranya:

1. Riwayat alergi.

DIkarenakan pernah ada penerima vaksin yang dilaporan mengalami reaksi alergi yang cukup parah, alangkah baiknya jika sebelum vaksin dikonsultasikan dahulu dengan dokter terkait alergi yang dimiliki calon penerima vaksin. Jadi kalau mengalami alergi berat setelah melakukan vaksin pertama, tidak diperkenankan untuk vaksin dosis ke-2. Jujur saat screening, yak.

2. Gangguan Imunitas

Salah seorang sahabat saya yang saat ini sedang menjalani kuliah di Yogya mengungkapkan kalau dia tidak bisa menerima vaksin karena mengidap penyakit autoimun dan tidak diperbolehkan dokter untuk melakukan vaksinasi. Demikian juga dengan teman-teman yang defisiensi Imun atau sedang menjalani pengobatan Immunosupressant dengan kostikosteroid dan kemoterapi.

3. Ibu Hamil

Di awal vaksinasi COVID-19, ibu menyusui juga tidak masuk dalam kategori penerima vaksin Covid, sama halnya dengan Ibu Hamil, namun sekarang edaran resmi Kementrian Kesehatan menyatatan kalau Ibu Menyusui boleh di vaksin dua dosis.

4. Hipertensi tidak terkontrol 

Dengan tekanan darah >180’110 mmHg dan tetap masih tinggi setelah diulang pemeriksaannya sebanyak 5x hingga 10 menit kemudian.

5. Memiliki penyakit jantung berat dan mengalami sesak.

6. Sedang mendapatkan pengobatan untuk gangguan pembekuan darah, kelainan darah, penerima produk darah/tranfusi.

7. Lansia yang menjawab lebih 3x ‘Ya’ pada pertanyaan sesuai format screening,

Alhamdulillah, saya tidak termasuk dalam satu pun golongan diatas sehingga saya berkesempatan mendapatkan vaksin dua dosis.

Bismillahirrahmanirrahiim, vaksin!

Alur Vaksin


Ribet? Hmm… tidak, sama sekali tidak. Kalau menurut saya bahkan bisa dibilang mudah sekali, petugas di faskes saya menerima vaksin sangat kompeten dan responsive. Dua kali saya menerima vaksin, kurang lebih begini alurnya:

1. Datang Sesuai Jadwal

Saya menerima SMS dari Satgas COVID beberapa hari sebelumnya kalau saya merupakan calon penerima vaksin COVID-19. Setelah itu saya mendapatkan edaran terkait jadwal pembagian urutan instansi saya agar tidak ada penumpukan/kerumunan peserta vaksin.

Saya menerima vaksin pertama tanggal 15 Februari 2021, sedangkan dosis kedua tepat dua minggu kemudian, yakni tanggal 01 Maret 2021.

2. Membawa KTP dan mengisi blanko screening dengan jujur.

KTP fungsinya buat apa? Pertama, sebagai identitas kita dan untuk melihat NIK kita yang tertera disana, sehingga kemudian data diri kita termasuk sebagai warga yang sudah menerima vaksin.

3. Diperiksa Tekanan Darah dan Heart Rate sesuai urutan.

Alhamdulillah (lagi), meskipun tegang namun TD saya normal, biasanya TD saya termasuk rendah namun mungkin karena tegang tadi kali ya, tekanan bawah saya yang biasa 60an saja jadi lebih stabil diangka 80-90an.

4. Wawancara terkait kesehatan calon penerima vaksin oleh dokter yang bertugas.

Pertanyaan yang ditekankan misalnya tentang penyakit yang diderita, pernah kontak erat dengan yang terkonfirmasi, Riwayat minum obat/alergi, hingga apakah terkonfirmasi positif atau tidak. Ini termasuk tahapan screening ya, jadi kalau ada keluhan sebaiknya diutarakan apa adanya di tahapan ini.

5. Tanda tangan.

Yup, karena hasil akhir dari screening adalah pernyataan kalau kita menjawab Ya/Tidak, maka jangan lupa membubuhkan tanda tangan di akhir.

6. Finally, di vaksin!

Dosis vaksin yang disuntikkan tidak besar, dalam sekali penyuntikan hanya 0,5cc. Sikit banget lah, jujur nggak terlalu terasa waktu di suntik, cuma terasa nyuuut sedikit, masih bisa ditoleransi asalkan kita relaksaskan otot alias jangan tegang, sehabis itu ya nggak apa-apa.

7. Istirahat 15-30 menit untuk memantau efek samping

Nah, sehabis divaksin istirahat dulu sesuai dengan protocol Kesehatan alias berjarak dengan rekan sesame penerima vaksin lainnya. Tahapan ini mempermudah kita untuk memantau apakah ada efek samping yang muncul dengan cepat agar kiranya lebih cepat ditangani.

8. Mengambil cetakan bukti vaksinansi

Yeay! Sebagai lembar bukti vaksinasi, pulangnya saya dikasih lembar bukti vaksinasi. Selain itu juga ada sertifikat vaksin yang link untuk mengunduhnya dikirim oleh PEDULI LINDUNGI melalui SMS. Tinggal di download deh. Kalau mau, sertifikat vaksin ini bisa dicetak menjadi kartu seukuran KTP guna mempermudah dibawa kemana-mana.

Bagaimana Jika Tekanan Darah Tinggi saat divaksin?


Di vaksinaasi pertama dan kedua pemeriksaan saya normal jadi bisa lanjut vaksin tanpa perlu menunggu, vaksin ketiga (yep, booster yang baru diberikan untuk nakes), saya disuruh menunggu sekitar 15 menit karena heart rate saya tinggi, untungnya tidak lama karena di pemeriksaan kedua sudah normal Kembali sehingga tidak ada masalah langsung vaksin.

Efek Vaksin Pertama dan Kedua di tubuh saya?


Nggak ada yang luar biasa, cuma pegal 2-4 hari di lokasi suntikan dan mereda kalau rajin di kompres pakai es kalau kata teman-teman saya yang nyobain, saya nggak coba karena waktu itu efek sampingnya yang terasa justru mengantuk dan lapar. hahahaha

Kalau dari perbandingan efeknya pada saya pribadi dan teman-teman yang lain, sepertinya efek setiap orang berbeda-beda. Kata teman saya, efek samping vaksin kedua lebih berat daripada yang pertama, tapi kalau buat saya justru lebih berat yang pertama dan vaksin kedua justru B aja.

Tips Sebelum Vaksin


1. Pastikan diri dalam keadaan yang fit dan prima.

Makan jangan telat, tidur cepat jangan begadang dulu, pokoknya waktu vaksin jangan sampai imun kita lagi lemah. Kalau sedang tidak enak badan lebih baik jujur saja dan meminta diundur vaksinnya.

2. Jujur saat wawancara

Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, alangkah baiknya jika terbuka tentang Riwayat Kesehatan saat screening , ya temans.

3. Mengenakan outfit yang tepat

Sebaiknya mengenakan baju berkancing sehingga memudahkan untuk dibuka karena titik penyuntikan vaksin di lengan kiri atas (tangan yang tidak dominan), opsi lainnya mengenakan baju lengan pendek/kutung dengan cardigan, jadi lebih praktis kalau ingin dilepas.

Sedangakn baju yang dihindari misalnya gamis kurung, karena rempong beb, susah bukanya, kalau busui friendly mending lah ya bisa diulur meskipun teteup, nggak rekomended.

4. Jangan lupa membawa kartu KTP dan pulpen sendiri supaya mengisi formular nggak perlu minjem-minjem lagi.

5. Jangan longgar prokes! 

Meskipun sudah vaksin, tetap pakai masker karena sesudah vaksin kita harus lebih ekstra care dengan tubuh, Noted ya, tubuh juga memerlukan waktu untuk ‘memproses data’ vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh :)

+++

Nah, Meskipun dengan melakukan vaksin tidak berarti saya menjadi kebal virus, namun paling tidak saya sudah menjadi bagian dalam upaya pemerintah Indonesia mengatasi pandemic COVID-19. Bangga dong ya :)

Ngomong-ngomong, beberapa saat yang lalu saya menemukan perumpamaan yang bagus: melakukan vaksinasi ibarat mengenakan helm saat mengendarai sepeda motor:

Apakah dengan mengenakan helm, akan memastikan kita akan selamat di perjalanan?

Tentu saja tidak mutlak, namun apabila terjadi sesuatu maka kejadiannya tidak akan terlalu fatal atau jika cedera pun, Insya Allah lebih ringan.

Penggunaan helm ini mirip dengan vaksin di kasus pandemi; Kalaupun seseorang yang sudah divaksin tertular COVID-19, maka vaksin bisa mencegah terjadinya gejala yang berat dan komplikasi. Efeknya, jumlah orang yang sakit ataupun meninggal karena virus COVID-19 akan menurun hingga titik nol (aamiin!)

Nah, bagaimana teman, siapkah untuk vaksin?
Related Posts
Zulaeha Achmad
Blessed Wife & Mother. Blogger. Podcaster. Tea Drinker. Devoted Manhwa Reader.

Related Posts

Post a Comment