SOCIAL MEDIA

Monday, May 25, 2020

[SHARING] Hamil Saat Kuliah, Harus Bagaimana?


Bagaimana rasanya kuliah sambil membawa perut yang buncit? 

Wah, nano-nano! Karena saya pernah menjadi bagian dari para mahasiswi yang hamil saat kuliah, saya pengen cerita nih rasanya gimana. Yah meskipun kalau ditanya info beginian penting atau nggak, maka jawabannya penting-nggak penting sih, tergantung orang yang membaca. Tapi siapa tahu kamu mengalami hal yang sama seperti yang pernah saya alami, saya berharap tulisan saya disini akan sedikit berguna. 😊


(SHARING PENGALAMAN) HAMIL SAAT KULIAH) 


Saya cerita sedikit tentang background saya ya. Jadi, saya dulu menikah itu pas akhir semester dua, teman-teman bisa baca sedikit cerita situasi saya saat itu di tulisan saya yang lain. 

Baca juga: Belajar Menjadi Ibu 

Terhitung dua bulan dari acara pernikahan (atau satu bulan dari tanggal perkawinan), saya pun dinyatakan positif hamil oleh dua strip buram di test pack yang saya gunakan hari itu, di hari badan terasa linu bak dipukuli orang sekampung.

Sebagai istri dan perempuan normal, dalam hati ada rasa senang, of course, kalau hasil tesnya benar, kan berarti saya kan masih subur, bisa ngasih keturunan. 

Tapi secara logika (yang waktu itu mengusai pikiran saya), pertanyaan-pertanyaan liar pun bermunculan. Saya jadi takut dengan penilaian orang lain, dan yang pasti, penilaian saya sendiri. 

Iya, saya jadi galau. 

Begitu tau saya hamidun saya langsung pusing sendiri. Memikirkan segala tetek benget dunia ibu dan kuliah ditambah lagi jadwal kerja yang menggila membuat kepala saya puyeng.

Pasalnya, waktu itu jadwal saya luar biasa padat. Saya bekerja dari hari senin sampai hari jumat dengan durasi 8-10 jam per hari, libur hanya hari minggu. 1 shift di Apotek tempat saya bekerja dulu hanya ada satu karyawan, dan di hari normal ada sekitar 5-6 orang dokter yang praktek. Jadi jangan ditanya kalau sedang ramai bagaikana keadaannya. Saya nyaris saja nggak bisa duduk sama sekali selama jam kerja karena sibuk hilir mudik ke segala penjuru apotek seperti setrikaan.

Nah, itu di tempat kerja, belum lagi di tempat kuliah. Saya waktu itu kuliah mulai hari sabtu sampai minggu, alias saat weekend, dengan durasi 9 jam sehari. Kuliah saya adalah non reguler khusus untuk mahasiswa yang bekerja, jadi sistemnya memang seperti itu. Total waktu bolak balik tempat kuliah dan rumah 6 jam. Jadi saya jadi anak kos setiap akhir pekan. 

Selama ini saya muter dilingkaran itu. Saya kerja buat biaya kuliah, kuliahnya nanti juga berefek sama pekerjaan. Jadi saya mencoret opsi stop bekerja jika hamil. Karena hidup itu keras, jenderal. Kata Mama, pendidikan adalah investasi paling menjanjikan. Jadi saya harus melakukan keduanya sekaligus dalam satu waktu. 


Kembali ke topik, 
Jadi setelah itu saya cek dong, saya pergi berkonsultasi ke bidan. Dan katanya sih belum tentu hamil. Seminggu lagi harus cek lagi. Ibarat main game, ini tuh masih fifty-fifty lah.

Woh, saya lega banget dong dengernya. Moga-moga aja test pack error

Emm... Waktu itu bisa dibilang saya malah yakin banget kalau nggak hamil. Pasalnya, saya melakukan testpack pada pagi hari sekitar jam 7, gak ada garis apa-apa tuh. Saya 100% yakin sampai hari ini kalau nggak ada pertanda apa-apa yang muncul di strip tes kehamilan. Kemudian, sekitar pukul 5 sore, saya beres-beresin sampah di dapur. Waktu itu saya baru cek testpack yang ada di tempat sampah, ada garis yang super samar disana. 

Jauh banget kan jeda waktunya? Jam 7 pagi ke jam 5 sore itu 10 jam! Makanya, saya jadi bingung. 

Dan pada akhirnya kebingungan itu pun terjawab saat 12 hari kemudian tes ulang, ternyata garisnya muncul dengan jelas 

Masya Allah... Titipan Allah ternyata benar-benar hadir diantara kami. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. 

Sebentar, saya waktu itu kuliah tapi hamil, harus bagaimana tuh? Ada beberapa hal penting yang harus selalu diingat, yaitu:


A. This too, shall Pass. 

Semua akan berlalu. 
Percaya deh, apapun hal berat itu, semuanya pasti akan berlalu. 

Hamil? Nggak apa. Artinya kamu kuat. Kamu dipercaya untuk dititipi anugerah. Jangan melemahkan dirimu sendiri dengan berfikir yang nggak-nggak. 

Ingat itu baik-baik ya, kamu itu kuat. 
Begitu juga dengan janin di dalam perutmu.

Jadi, kamu pasti bisa kok. Ukur kemampuan dan jalani saja. Pasti berlalu, pasti. Nggak ada yang selamanya, hamil pun juga begitu. 

B. You are your Mastermind

Saya percaya banget dengan kekuatan pikiran kita. 

Dulu, waktu dulu studytour kuliah. Selama seminggu sebelum testpack ke-2 untuk memastikan kehamilan, aktivitas saya dipenuhi dengan kunjungan ke pabrik-pabrik farmasi, naik pesawat terbang, naik feri, naik bis. Aktivitas yang super duper padat. Tapi karena saya berfikir saya nggak hamil ya Alhamdulillah gak ada masalah, buktinya nggak ada tuh acara Morning sickness dan yang lainnya. 

I'm fine. Totally fine. 

Iya, karena saya nanemim dalam diri saya sendiri kalau : SAYA NGGAK HAMIL. Haha. Tapi sudah testpack ke-2 dan harusnya muncul dengan jelas, gejala-gejala seperti mual pun mulai muncul, mungkin karena bawaan psikologis karena saya sudah tahu kalau saya lagi hamil kali ya? 😁

Nah itu ceritanya saya, kalau kamu yang sudah jelas hamil, jangan tiru cara saya yang jelek ya, itu bisa-bisanya saya aja karena nggak tau kalau dalam perut ada dede bayi. 

Well, yang harus kamu tahu, kamu harus menguasai pikiran dan kemudian tubuhmu. Perbanyak berdoa dan berpikir yang positif 

Relax.... Semuanya akan baik-baik aja, kok. Saya sudah melaluinya, kamu juga pasti bisa. 

C.  Jadikan motivasi untuk bergerak maju

Kamu boleh percaya ini atau nggak, tapii... 

... Saya ngeden melahirkan sambil membayangkan pakai toga. Hehehe.

Saya waktu itu menjadikan ketakutan sebagai tenaga dalam masa persalinan. Hamilpun begitu, ingat-ingat lagu kalau misalnya otak ibu saat hamil itu berpengaruh juga terhadap otak janin di dalam perut. Makanya nggak boleh males ya, nanti bayinya juga ikutan males. 

Harus maju terus sampai akhir. Percaya kamu dari pasti bisa melalui semuanya. Okay? 

🍎 🍏 🍊 


So, kalau ada teman-teman yang sedang kuliah dan hamil. Selamat yaa! Dan jangan lupa harus tetap kuat. Harus. Menjadi lemah bukan pilihan. Babak baru menjadi Ibu ini adalah amanah luar biasa yang pasti bisa kamu jalani. 


Kamu pasti bisa!