Friday, January 05, 2018

Dari Blog, Emak Menuju Sekretariat Negara (Bagian 2)



Baca tulisan bagian pertama disini dulu yaa...

Masukan sebagai Blogger...

Oke, sehabis kami 'ngomongin' Bapak Presiden dalam presentasi singkat kami. Selanjutnya kebagian saran & kritik sebagai blogger. Para tim TKP yang ada di ruangan sibuk mengetik poin-poin hasil FGD.

Saat kebingungan membuat slide, saya akhirnya meminta masukan dari beberapa grup Blogger yang ada di WhatsApp saya. Saya kira tidak masalah sekaligus mewakilkan aspirasi teman-teman blogger yang lainnya. 

Dan begini hasil rumusannya:

1. Tentang perpajakan.

Sudah tau kan kalau pajak buku itu dibebankan pada penulis? Semakin produktif dan laris penulis maka pajak semakin tinggi. 😶

Padahal juga sudah tahu kan dengan nilai baca di Indonesia bagaimana? Rendah sekali. 

Jadi sebuah ironi kalau menginginkan bangsa kita gemar membaca sedangkan untuk mensejahterakan para penulis saja belum ada upaya, padahal mereka menulis buku untuk bangsa.

Penulis-penulis keren seperti Tere Liye dan Dee Lestari menghentikan penerbitan bukunya lewat penerbit resmi bukan tanpa alasan, gambaran tentang hitung-hitungan pajak penulis bisa kita baca disini .

Polemik soal perpajakan buku sudah lama, bahkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer juga pernah melakukannya pada tahun 1957.

Zaman now, apakah akan tetap sama seperti 61 tahun yang lalu?

Poin perpajakan buku ini saya sampaikan dengan Bapak Sukardi Rinakit, dan dijawab akan disampaikan pada menteri keuangan, Ibu Sri Mulyani Indrawati (MenKeu) yang mengepalai instansi perpajakan. 

Sungguh besar harapan saya saat mendengarnya, meskipun dalam hati yang terdalam juga muncul harapan lainnya seperti mimpi akan adanya subsidi untuk para penulis agar karya anak bangsa semakin maju, namun cukup perpajakan ini saja yang dibenahi, saya akan sangat bersyukur. 

Karena artinya para penulis bisa berkaya dengan maksimal tanpa khawatir lagi soal pajak, dan juga artinya saya bisa beli buku-buku para penulis keren lagi. Yay!😍

Ngomong-ngomong nih, Bapak Sukardi juga seorang penulis, beliau kerap kali mengisi artikel di koran-koran ternama. Dan jangan lupa, profesi beliau adalah sebagai penulis naskah pidato Presiden, seperti pembukaan Konferensi Asia Afrika pada tahun 2015.

Duh, lama-lama saya nge-fans juga nih. 😁

Intermezzo.
Foto bersama ibu Lasmi yang awet muda.


2. Perlindungan untuk para blogger & anak.

Dari pemaparan mbak Pita, sesudah giliran saya presentasi, payung hukum yang menaungi blogger dan hasil tulisannya itu belum jelas. Misalnya masih ada kasus-kasus tentang blogger yang diseret ke ranah hukum karena menuliskan fakta lapangan (misal: Acho dan kasus apartemen). Juga adanya copy paste yang terjadi di kalangan blogger oleh media komersil, yang parahnya tidak melalui proses edit mendalam sehingga masih mengandung personal penulis aslinya, jadinya ya ketahuan banget lah kalau artikel yang nongol itu hasil dari tulisan blogger B, wong namanya ada kok tercantum di salah satu kalimatnya.

Padahal nggak ada ngasih referensi tulisannya dicomot dari sana (apalagi komisi). Lha, piye?

Hal tersebut dikatakan akan dijadikan masukan catatan untuk digodok kembali. Alhamdulillah. 😊

Selesai urusan copy dan paste, saya juga ngomongin tentang konten negatif di internet. Sebagai orang tua dari anak millenial yang akan mengisi masa depan negara tercinta (cia cia ciaa 😂), saya sadar sepenuhnya bahwa akan datang hari dimana anak-anak saya juga akan menjadi pengakses internet.

Agak khayal sedikit kalau saya mengharapkan akan adanya internet yang 100% aman. Namun mengingat belakangan sedang marak terbongkarnya gunung es sindikat pedofilia dan LGBT yang -naudzubillahi min dzalik- sangat mengerikan sistemnya. Saya kira perlu diadakan kampanye agar keluarga dan para orang tua di Indonesia semakin memahami tentang betapa berbahayanya internet jika di salah gunakan.🤔

Saya pernah menonton video singkat tentang wawancara Giring Nidji dengan tactical cyber crime Polda Metro Jaya tentang child porn yang menggurita di Indonesia, saya juga pernah membaca tentang pornografi anak di Indonesia yang banyak dipasok ke situs gelap internasional seperti deep web (sayang, saya lupa sumbernya).



Karena itulah saya sangat memahami dan mendukung kampanye perlindungan anak, seperti misalnya kampanye yang digagas oleh psikolog Elly Risman dan keluarganya.

Saya percaya, pemerintah dan instansi terkait juga sedang bekerja keras di belakang layar. Namun saya kira juga perlu diadakan edukasi pada masyarakat karena hal-hal semacam ini masih banyak yang belum tahu. 😊

3. Kebebasan Berpendapat, jangan lupa re-check!

Ah, saya berpikir petisi atau pelaporan situs dan komunitas tertentu juga harus ditinjau berulang dahulu sebelum melakukan reaksi. Hal ini saya ikut sampaikan terkait dengan petisi dari anonim yang tidak jelas sumbernya tapi yang mendukung itu banyak.

Yha, netijen zaman now, terkadang tersulut dengan hoax meyakinkan dan dengan mudahnya menggerakkan jemari.

Tapi saya percaya kok, semakin hari dengan adanya konten positif yang kita bangun pasti kelak akan ada hasil yang bagus. Mari selalu andalkan fakta, jangan terbawa persepsi dan lakukan check serta re-check! Begitu kalau saya boleh mengutip kata-kata Bapak Sukardi Rinakit. 😁


Bincang-bincang santai dengan Bapak Sukardi...


Sesudah habis presentasi, akhirnya Bapak Sukardi datang ke ruangan kami. Beliau meminta maaf karena sebelumnya ada kesibukan di tempat lain dan baru bisa menemani kami sekarang. 

Bapak humoris satu ini mencairkan suasana, sepanjang perbincangan kami ruangan terasa hangat dan sesekali kami tertawa mendengarkan guyonan beliau. Bapak Sukardi banyak bercerita tentang istana dan sisi humanis presiden, terutama Bapak Jokowi.

Yang mana saya baru tahu kalau Bapak Presiden makanannya dingin karena harus diperiksa dulu, Presiden yang juga pernah mengelabui ajudan demi makan makanan favorit, Presiden yang pernah menegur paspampres supaya tidak terlalu keras, dan masih banyak lagi.

Ingat paspampers, auto-ingat yang satu ini.😂

Kami juga mengungkapkan kembali hal-hal yang jadi pokok permasalahan di materi kami presentasi tadi untuk beliau dengarkan kembali.

Aih, keren memang beliau ini. Sehat terus ya, Pak!

Jalan-jalan di Kantor Sekretariat Negara dan Beli Oleh-oleh.

Setelah acara FGD selesai, Kami berempat ditemani Ibu Lasmi kemudian diajak melihat beberapa ruangan, disuguhi durian yang lezat sambil ngobrol-ngobrol ringan, juga melihat-lihat lukisan hasil karya anak negeri yang luar biasa menarik dan berseni tinggi. ☺

Kami pun sempat mampir di salah satu lukisan hasil karya terakhir salah satu pelukis ternama Indonesia.

No picture sama dengan hoax, begitu kata orang-orang.

Supaya nggak dibilang hoax, pastinya kami foto-foto dong. Meskipun kata Ibu Lasmi kami tergolong blogger yang nggak banyak mengambil foto saat di kantor Sekretariat Negara bila dibandingkan dengan para blogger perwakilan daerah lain.

Maklum, kami kan lou perofail. 
*ngaku-ngaku😂

Halo!

Saat kami sedang foto-foto, kebetulan Mbak Pita sedang menunaikan tugas sebagai Busui, sehingga nggak masuk frame foto.

Oh iya, saya juga baru tahu kalau dalam gedung sekretariat negara juga ada toko souvenir!




Dari penjelasan Ibu Lasmi, saya baru tahu kalau toko souvenir ini memang dikhususkan untuk para tamu negara membeli cinderamata. Di toko ini dijual berbagai barang mulai dari baju, pulpen, payung, jam, pajangan, bros, dan banyak lagi lainnya.

Saya memutuskan untuk membeli bros saja. Kebetulan saat itu peniti kerudung saya tercecer sehingga kerudung saya berantakan.
Saat bayar ke kasir, saya sekaligus minta ajari pramuniaga disana bagaimana cara memakainya.

Akhirnya saat keluar dari toko souvenir, bros itu menancap manis menghiasi kerudung saya.

Brosnya tadi ada di awal ya, berwarna kuning emas dengan lambang garuda pancasila dikelilingi dengan tulisan Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Saat melihatnya saya langsung suka! 💕

Berfoto di hall of fame para Menteri Sekretaris Negara.

🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Akhirul kalam, saya sangat respect dengan adanya event seperti ini. Setiap daerah dikirimkan perwakilan yang mana masing-masing memiliki beragam sudut pandang dan juga diminta masukan serta solusi. Siapa tahu, hal-hal seperti ini dimasa depan akan merubah Indonesia?

Suara rakyat yang benar-benar didengarkan adalah sebuah hal yang luar biasa di negara demokrasi yang sesungguhnya. Apalagi kalau ada action yang tepat terkait masalah rakyat. Benar, kan? :D

Indonesia, Negeriku yang Bhinneka Tunggal Ika.

Saya juga semakin bertekad untuk memberantas hoax, apapun jenisnya. Meskipun itu hoax membangun sekalipun. Hoax ya hoax. Berita bohong dan palsu untuk mengakali pembaca hanya dibuat oleh para penipu jahat. Dan cara saya mengatasinya adalah dengan berbagi lebih banyak konten positif yang membangun. 

Terakhir, pertahankan semua yang sudah baik serta selalu evaluasi diri dan kinerja, karena sejatinya yang konstan dalam hidup adalah perubahan. -Tidak ada sistem yang sempurna-, begitu kira-kira.

Selalu semangat, jangan pernah lelah mencintai Indonesia!


6 comments on "Dari Blog, Emak Menuju Sekretariat Negara (Bagian 2)"
  1. Wah kenapa saya tidak dapat undangan ya, jadi iri nih.
    Soal payung hukum untuk blogger ini sangatlah menarik. Tapi masalahnya untuk menjadi blogger itu sungguhlah liar sekali. Jadi blogger mana yang mendapat payung hukumnya. Pastinya sangatlah sulit.
    Semoga saja nanti juga ada kesejahteraan bagi seorang blogger. Biar tetap bisa berkarya.

    ReplyDelete
  2. Duh senengnya bisa sumbang sarang langsung uneg-uneg terutama yang mewakili keluh kesah blogger Indonesia..Keren Mbak!
    Btw, brosnya okeee, mupeng deh!
    Sepakat saya, turn back hoax!

    ReplyDelete
  3. Brosnya bagus, mak. Terkesan official banget.
    Poin-poin masukan sebagai bloggernya sangat bagus. Saya bahkan baru tau kalau pajak penulis itu sangat tinggi dan memberatkan sang penulis. Duh, kenapa nggak disubstitut aja dengan pajak rokok yang dinaikkan sehingga membebani si perokok? Indonesia sehat, karya literatur pun bisa meningkat.
    Eh, lukisan pak jokowi di tengah kerumunan rakyat itu bagus banget.
    Iya saya juga iri lho lihat mak Syuna dapat kesempatan emas begini sebagai perwakilan Blogger Banjarmasin. Saya mungkin perwakilan blogger Bali, eh. hehehehe...
    Di Sekretariat negara ada ruang laktasi kah mak? Keren juga mbak Pita ya bawa baby dan tetap ngASI.

    ReplyDelete
  4. Semoga lain kali para blogger juga diundang ke istana negara (bukan cuma youtuber ajah) hehhee.. Amin.

    ReplyDelete
  5. Wuah..pengalaman berharga banget bisa lebih dekat mengenal poin ke sekretariatan yg cangkupannya luas mulai dari perpajakan sampai masalah hukum

    ReplyDelete
  6. saya tertarik dengan tulisan mbak mengenai payung hukum blogger. memang kejadian tulis-menulis blogger sangat liar sekali.. haduh kudu piye wkwk saya asal nulis saja mbak, semoga nggak keseret hukum

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature