Wednesday, July 24, 2019

Kesalahan Selama Merawat Kulit (Lesson Learned)


Ilmu merawat kulit yang benar semakin mudah didapatkan dewasa ini, saya sendiri setelah membaca disana-sini akhirnya menyadari kalau banyak banget kesalahan merawat kulit yang saya lakukan selama beberapa tahun terakhir ini. πŸ™

Pokoknya sampai level nggak heran deh, kalau sekarang kondisi dan tekstur kulit mengalami perubahan. Lha iya, saya sendiri kok yang salah.

Maka dari itu, ada beberapa pelajaran yang saya petik dari kasus saya sendiri. Semua sudah saya rangkum dan jabarkan dibawah ini, selamat membaca!


Kesalahan Selamat Merawat Kulit (Lesson Learned) 


1. Jarang Menggunakan Sunscreen


Saya tahu sih dari dulu kalau misalnya sinar matahari (UVA, UVB) itu nggak bagus untuk kulit. Apalagi kalau misalnya sampai terpanggang. Tapi ya nggak ngeuh, saya mikirnya toh saya kan kena matahari cuma pas perjalanan pulang pergi bekerja.

Buat apalah pakai sunscreen? Sayang duit lah, freshgrad kan gaji masih seiprit *jitak diri sendiri pakai botol sunscreen.+

Tapi sempet dong makai, sampai jualan share in jar juga dulu tuuuh. Hahaha *jiwa dagang anak farmasi* Tapi ya itu tadi, kapan inget. Satu tube tahan berapa bulan. Ya kira-kira sekitar setengah tahun? lama banget pokoknya. Ehe

Terus, sekarang saya panen deh buah perbuatan tadi, kalau lagi meraba kulit wajah, saya bisa merasakan perbedaan tekstur kulit di pipi antara samping telinga yang terhalang kerudung dan kulit pipi yang setiap hari terpapar sinar matahari. Wah, nyesel deh saya sekarang. Pokoknya, zaman now pakai sunscreen adalah skincare wajib.


2. Nyaris tidak pernah double cleansing.


Saya cuma cuci muka, itu pun kalau inget! 

Wah beneran deh, karena kondisi kulit saya SMP-SMA yang beneran effortless mulus, saya beneran bertahun-tahun jadi penganut mazhab cuci muka senen-kamis. Jerawat cuma datang pas period satu dua biji, komedo super jarang, pokoknya saya pas SMA dan awal-awal kerja banyak yang nanya pakai skincare apaan. Saya nggak punya rahasia apa-apa. Kulit saya emang bagus dari sononya.

Tapi setelah terpapar pil KB pasca nikah, masalah datang. Kulit saya rewel parah!

Saya akhirnya merasakan gimana di pagi hari di kulit muncul jerawat kalau malam nggak dibersihkan. Sekarang lagi nabung ngincer cleansing oil, investasi cuy.

3. Dont have the exact regime


Katanya urutan skincare yang bener itu bla-bla-bla, Nah saya taunya cuma krim malam doang (itu juga sama seperti perihal cuci muka, kalau ingat!) Nggak heran deh kalau misalnya wajah jadi kekurangan nutrisi. *elus kulit dengan tatapan sendu

Ini pelajaran juga, pakai regime tertentu supaya kulit tetap dapat apa yang dia perlu dari luar kulit dengan skincare yang tepat. Dari dalam dan dari luar supaya kulit tetap sehat dan terawat.

4. Jarang Eksfoliasi


Sesuai dengan tahapan regenerasi kulit per 28 hari, saya harusnya melakukan eksfoliasi secara berkala agar pori-pori di wajah saya jadi lebih bersih dan bebas dari tumpukan sel kulit mati. Tapi saya nggak rajin melakukan ini, sehingga pada akhirnya kulit tersumbat dan mengundang masalah lain. 

Terus saya boro-boro sadar? NGGAK.

Saya kira karena salah pakai produk. Makanya saya ngincer exfoliator baru nih dari Somethinc. Nabung juga sekalian nunggu scrub yang masih saya punya habis.

🌈🌈🌈

Nah, kira-kira itu dia Kesalahan Selamat Merawat Kulit dan juga pelajaran berharga yang saya dapatkan, Kamu jangan sampai mengulangi kesalahan saya juga, ya!

Love your skin. Love yourself. Tua itu pasti, merawat pemberian Tuhan itu wajib.

Selamat pakai skincare!

Thursday, July 18, 2019

[REVIEW] Dorama: Three Star Lunch


[Review Dorama Three Star Lunch] - Makan siang sekolah di Jepang adalah salah satu hal yang saya sukai dari sistem pendidikan disana. Karena itulah, saya memutuskan menonton dorama satu ini, soalnya tentang masak-masak di sekolah! Iya, penasaran nggak sih bagaimana proses mereka mengerjakan menu makan siang buat satu sekolah? πŸ€” 

Masak-masak biasa mungkin gak seru ya, tapi yang ini beda. Suer deh, saya sampai bikin review berarti saya beneran terkesan.  Ceritanya sama sekali nggak bikin bored. Sepanjang episode saya selalu diberi kejutan-kejutan kecil yang seru, dan saya nonton yang kedua kalinya di 2019 ini. (saya pertama kali nonton 2017 kalau nggak salah, pas masih Hot di Viu). 

Wow, saya jarang-jarang nonton sesuatu sampai dua kali! Haha. 

Terakhir saya nonton dorama dua kali adalah saat nonton dorama 5 to 9 yang saya review juga. 

Oke, cukup ya soal impresi saya. Langsung ke reviewnya!

Resensi dorama Three Star Lunch/Mitsuboshi No Kyushoku.




Resensi:


Mitsuko Hoshino (Yuki Amami) adalah seorang jenius memasak, passion dan egonya di dunia kuliner membuatnya sanggup melakukan apapun, mulai dari meninggalkan keluarganya hingga mengikuti tracking memasak yang keras di Perancis.

Berkat kerja keras dan bakatnya, dia pun lulus dan juga memenangkan banyak kontes memasak. di Jepang, dia bekerja di restoran Perancis terkenal “La Cuisine de La reine” in Ginza, Tokyo. 

Saking enaknya, tempat ini menjadi sangat ramai, bahkan  menerima penghargaan Three Stars Michellin.

Mitsuko Hoshino sebagai chef kepala pun menjadi sangat terkenal. Mitsuko merasa diatas angin. Meskipun jago masak, karakternya beneran ngeseliiin abis. Sudahlah alpha Female yang dominan, ditambah lagi dengan sifatnya yang songong dan super kepedean itu.

Episode pertama beneran kita akan diajak kesel berjamaah sama yang namanya Chef Mitsuko ini.

Suatu hari, Mitsuko kena batunya, Mitsuko bermasalah dengan pemilik restoran La Reine, Shogo Shinoda (Kotaro Koizumi). Buntut dari perselisihan tersebut adalah Mitsuko dipecat. Dan intrik dari orang-orang yang tidak menyukainya membuat gelar Mitsuko tercoreng hitam, Yap, sekarang Mitsuko terkenal dengan sebutan "Chef Keracunan" karena kasus kritikus masakan keracunan setelah memakan masakannya.


Akibat hal tersebut, Mitsuko menjadi sulit mencari pekerjaan baru. Padahal udah mulut besar dong tinggal memilih doang mau bekerja di restoran yang mana.

Disini saya gemes tapi kasian karena Mitsuko kena fitnah tapi tetap belagu. HAHAHA 


Akhirnya salah satu stasiun televisi mengundangnya untuk menjadi bintang di sebuah program TV yang membahas tentang makan siang sekolah. 

Dan, ini ternyata jua berkaitan dengan sesumbar Mitsuko yang mengatakan kalau penyebab makan siang banyak bersisa di sekolah adalah karena makanannya tidak enak.



BOOM! Bisa dibayangkan nggak gimana situasinya? Wah gila sih ini, seru banget! πŸ˜‚ πŸ˜‚ 

Di dapur sekolah yang jadi setting acara TV tadi, cuma ada satu orang yang bisa dibilang 'waras', yakni sang nutrisionis sekolah, Heisuke Araki (Kenichi Endo). Dan, pak Araki ini ternyata punya trauma dengan Perancis karena ternyata ditinggal bininya pergi belajar fashion kesana, sedangkan si Mitsuko ini kan track recordnya mirip sama si mantan istri. Jadi bibit-bibit ketidaksukaan sudah ada di awal.



Kru masak yang lainnya seperti Minoru Komatsu sang jago hotpot sumo, Masataka Hidaka si flamboyan, Shoichi Baba sang mantan bankir, Toshiko Inohara sang kalap belanja kehadirannya membuat sisi kocak drama ini semakin kental. πŸ˜†

Haruko Takayama, gadis muda karyawan dapur yang baru ini masih misterius. 

Siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa dia memiliki tertarik namun sentimen dengan Mitsuko? 

Nah, nonton lah. Dikau kan terkedjoet. Diriku tak mau spoiler disini. #apeeeu



Kesimpulan 


Drama ini sangat bagus ditonton bersama keluarga disaat suntuk, semangat turun dan juga tidak nafsu makan karena bisa jadi hack untuk ketiga hal tersebut.

Banyak komedi segar, banyak kata nasehat, dan juga berlimpah menu masakan Perancis yang namanya kutaktau tapi kelihatannya lezat.

Laper dan baper lah nontonnya πŸ˜‹

Nah, itu aja, hayuk nonton!  Terutama ibu-ibu nih, bisa jadi inspirasi buat bekal makan siang si kecil. Kalau nggak ya ketawa hore aja.

Bye! 

Friday, July 12, 2019

5 Hal yang Harus Dilakukan Setelah Membeli Buku Baru

[5 Hal yang Harus Dilakukan Setelah Membeli Buku Baru]

[5 Hal yang Harus Dilakukan Setelah Membeli Buku Baru] 

Kemarin, pas balik ke rumah Mama di Rantau, saya menemukan beberapa koleksi buku saya saat masih SMK, ada setumpuk komik dan juga beberapa teenlit yang tersusun rapi di atas meja ruang keluarga. Rupanya, Mama membongkar beberapa kotak kardus penyimpanan saya untuk disortir.

Melihat buku-buku itu, saya seperti diajak untuk nostalgia kembali dengan hal-hal yang dulu saya lakukan tiap kali membeli buku baru. Yang mana sekarang kayanya udah jarang banget saya praktekin karena jarang beli buku (saya orangnya lebih sering membaca online). 😁 

Lho, emang tiap beli buku baru ngapain aja? Nah, ini yang saya lakukan:

1.| Mengupas plastik pembungkus dengan penuh rasa bahagia. πŸ˜†


Entah itu bungkus kado atau bungkus buku, saya selalu membuka pembungkusnya dengan hati-hati. 

Padahal plastik pembungkus buku itu warnanya bening ya, jadi isinya apa juga sudah kelihatan, tapi entah kenapa sensasinya menurut saya tetep kayak membuka hadiah. Bikin seneng. Hehe... Adakah yang sama seperti saya? *nyari temen 😢

Nah, mungkin karena alasan itu, saya bisa gusar kalau ada yang membuka kado dan buku saya pakai acara robek-robek.
*lirik paksu penuh arti 😏*

Kalau kertas pembungkus kado yang saya buka dengan hati-hati tadi kondisinya masih layak pakai, biasanya saya simpan lagi buat kapan-kapan bungkus kado. Hemat beb, dan ramah lingkungan juga kan? HEHEHE. 😝

Plastik pembungkus buku? Dulu saya simpen juga, tapi karena nggak tahu mau digunakan untuk apa, jadi saya buang deh.

2. | Memindahkan Label Harga yang ada di plastik pembungkus.


Nah, yang ini biasanya saya lakukan sehabis beli buku di Gramedia. Inget kan label harga yang biasanya nempel di plastik pembungkus itu?

Setelah melakukan hal pertama diatas, saya juga hobi banget ngletekin label harga buku.

Weit, jangan salah, sulit lho ini! Kalau nggak hati-hati label harganya bisa robek. Setiap sudut label memberikan celah yang rawan robek. Saya sering banget robek, makanya kalau berhasil puas deh 😬

Label harga yang berhasil 'diselamatkan' seringkali saya pindahkan ke cover buku supaya ingat harganya.

3. | Mencantumkan Tanggal dan Tempat Beli Buku


Nah, ini sempet bolong, apalagi untuk komik, saya nggak tulis selama beberapa tahun. Tapi belakangan kalau beli buku saya kembali menuliskan tempat dan tanggal beli. Suami pernah saya suruh menulis, eh, ternyata malah dia yang lebih rajin menulis πŸ˜‚

4. | Memberikan Nama atau Cap Stempel


Nama ini bisa nama alias, bisa nama asli. Intinya sih nama. Kalau punya perpustakaan pribadi dikasih stempel supaya lebih eksklusif seperti buku-buku koleksi kakak saya.

Kalau saya pribadi sih nama doang hahaha... Tapi someday bisa deh, niruin kakak saya pas punya perpustakaan sendiri. Aamiin! πŸ˜„

5. | Membungkus dengan Plastik Agar Cover Buku Tidak Kotor


Poin ini dulu pas masih SD dan MTs nyaris selalu saya lakukan, apalagi buku pelajaran yang saya sukai, biasanya selalu saya bungkus. Sebenarnya di awal-awal perihal membungkus ini dipaksa sama Mama, eh, lama-lama malah jadi kebiasaan.

Tapi nggak lama, setelah meneruskan SMK ke Banjarmasin, buku pelajaran saya rata-rata sudah duluan hardcover atau covernya kokoh duluan dari sononya (misal Farmakope, ISO, OOP, buku terbitan Erlangga) jadinya saya malah jarang ngasih bungkus plastik.

πŸ“š πŸ“š πŸ“š 


Nah, itu dia hal-hal yang biasanya saya lakukan setelah saya membeli buku. Mungkin 5 hal itu juga harus kamu lakukan setiap membeli buku baru, selain menjadi identitas kepemilikan dan merawat fisik buku. 5-10 tahun yang akan datang, atau saat kamu sudah 'kembali', buku-bukumu tetap punya memori siapa yang dahulu membawanya pulang dari toko buku.

Apakah kamu bisa melakukan 5 Hal sederhana ini?
Wednesday, July 10, 2019

Mengatur Waktu Antara Mengurus Diri, Bekerja dan Blogging


Setiap melihat jumlah postingan yang ada di blog, hati saya rasanya menjerit melihat angka (yang jika dibandingkan dengan blogger lain) bisa dibilang kecil itu. 

Terlebih setelah beberapa bulan belakangan saya kembali bekerja (alasannya? nanti tanya saya via japri ya 😜), jeritan itu rasanya makin kencang. Iya, soalnya tulisan makin dikit, apalagi yang berbau curhat begini, nyaris nggak ada lagi kalau dibandingkan sama awal-awal bikin blog ini. 😬

"Woy buk, kamu ngapain aja sik?? Kok blog sendiri nggak diupdate. Tiap hari bayaran jalan, lho!"

Hmm... Saya nggak tau kata-kata semacam itu self talk yang positif atau negatif. Karena kadang saya merasa bisa jadi positif dan kadang juga, saya merasa itu jadi negatif.

Eh, gimana sih maksudnya? πŸ€” 

Jadi, positifnya tuh kalau saya mikir begitu, saya jadi lebih rajin ngumpulin ide untuk ditulis. Saya jadi mikirin gimana 'ngasih makan' blog saya ini. ✨

Negatifnya, seperti yang saya mention tadi di awal, saya kan mulai bekerja lagi, meskipun cuma bantu-bantu tapi kalau dipaksakan ngerjain semua, tetep saya jadi keteteran sendiri. 

Dan dimana-mana, yang namanya keteteran itu nggak enak. Iya nggak?

Terus, nggak sengaja saya kemarin pas jalan-jalan di feed Instagram, ketemu dengan salah satu quote yang cukup menohok. Bunyinya kurang lebih begini :



"You Can Do Anything. But You Can't Do Everything" -  (Heidi Powell) 


Yang kalau saya terjemahin, sadar diri lah kapasitas diri gimana sanggupnya. HAHAHA

Baca ini tuh saya jadi mikir, iya sih, kenapa selama ini saya selalu bilang "ya/oke/inggih" kalau dimintai tolong ya, kalau ujug-ujug malah jadi nggak amanah?

Afterall, kenyataannya saya kan punya prioritas paling penting dalam hidup saya: DIRI SAYA SENDIRI dan KELUARGA.

Mengingat beberapa bulan belakangan saya sampai berobat ke dokter spesialis karena sakit. Saya jadi seakan diberi teguran untuk menjaga kesehatan baik-baik.

Terus, senin depan anak saya sudah siap masuk PAUD juga dong. Jadi, sudah harus adaptasi lagi dengan jadwal menyekolahkan anak. 

Ya Allah, time flies so fast. Udah mau sekolah aja ya si Nuy. Makin tuwir aja ini maknyaaaa *oles antiaging* *tolong ini saya sebenarnya nulis apa*

Kembali ke laptop. 

Soal ngurusin blog, kembali ke ranah domestik, dan juga mengurus diri dan keluarga. Saya akhirnya membuat keputusan besar untuk cut off beberapa hal supaya bisa fokus di 3 hal ini. 

Satu, keluarga (dan tetek banget rumah tangga). 

Sekarang saya masih LDM sama suami, dan satu semester lagi Insya Allah segera bisa serumah lagi, tapi sekarang ya harus strong untuk mengurus anak dan rumah sendirian, yaaa sebenernya ada Mama  di rumah. Tapi saya nggak pengen nyusahin beliau. Kami nggak pernah hire asisten rumah tangga, jadi ya semua cucian, setrika, pel, masak, dan lain-lain dikerjakan sendiri. Dan kebalikan dari saya yang orangnya berantakan dan seadanya, mama tuh orangnya well organizing. Jadi nggak bisa dikerjain seadanya. HEHE 

Dua, pekerjaan. 

Jadi, dalam rangka membangun nuansa keuangan yang lebih dinamis dan juga bisa saving lebih banyak untuk bekal hidup yang akan datang (atau simply, BU πŸ˜‚) saya terjun lagi ke ranah domestik. No komen ya. 

Tiga, blogging. 

Ya, saya sepertinya akan lebih sering lagi menulis tentang cerita hidup saya yang sederhana disini. Menjadikan blog pribadi saya sebagai rumah, bukan sebagai ladang beternak saja. 

Ya, saya akan fokus di tiga hal itu saja. Doakan saya semoga semuanya berjalan dengan lancar ya!