Friday, July 12, 2019

5 Hal yang Harus Dilakukan Setelah Membeli Buku Baru

[5 Hal yang Harus Dilakukan Setelah Membeli Buku Baru]

[5 Hal yang Harus Dilakukan Setelah Membeli Buku Baru] 

Kemarin, pas balik ke rumah Mama di Rantau, saya menemukan beberapa koleksi buku saya saat masih SMK, ada setumpuk komik dan juga beberapa teenlit yang tersusun rapi di atas meja ruang keluarga. Rupanya, Mama membongkar beberapa kotak kardus penyimpanan saya untuk disortir.

Melihat buku-buku itu, saya seperti diajak untuk nostalgia kembali dengan hal-hal yang dulu saya lakukan tiap kali membeli buku baru. Yang mana sekarang kayanya udah jarang banget saya praktekin karena jarang beli buku (saya orangnya lebih sering membaca online). 😁 

Lho, emang tiap beli buku baru ngapain aja? Nah, ini yang saya lakukan:

1.| Mengupas plastik pembungkus dengan penuh rasa bahagia. πŸ˜†


Entah itu bungkus kado atau bungkus buku, saya selalu membuka pembungkusnya dengan hati-hati. 

Padahal plastik pembungkus buku itu warnanya bening ya, jadi isinya apa juga sudah kelihatan, tapi entah kenapa sensasinya menurut saya tetep kayak membuka hadiah. Bikin seneng. Hehe... Adakah yang sama seperti saya? *nyari temen 😢

Nah, mungkin karena alasan itu, saya bisa gusar kalau ada yang membuka kado dan buku saya pakai acara robek-robek.
*lirik paksu penuh arti 😏*

Kalau kertas pembungkus kado yang saya buka dengan hati-hati tadi kondisinya masih layak pakai, biasanya saya simpan lagi buat kapan-kapan bungkus kado. Hemat beb, dan ramah lingkungan juga kan? HEHEHE. 😝

Plastik pembungkus buku? Dulu saya simpen juga, tapi karena nggak tahu mau digunakan untuk apa, jadi saya buang deh.

2. | Memindahkan Label Harga yang ada di plastik pembungkus.


Nah, yang ini biasanya saya lakukan sehabis beli buku di Gramedia. Inget kan label harga yang biasanya nempel di plastik pembungkus itu?

Setelah melakukan hal pertama diatas, saya juga hobi banget ngletekin label harga buku.

Weit, jangan salah, sulit lho ini! Kalau nggak hati-hati label harganya bisa robek. Setiap sudut label memberikan celah yang rawan robek. Saya sering banget robek, makanya kalau berhasil puas deh 😬

Label harga yang berhasil 'diselamatkan' seringkali saya pindahkan ke cover buku supaya ingat harganya.

3. | Mencantumkan Tanggal dan Tempat Beli Buku


Nah, ini sempet bolong, apalagi untuk komik, saya nggak tulis selama beberapa tahun. Tapi belakangan kalau beli buku saya kembali menuliskan tempat dan tanggal beli. Suami pernah saya suruh menulis, eh, ternyata malah dia yang lebih rajin menulis πŸ˜‚

4. | Memberikan Nama atau Cap Stempel


Nama ini bisa nama alias, bisa nama asli. Intinya sih nama. Kalau punya perpustakaan pribadi dikasih stempel supaya lebih eksklusif seperti buku-buku koleksi kakak saya.

Kalau saya pribadi sih nama doang hahaha... Tapi someday bisa deh, niruin kakak saya pas punya perpustakaan sendiri. Aamiin! πŸ˜„

5. | Membungkus dengan Plastik Agar Cover Buku Tidak Kotor


Poin ini dulu pas masih SD dan MTs nyaris selalu saya lakukan, apalagi buku pelajaran yang saya sukai, biasanya selalu saya bungkus. Sebenarnya di awal-awal perihal membungkus ini dipaksa sama Mama, eh, lama-lama malah jadi kebiasaan.

Tapi nggak lama, setelah meneruskan SMK ke Banjarmasin, buku pelajaran saya rata-rata sudah duluan hardcover atau covernya kokoh duluan dari sononya (misal Farmakope, ISO, OOP, buku terbitan Erlangga) jadinya saya malah jarang ngasih bungkus plastik.

πŸ“š πŸ“š πŸ“š 


Nah, itu dia hal-hal yang biasanya saya lakukan setelah saya membeli buku. Mungkin 5 hal itu juga harus kamu lakukan setiap membeli buku baru, selain menjadi identitas kepemilikan dan merawat fisik buku. 5-10 tahun yang akan datang, atau saat kamu sudah 'kembali', buku-bukumu tetap punya memori siapa yang dahulu membawanya pulang dari toko buku.

Apakah kamu bisa melakukan 5 Hal sederhana ini?
Wednesday, July 10, 2019

Mengatur Waktu Antara Mengurus Diri, Bekerja dan Blogging


Setiap melihat jumlah postingan yang ada di blog, hati saya rasanya menjerit melihat angka (yang jika dibandingkan dengan blogger lain) bisa dibilang kecil itu. 

Terlebih setelah beberapa bulan belakangan saya kembali bekerja (alasannya? nanti tanya saya via japri ya 😜), jeritan itu rasanya makin kencang. Iya, soalnya tulisan makin dikit, apalagi yang berbau curhat begini, nyaris nggak ada lagi kalau dibandingkan sama awal-awal bikin blog ini. 😬

"Woy buk, kamu ngapain aja sik?? Kok blog sendiri nggak diupdate. Tiap hari bayaran jalan, lho!"

Hmm... Saya nggak tau kata-kata semacam itu self talk yang positif atau negatif. Karena kadang saya merasa bisa jadi positif dan kadang juga, saya merasa itu jadi negatif.

Eh, gimana sih maksudnya? πŸ€” 

Jadi, positifnya tuh kalau saya mikir begitu, saya jadi lebih rajin ngumpulin ide untuk ditulis. Saya jadi mikirin gimana 'ngasih makan' blog saya ini. ✨

Negatifnya, seperti yang saya mention tadi di awal, saya kan mulai bekerja lagi, meskipun cuma bantu-bantu tapi kalau dipaksakan ngerjain semua, tetep saya jadi keteteran sendiri. 

Dan dimana-mana, yang namanya keteteran itu nggak enak. Iya nggak?

Terus, nggak sengaja saya kemarin pas jalan-jalan di feed Instagram, ketemu dengan salah satu quote yang cukup menohok. Bunyinya kurang lebih begini :



"You Can Do Anything. But You Can't Do Everything" -  (Heidi Powell) 


Yang kalau saya terjemahin, sadar diri lah kapasitas diri gimana sanggupnya. HAHAHA

Baca ini tuh saya jadi mikir, iya sih, kenapa selama ini saya selalu bilang "ya/oke/inggih" kalau dimintai tolong ya, kalau ujug-ujug malah jadi nggak amanah?

Afterall, kenyataannya saya kan punya prioritas paling penting dalam hidup saya: DIRI SAYA SENDIRI dan KELUARGA.

Mengingat beberapa bulan belakangan saya sampai berobat ke dokter spesialis karena sakit. Saya jadi seakan diberi teguran untuk menjaga kesehatan baik-baik.

Terus, senin depan anak saya sudah siap masuk PAUD juga dong. Jadi, sudah harus adaptasi lagi dengan jadwal menyekolahkan anak. 

Ya Allah, time flies so fast. Udah mau sekolah aja ya si Nuy. Makin tuwir aja ini maknyaaaa *oles antiaging* *tolong ini saya sebenarnya nulis apa*

Kembali ke laptop. 

Soal ngurusin blog, kembali ke ranah domestik, dan juga mengurus diri dan keluarga. Saya akhirnya membuat keputusan besar untuk cut off beberapa hal supaya bisa fokus di 3 hal ini. 

Satu, keluarga (dan tetek banget rumah tangga). 

Sekarang saya masih LDM sama suami, dan satu semester lagi Insya Allah segera bisa serumah lagi, tapi sekarang ya harus strong untuk mengurus anak dan rumah sendirian, yaaa sebenernya ada Mama  di rumah. Tapi saya nggak pengen nyusahin beliau. Kami nggak pernah hire asisten rumah tangga, jadi ya semua cucian, setrika, pel, masak, dan lain-lain dikerjakan sendiri. Dan kebalikan dari saya yang orangnya berantakan dan seadanya, mama tuh orangnya well organizing. Jadi nggak bisa dikerjain seadanya. HEHE 

Dua, pekerjaan. 

Jadi, dalam rangka membangun nuansa keuangan yang lebih dinamis dan juga bisa saving lebih banyak untuk bekal hidup yang akan datang (atau simply, BU πŸ˜‚) saya terjun lagi ke ranah domestik. No komen ya. 

Tiga, blogging. 

Ya, saya sepertinya akan lebih sering lagi menulis tentang cerita hidup saya yang sederhana disini. Menjadikan blog pribadi saya sebagai rumah, bukan sebagai ladang beternak saja. 

Ya, saya akan fokus di tiga hal itu saja. Doakan saya semoga semuanya berjalan dengan lancar ya!