Kamis, Juni 16, 2016

Bumil dan Busui, Bayar Fidyah atau Puasa?


Bumil dan Busui, Bayar Fidyah atau Puasa? - Marhaban Yaa Ramadhan... Selamat menunaikan ibadah puasa! Udah masuk bulan puasa minggu ke-2 ya ini. udah ada puasa yang bolong nggak? Semoga nggak ada ya, apalagi gara-gara nggak kuat doang. bukan karena sakit ataupun udzur berat lainnya. Malu sama tahun lahir di KTP, udah tuwir. Uhuk.

Ngomong-ngomong, ditanggal 10 Juni kemarin Nuuy sudah genap berusia setahun lho!
Nggak kerasa banget, perasaan baru kemaren aja jalan a la putri keraton sambil menahan senat-senut abis lahiran, eh sekarang giliran ini anak yang udah nggak bisa digendong manis lagi, udah belajar jalan aja. jalan sana-jalan situ menjelajahi rumah sampai kesudut-sudut. Time flies so fast yah. dan Alhamdulillah Manuuy ternyata  masih diberi umur ketemu sama Ramadhan tahun ini :')

Sebagai emak bayi.. eh batita berumur satu taon, saya masih aktif menyusui. dan berhubung nuuy ini tipe anak yang nggak suka sama yang namanya susu formula (dunno whyy) saya pun mesti menyusui juga selama bulan Ramadhan, ternyata omongan nenek Nuuy kalau ASI bakalan terasa masam -dan nggak disukai bayi- kalau emaknya puasa nggak terjadi, biasa ae. Daya sedotnya masih luar biasa normal, dan praktis berarti saya akan tetap menyusui selama Ramadhan ini. 
Semangat!



Lho, Emangnya kuat puasa sambil nyusuin?
Itu pertanyaan yang sering kudengar. Bahkan mama dirumah juga diawal ramadhan sudah wanta-wanti buat menunda puasa kalau menyusui, kata beliau takut nanti lemes, nggak ada tenaga, ASI gak keluar trus aku sakit gegara kekurangan cairan tubuh. Tapi sesudah konsultasi sama suami, katanya gapapa kalau ngerasa mampu buat puasa, Dan akhirnya... puasa juga eike ciiin... hahaha
Kalau ngingat hutang puasa tahun kemarin yang bolong full, jadi ngerasa terpacu buat full puasa tahun ini. Aiiih semoga ya :D

Kalau Gak Kuat Gimana Dong?
Memang, kalau nggak kuat nggak masalah, boleh nggak puasa
Tapiiiiii..... 
Kalonya gak puasa wajib bayar hutang puasa kita atau bayar fidyah ^-^
Dan menurut beberapa ulama, keduanya ... 
Setiap satu hari meninggalkan puasa, maka hukumnya wajib membayar fidyah kepada satu orang fakir miskin. Ada ayatnya didalam Al-Quran :


اَيَّامًا مَعْدُوْدتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا اَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَ اَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ اَيَّامٍ اُخَرَ يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.
(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak mengendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.
 
(Q.S. Al-Baqarah: 184-185).

Oh gitu... Terus gimana sih caranya Ngitung Takaran Fidyah?
Banyak pendapat, tapi mayoritas ulama seperti Imam As-Syafi’i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. 
Apa itu mud? 
Mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, kira-kira mirip orang berdoa gitu deh. 
laaah, kan tangan orang beda-beda?
Makanya dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 halaman 143 disebutkan bahwa jika diukur dengan ukuran zaman sekarang, maka satu mud itu setara dengan 675 gram atau 0,688 liter. Sedangkan 1 sha‘ setara dengan 4 mud . Bila ditimbang, 1 sha‘ itu beratnya kira-kira 2.176 gram dan bila diukur volumenya 1 sha‘ setara dengan 2,75 atau kira-kira 3 liter atau 3 kg. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg.

Bayar fidyah juga gak mesti gandum, bisa disesuaikan dengan bahan makanan pokok wilayah masing-masing. kalau ditempat kita beras, ya ganti sama beras juga. kalau di arab makainya gandum atau kurma. Yang pasti gak boleh diganti sama uang yaaa.

Cara Bayar Fidyah Gimana?
Inti dari bayar fidyah adalah membayar 'hutang' satu hari puasa dengan ngasih makan satu orang miskin. banyak caranya...
  1. Masak makanan, terus undang penerima fidyah buat makan makanan yang kita masak tadi. Jumlah penerima fidyah yang kita undang sejumlah hari-hari kita gak puasa. Misalnya kita meninggalkan puasa 30 hari maka kita cukup membayar 30 porsi makanan kepada 30 orang miskin saja. Cara seperti ini dipakai oleh Anas bin Malik saat tidak berpuasa karena sudah renta. bisa kok kita tiru. [1]
  2. Kasih mentahnya aja, misalnya mau fidyah dengan memberi beras. kasih berasnya aja boleh,. diberi lauk lebih bagus lagi. Telor, sarden, daging, kornet, ikan, dkk biar gak ribet lagi ^_^

Berarti Ngasih Makannya 3 x Sehari Ya?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menerangkan bahwa setiap yang disebut makanan baik dari kurma, gandum, nasi dan lainnya, maka bisa dijadikan fidyah. Sedangkan ukurannya dilihat dari ‘urf atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Kapan sudah disebut memberi makan, berarti sudah disebut menunaikan fidyah. 

Anas bin Malik ketika sudah berusia senja, ia mengumpulkan 30 orang fakir miskin lalu ia memberikan roti dan lauk [1]. Oleh karenanya, jika orang miskin dikumpulkan lalu diberikan makan pagi atau makan siang, maka seperti sudah disebut menunaikan fidyah. Demikian keterangan beliau dalam Syarhul Mumthi’.



Siapa Saja yang Harus Bayar Fidyah?
  1. Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi. Jadi kondisinya sudah gak memungkinkan doi buat puasa gitu, boleh kok bayar fidyah aja.
  2. Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa. So jangan maksa kakek nenek usia 80 taon puasa ya genks. ada solusinya ini :D
  3. Wanita yang hamil dan menyusui saat mereka tidak puasa karena mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya, menurut sebagian ulama mereka wajib membayar fidyah saja. Namun menurut Imam Syafi’i selain wajib membayar fidyah juga wajib mengqadha’ (mengganti) puasanya. Sedangkan menurut pendapat lain, tidak membayar fidyah tetapi cukup mengqadha’.
    Ambil yang sesuai dengan keadaan yang bisa dikerjakan, kalau aku sih biasanya bayar lewat puasa aja, soalnya kemarin pas bayar hutang puasa pasca nifas tahunya cuma gitu aja :D 
    Tapi kalau mau afdhol sebaiknya keduanya, mengqadha' puasa sekaligus bayar fidyah.
  4. Orang yang menunda kewajiban mengqadha’ puasa Ramadhan tanpa uzur syar’i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha’nya sekaligus membayar fidyah ( ini menurut sebagian ulama.) 


Kapan Bayar Fidyah?
Menurut mayoritas ulama, bayar fidyah tidak boleh dilakukan lebih dahulu sebelum kita memasuki hari kita tidak puasa. maksudnya gini... misalnya kita tidak puasa hari pertama sampai dengan hari ke-12. maka kita baru boleh bayar pada malam hari ke-12. Gak boleh pas hari ke-12, kita bayar fidyah buat hari ke-1 sampai hari ke-30, soalnya belum terlewati harinya. 
Menurutku waktu bayar fidyah yang baik itu, sekalian pas akhir ramadhan atau sesudah ramadhan. pas kita udah tau pasti berapa hari jumlah puasa yang kita tidak kerjakan dan fix buat berapa hari bayar fidyah. Ini kalau aku ya ^^

So...
Memang masih ada perbedaan kecil antar mahdzab, tapi pada intinya kalau kita telusuri lagi pembayaran 'fidyah saja' lebih merujuk pada pembayaran puasa untuk lansia atau orang sakit yang mana bila dia puasa bakalan membahayakan dirinya sendiri, atau untuk golongan yang notabene sudah benar-benar tidak bisa/tidak boleh/tidak mampu puasa lagi.
Untuk ibu hamil atau menyusui yang tidak mampu berpuasa ada berbagai pendapat.
Ada ulama yang bilang bisa kok nanti bayar puasanya pada saat dia mampu, ada juga ulama yang berpendapat cukup dengan bayar fidyah saja, ada pula yang bilang mengqadha sekaligus bayar fidyah.
ketiganya berdiri dengan dalilnya masing-masing, 
  • Yang biang kalau puasanya bisa diganti dilain waktu berpendapat bahwa ibu hamil dan ibu menyusui yang tidak mampu puasa disamakan dengan orang sakit, dan dalil bahwa orang sakit boleh menangguhkan puasa lalu menggantinya saat sehat ada di Q.S Al-Baqarah : 184.
  • Yang bilang kalau puasanya boleh bayar fidyah saja ada hadistnya juga, "Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang seorang wanita hamil yang mengkhawatirkan anaknya, maka beliau berkata, “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin.” (al-Baihaqi dalam Sunan dari jalan Imam Syafi’i, sanadnya shahih).
  • Yang bilang kalau harus bayar puasa dan bayar qadha juga ada dalilnya. Dalil sang ibu wajib mengqadha adalah sebagaimana dalil pada kondisi pertama, yaitu wajibnya bagi orang yang tidak berpuasa untuk mengqadha di hari lain ketika telah memiliki kemampuan.
    Para ulama berpendapat tetap wajibnya mengqadha puasa ini karena tidak ada dalam syari’at yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu mengerjakannya, hal ini dikuatkan oleh perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Irwa’ul Ghalil). Begitu pula jawaban Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya, beliau menjawab, “Hendaklah berbuka dan memberi makan seorang miskin setiap hari yang ditinggalkan.”

O Iya, Masing-masing mahzab punya pertimbangan dan pendapatnya masing-masing. Kita sesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, serta 'urf (kebiasaan) yang ada disekeliling kita aja, toh Islam gak pernah mempersulit umat-nya. 

Jadi gak usah bingung atau debat kalau ada yang bilang perhitungan fidyah sehari itu satu mud (madzhab Syafi'i dan Maliki, Thawus, Al-Awza'i, Said bin Zubair), satu 'sha (madzhab Hanafi), atau setengah sha'(Madzhab Hambali). Kita pakai yang menurut kita paling sesuai aja, atau ngikut sama pilihan mayoritas ulama. Aman.

Nah, gitu dulu yang bisa kutulis. Tulisan ini kubuat untuk reminder diri sendiri yaaa, ambil yang baik tinggalkan yang buruk, semoga bermanfaat  :D

Kalau ada pertanyaan, tanyakan ke Ustadz Ustadzah terdekat ya^^
Buat yang masih punya hutang puasa, yuk kita bayar hutang puasa kita!

Sumber : [1] [2] [3] [4] [5] [7] [8]
10 komentar on "Bumil dan Busui, Bayar Fidyah atau Puasa?"
  1. wah kemarin aku juga baru dapet info share2an tentang tema ini. Tetapi di info yg aku dapet (dan baru tahu juga) untuk bumil dan busui lebih diutamakan mengqada' puasa, dikarenakan dianggap masih memiliki kemampuan untuk menggantinya. Kalau untuk lansia atau sakit parah yg kemungkinan utk mengganti puasanya sangat kecil, dianjurkan untuk membayar fidyah.

    Kalau temenku lebih memilih aman dengan melakukan 2-2nya, baik mengqadha maupun fidyah.

    Tapi, all in all, semua kembali pada keyakinan masing-masing. Yang yakin fidyah silakan, yg qadha silakan dan yang 2-2 nya silakan.

    Just my two cent, mak, salam kenal btw :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap mahdzab punya pendapat masing-masing ya mak.
      kalau bumil busui lebih baik nanti pas mampu mengqadha ya. bayar fidyah tunggal cuma buat lansia aja :D

      Iya mak, aku lebih pro sama pendapat fidyah + bayar puasa. Kan masih muda juga. Salam kenal juga mak, makasih masukannya :)

      Hapus
  2. Sebantar lagi mau bayar zakat sepertinya sudah ada gambaran mbak.

    BalasHapus
  3. Pas banget karena aku masi bingung tentang fidyah
    Kupikir klo bumil cuma bayar utang aja ga pake fidyah klo masih sehat abis lahiran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku juga baru tau sesudah baca sana-sini :D

      Hapus
  4. Mb aku klo pas mau komen, di postingan yg blum ada yang komen agak susah ya kokom komennya, kenapa kah? Huhu padahal aku suka pingin komen, tp klo blum ada yg ngeduluin, kotak komenn blog mb ga bisa diklik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah... Mungkin bawaan templatenya kali ya mba? nanti habis lebaran aku rombak lagi deh, ini pakai hasil download, kurang responsif mungkin. huhu
      Makasih ya mba udah dikasih tau :)

      Hapus
  5. Waaaaaah iyaaa, tadi aku mau komen di postingan paling baru tapi gabisa, yaudah BW ke postingan ini ajaa. KAlo aku dulu fidyah ajaaa, blum sempet ganti nihhh, abis hamilnya dua tahun berturut-turut sihh. Ehehee. Makasi sharingnya ya Mbaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya mak, aku rombak juga akhirnya nih, banyak yang bilang sulit komen. Ya mudah-mudahan gara-gara template ya.. Makasih udah mampir mak :D

      Hapus

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature