SOCIAL MEDIA

Tuesday, November 22, 2022

Quick Life Update: Cerita Rumah Pertama

Assalamualaikum. 
Halo, apa ada yang masih baca blog ini? πŸ‘‹

Sepertinya satu tahun setengah terakhir, especially tahun 2022 ini saya nyaris nggak menulis apa-apa lagi ya disini. Sedih banget saya jadi kurang aktif mempublikasikan tulisan padahal sebenarnya udah banyak banget nyampah di draft blog dan juga sosmed lainnya seperti Twitter. lol. 

So, karena itu ceritanya hari ini saya bela-belain memaksakan diri harus update satu buah postingan baru di blog, meskipun nggak sampai 1000 kata dan nggak SEO friendly nggak apa-apa deh ya. Mengejar kesempurnaan cuma bikin postingan saya nggak rampung-rampung soalnya. wkwk. Ini pun nggak akan saya edit banyak-banyak jadi selesai saya menulis bisa langsung saya publikasikan. 
(ikat kepala dan langsung ngetik lagi) 

Bulan Agustus ini ada beberapa highlight penting yang saya harus tulis, diantaranya adalah : Alhamdulillah keluarga kecil kami sudah pindah ke rumah baru di Rantau. Masya Allah Tabarakallah bener-bener nggak nyangka akhirnya di tahun ini bisa punya rumah sendiri. :') 

Iyaps, ini adalah rumah pertama kami sejak awal pernikahan. Super duper dikasih Allah rezeki yang nggak disangka-sangka sampai akhirnya bisa beli rumah tanpa ada hutang sepeserpun, dipermudah dan diaturkan-Nya sedemikian rupa sampai kami cuma bisa heran. 

πŸ’«Menuju Home Sweet HomeπŸ’«


Sebenarnya percakapan tentang rumah ini sudah dimulai sejak tahun 2020. Kami ditawari sebidang tanah di dekat mertua di desa, beliau mau memberi tanah itu supaya kami nggak perlu capek-capek lagi untuk mengontrak. Kehidupan di awal pernikahan kami setidaknya di 4,5 tahun pertama adalah kuliah, kuliah, dan kuliah. Saya yang kuliah di Banjarmasin sampe wisuda tahun 2017an, dan paksu yang kuliah di Malang sampe tahun 2020an itu jadwal dan finansialnya bener-bener under pressure jadi kami memutuskan untuk ngontrak rumah dulu. 

Kalau ditanya karena apa? Tentu saja jawabannya karena uangnya sudah habis duluan buat biaya kuliah. HAHAHA. 


rencanamu vs rencana Allah
Nggak artinya rumah saya begini ya, cuman ternyata rencana Allah tuh jauuuh lebih baik daripada rencana kita. 


Long story short, saya sekarang diterima bekerja di Kandangan yang jaraknya cukup jauh dari kota Rantau. Nah, dari desa tempat mertua ke kota Rantau saja sudah lumayan jaraknya, apalagi kalau ke Kandangan. Jadilah saya merasa perlu ada opsi lain yang lebih bijak dibanding saya harus PP sejauh itu di awal bekerja. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya mertua untuk membangun rumah di desa pun nggak pernah jadi realisasi. Padahal hidup di desa sepertinya enak. Tetangga ramah-ramah, dekat majelis agama, harga kebutuhan sehari-hari lebih terjangkau. Iya nggak sih?

Selalu ada yang bisa disyukuri, salah satunya adalah berkah dari perjuangan kuliah waktu itu akhirnya bisa dipetik sekarang, saya udah punya pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan (saya bilang lumayan karena sebelumnya pernah bekerja dengan gaji 5ribu/jam. Jadi, apa itu UMR? πŸ˜ŒπŸ™ƒ) dan paksu juga kariernya berkembang ke arah yang lebih baik, sama sekali nggak merencanakan sejauh ini karena paksu bukan tipe karyawan ambis tapi kayanya mengalir aja. Ini kami bikin jadi prasangka baik, kalau semua ini tuh udah di planning sama Allah sedemikian rupa, jadi kami berdua cuma bisa terkagum-kagum setelah semuanya selesai.

πŸ’¬Menambah Dapur dan Laundry Room 

Basic model perumahan yang mungil awalnya ingin kami pertahankan karena rasanya udah cukup banget di kepala kami untuk hidup cukup didalamnya. Selain menambah kamar mandi dan juga WC di luar bangunan utama, rasanya nggak ada lagi yang kami inginkan. Sudah puas-puas aja rasanya dengan desain bawaan dari developer perumahan.

Sampai akhirnya kami berdua mikir kalau rasanya aneh aja buka pintu kamar mandi dan WC dan kamar mandi itu langsung ke dapur tempat kita makan, dan perkakas dapur kita kelihatan oleh tamu yang mungkin mampir (habis di rekap ternyata perkakas dapur kami yang terdahulu tuh banyak dan besar euy). Akhirnya kami memutuskan untuk menambah dapur dan tempat untuk mesin cuci dan jemuran. itupun kami berencana untuk bikin ukuran 3 x 3 m saja supaya irit lahan, tapi kemudian dikasih masukan oleh tukang yang bantu pengerjaannya untuk dibikin jadi 3 x 4 m supaya sesuai dengan lebar rumah, kami pun setuju.

Akhirnya proyek penambahan dapur dan ruang untuk cuci-cuci pun dimulai. Benar ternyata kalau budget untuk rumah itu suka nambah-nambah di ending yak hahaha. Estimasi biaya kita berapa, eh ternyata yang dipakai berapa. Makanya butuh banget tukang yang cermat dan bisa memperhitungkan bahan kalau untuk kita-kita yang masih belum pro dan cuma bermodalkan internet. *meringis* 

Kemarin kami menggunakan jasa tukang rekomendasi dari teman kerja Abahnuy, yang ternyata oke banget dengan harga yang bersahabat. 


🏑Acara Selamatan Rumah


Sebelum kami tinggali, kami bikin acara selamatan kecil-kecilan yang datang cuma keluarga inti karena acaranya malam hari dan selain membaca doa kami juga mengerjakan sholat hajat, kalau kebanyakan yang datang, rumahnya nggak muat karena rumahnya mungil. hehe. Nggak apa-apa deh ya, yang penting doanya sampai. πŸ˜„

Dengan demikian terlewatilah salah satu babak pernikahan kami, yakni punya rumah. Harapannya dengan rumah mungil ini, kami jadi punya tempat untuk hidup dan naungan yang berkah sehingga mempermudah kami untuk bisa beribadah kepada Yang Maha Kuasa yang sudah memberi rizki. 

Aaamiin Allahumma Aamiin. 

Terimakasih sudah mampir membaca, Have a nice day!


Saturday, November 19, 2022

Perks of Being Lady Bikers


Hello! 

Pertama-tama, maafkan saya karena sudah mencatut nama Lady Bikers supaya judul postingan ini bisa terlihat nyambung bahasa Inggrisnya ya. Karena ternyata sehabis saya baca-baca lagi, ternyata istilah ini lebih lazim digunakan untuk merujuk wanita yang mengendarai motor gede. Mungkin saya boleh dibilang Lady Bikers versi lite saja karena masih pakai scooters? hehe