Sunday, March 10, 2019

4 Film Indonesia Favorit


Film Indonesia Favorit - Assalamualaikum. Temans, sudah tahu belum kalau tanggal 30 Maret ini adalah Hari Film Nasional? Nah, kali ini aku beserta teman-teman dari  komunitas Female Blogger of Banjarmasin memutuskan untuk mengulas tema "Film" di #FbbKolaborasi bulan Maret ini. 






Geliat industri film di Nusantara akhir-akhir ini lumayan menggembirakan. Banyak film yang berhasil menarik perhatian dunia Internasional karena kualitasnya yang dinilai bagus, sebut saja Merantau, The Raid, atau film Indie Ziarah.

Aku pribadi menilai kalau dunia perfilman Indonesia kembali menghangat. Tentu saja harapanku kedepannya kehangatan ini berubah jadi bara api dan membakar semangat sineas Indonesia agar mengembalikan kejayaan Film-film Indonesia seperti zaman 80'an.

Tugas kita sebagai Netizen Indonesia pastinya mendukung usaha mereka. Contohnya dengan menonton langsung filmnya ke bioskop, pokoknya jadi bagian dari #NoFilmIndonesiaBajakanClub.

Setuju? πŸ€— 

Nah, ngomongin film favorit, aku selaku penikmat film punya banyaaaak banget daftar film. Tapi untuk film Indonesia sendiri ternyata habis kuperiksa cuma sedikit. Bahkan kalau dihitung-hitung, film Indonesia yang sudah aku tonton di bioskop bisa dihitung dengan jari tangan. Sedih ya πŸ™

Tapi, di #FbbKolaborasi kali ini aku pengen mengulas singkat beberapa film Indonesia yang pernah aku tonton dan berkesan  bagiku.

Baiklah, tanpa basa-basi lagi, ini daftar Film Indonesia Terbaik a la Syunamom.com :

#1 | Habibie Ainun



Kalau nonton film ini, harus sedia tisu! - Mamanuy

Yep, ceritanya mengharu biru, daaan based on true story dari pasangan legendaris Indonesia, Bapak Baharuddin Jusuf Habibie dan juga Ibu Hasri Ainun Besari.

Well, siapa sih yang nggak kenal dengan Pak Habibie? Mantan presiden ke-3 Indonesia ini selain jenius nggak ketolongan, juga terkenal hanya mencintai Ibu Ainun sepanjang hidupnya. Bahkan ketika Ibu Ainun meninggal dunia lebih dahulu daripada beliau, Pak Habibie masih tetap setia tidak mencari pengganti. Alih-alih mencari pengganti, Pak Habibie justru memesan sepetak tanah disamping makam istrinya sebagai tempat peristirahatan terakhir beliau kelak.

Level romantisnya nggak ecek-ecek. Mama, Ibu mertua sama Bapak Mertua bahkan suka film ini. ❤️

My Stupid Boss



BCL memang multitalenta, nggak cuma pinter nyanyi doang, aktingnya juga keren abis.

Tapi bukan karena BCL aku suka film ini, melainkan karena novelnya yang ngocol abis. Rahang sampai sakit gara-gara membaca cerita si Pak Boss dan Bu Kerani di kantor. Terbaik sih ini, nggak rugi banget dikoleksi. πŸ˜‚

Filmnya lumayan lah, not bad. Cuma kurang panjang, mungkin cocoknya dibikin short romcom seperti "Tetangga Masa Gitu" ya πŸ˜€

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Aku nonton film ini bareng geng ibu-ibu 40an ke atas waktu masih kuliah, jadi berasa berkesan banget sampai sekarang.

Filmnya sendiri bercerita tentang tragedi yang menimpa pasangan berbeda suku. Yang satu perempuan bangsawan Minang, yang satu laki-laki biasa dari Makassar. Tembok penghalang mereka bukan cuma berbeda suku, tapi juga kelas sosial. Masalahnya juga mengakar ke sistem patrilineal yang ada di Indonesia, ah, sederhana tapi rumit. 

Ibu-ibu yang sekamar denganku matanya sampe bengkak gara-gara nonton ini karena baper parah. Kata teman-teman beliau, dahulu sempat mengalami hal serupa dengan Zainuddin di film ini

Terlepas dari efek CGI yang menurutku kurang mulus, film ini benar-benar bagus!

Oh iya, film ini diangkat dari novel lawas karangan Buya Hamka. Nama  besar pengarangnya sudah menjadi jaminan ceritanya nggak mengecewakan, ya? πŸ˜‰

“Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, disana telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh kepada perintahnya”.
Laskar Pelangi



Menyusul kesuksesan novelnya yang diterbitkan di 24 negara, Film tetralogi Laskar Pelangi juga berhasil meraup banyak penonton.

Kenapa? 

Karena kualitas filmnya sendiri patut diacungi jempol. Pemilihan karakter, pembangunan background cerita, sampai lagu-lagu yang menjadi original soundtracknya benar-benar bukan main.

Baca juga: Destinasi Wisata Pulau Belitung Mulai dari Menara sampai Sekolah Laskar Pelangi

Sebut saja lagu 'Laskar Pelangi'  yang dibawakan oleh grup band Nidji, atau lagu 'Tak Perlu Keliling Dunia'  yang dinyanyikan Gita Gutawa, atau mungkin 'Zakiah Nurmala' yang jadi favoritku. Hehe...

Pokoknya, musisi yang digandeng mengisi soundtrack semuanya memberikan karya terbaiknya di film ini. Aktor dan aktrisnya jangan ditanya, film ini diputar dibanyak festival film dan mendapat feeback positif. ❤️

🌷🌷🌷

Nah, cukup itu dulu ya yang aku bahas di #FbbKolaborasi kali ini. Aku masih mengingat-ingat film Indonesia yang aku tonton, hihi.

Kalau kamu, film Indonesia Favorit-nya apa aja nih?

Saturday, March 09, 2019

Suka Duka Menjalani Long Distance Marriage (LDM)

Suka Duka Menjalani Long Distance Marriage (LDM) - Assalamualaikum, ngomongin soal pilihan, pastinya nggak ada pasutri normal di dunia ini yang pengen hidup saling berjauhan. Semuanya pasti pengen hidup bersama-sama, saling berdampingan, bisa ketemuan setiap hari. 

Tidur ada partnernya, makan ada temennya, sholat ada imamnya, menggila ada kongsinya. 

Wah, pokoknya ya udah jadi macam bayangan. Dimana ada kamu, disana ada dia. Dimana ada Dilan, disitu ada Milea. (ehemm maksa amat ya istilahnya wkwk). 



Tapi gimana misalnya kalau terpaksa dipisahkan jarak? 

.... Kayak aku ini? (atau mungkin seperti kamu yang lagi baca ini?) 

Waaaaah, pastinya kita semua yang mengalami hal ini sepakat kalau rasanya NANO-NANO! Ada manisnya, ada asinnya, banyak ASEM-nya. 

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚✌️

Sejauh ini, memang banyak banget hal yang aku pribadi rasakan seputar Long Distance Marriage (LDM), ada suka dan ada juga dukanya. Ya, namanya juga nano-nano. Tadinya sih pengen nulis ini nanti kalau sudah selesai LDM-an, tapi nanti ilang feeling-nya. Jadi mending ditulis sekarang aja mumpung lagi anget. Hehe.

Oke, ini dia  penjabaran nano-nano yang saya rasakan :

PLUS (SUKA-SUKA AJA, MASIH BISA DIAMBIL POSITIFNYA)


✨ Mengajarkan rasa sabar & syukur.

Biasanya dulu di rumah pagi-pagi itu saya masak nasi anget, dadar telor pake daun bawang, menyeduh teh hijau, terus makan sama-sama Abah dan Nuy. 

Menunya sederhana abis, tapi jam sarapan itu banyak diisi dengan ngobrol receh seputar rencana yang akan dilakukan hari itu. Momen-momen sederhana begini asli ngangenin banget. 

Bikin sedih kalau lihat rekaman iseng kami bertiga di smartphone, soalnya sekarang menunggu momen begitu itu mesti lamaaaa dulu nunggu Abah bisa libur kuliah :'(



Tapi, berkat LDM ini juga, aku jadi semakin bisa memaknai rasa syukur hidup seatap bareng suami dan anak. Hal begini tuh tanpa disadari ternyata pengaruh banget sama emosional kita lho! In a good way pastinya! 

✨ Memupuk rasa saling percaya & komitmen

Selempeng-lempengnya pasangan ya mana ada sih yang bisa 100% percaya begitu aja kalau jaraknya jauh? Minimal ya aku nanya-nanya lah, dinas nanti sama siapa aja, jalan-jalan bareng temen ada ceweknya nggak, itu yang bening di foto bersama namanya siapa jangan deket-deket.



Kelar ditanya-tanya juga nggak ada jaminan, jadi sisanya ya tinggal saling percaya dan serahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Esa. 

Ingat-ingat komitmen sebelum memutuskan menikah supaya iman nggak mendadak lemah. Anggap aja LDM ini ujian, soalnya nggak semua bisa tahan. Semoga kita bisa termasuk yang tahan. Aamiin. 


✨ Bebaaas (Dalam konotasi positif)

Yup, mau tidur jam 12 malam, mau tidur siang 2 jam. Terserah. 

Nggak ada yang bawel nyuruh tidur atau malah pusing sendiri mikirin menu makan siang. Meski ya harus tetap bantuin mama masak-masak di rumah kalau sudah masuk jam makan, atau teteup dimarahin kalau ketahuan begadang sama Mama. πŸ˜‚✌️



Tapi ya beda, feeling-nya sama suami tuh beda. Kebebasan bujangan sama kebebasan pas jauh dari suami tuh nggak sama. Bisa me time-nya itu loh. Kerasa banget pas jadi emak-emak gimana nikmatnya sesekali bisa bangun kesiangan (meski disambung dengan penyesalan habis itu lol).

MINUS (NGGAK ENAK, BENERAN! )

πŸ’” Quality time berkurang 

Yang paling NGGAK ENAK BANGET ya bagian ini. Mesti pisah dulu. Pengen ketemu sekali-kali tapi harga tiket pesawat bikin ngelus dada, rasanya jadi pengen ngasih piala Nobel sama yang kuat LDM bertahun-tahun itu, kok bisa hatinya bisa tetap damai. 

Salut dari lubuk hatiku yang terdalam pokoknya. Seriusan.

:'D

Terus, di awal-awal LDM Syuna seriiing banget nanya "Abah dimana, Ma?". 

Syukur banget jawabannya bisa selesai dengan "Abah lagi sekolah supaya tambah pinter, ini foto Abah pakai seragam", Syuna mau mengerti. 

Soalnya  ya nggak bisa bayangin gimana kalau dia ngasih pertanyaan mellow dengan kalimat drama macam "Mau Abaaaah... Abah manaaaa.... Abaah hilaaaang, kita ditinggal Abah maaaa.... " HAHAHA.



Meski lega pasal pertanyaan anak, perkara kurang quality time ini juga punya dampak, misalnya kangen berat karena nggak ada lagi yang tidur ngorok disamping, atau nggak ada lagi yang suka makai toner rambut istrinya buat vitamin kumis dan jambang. 

Yah, ribut receh gitu kayaknya bagiku juga quality time sih πŸ˜‚

πŸ’” Prasangka 

Yah, manusiawi banget cemburu. Cemburu tanda cinta. Manusiawi banget punya prasangka. Prasangka tandanya masih kepikiran dan peduli. 

Begitu sih katanya para ahli. Nggak mungkin kan merasa cemburu dan prasangka sama orang yang kita nggak cintai?

Tapi ya pastinya disaring aja baik-baik.

It comes back to you, it comes back to you, All the Things that you had lost will find their way to you. Tu lu luuu (nyanyi lagunya Imagine Dragons)

Kalau emang jodoh dan baik pasti balik lagi sama kita, tak ingin ku menerka-nerka mah kalau kata Mbak Nagita. πŸ˜›

πŸ’” Sendirian itu capek, Maemunah. 

Wah, seriusan. Capek. 

Nggak ada asisten rumah tangga sama sekali nggak masalah. Tapi nggak ada suami? Beban semuanya tanggung sendiri cuy. 

Harus kuat. Harus semangat. NGGAK BOLEH LETOY (meskipun ya sering letoy juga ujungnya hahahaha). Soalnya satu-satunya yang bisa diandalkan adalah diri kita sendiri. Anak lapar ya masak, anak pengen main ya temenin, anak pengen bobo dipeluk ya peluk, buang saja yang lainnya.  :")



Kemarin pas diajak ipar nyalon nikmatnya hidup tuh rasanya terpenuhi, padahal cuma trimming rambut doang. Tapi lumayan banget mengurangi capek hati karena sudah lama sendiri.

Serius, pas LDM ini jadi dapat gambaran  gimana hebatnya perempuan yang bernama single mom itu. Nggak ada hari libur, setiap hari, 24/7!!! 

*peluk hangat semua single mom, terutama mamaku sendiri, the best mom ever*

πŸ’” Nggak ada yang setia mendengarkan.

Banyak yang bilang aku orangnya pendiam. Dan itu nggak salah. Karena aku menyadari kalau aku itu orangnya super moody dan mungkin saja saat itu senang nggak mood bicara. (dua tahun terakhir moody ini tambah parah πŸ˜‘ terus terang ini harus kuperbaiki segera). 

Tapi di rumah, aku sanggup ngomong receh dan bebas sama Abah Nuy. Soal apa? Soal apapun. Gosip apapun. Tanpa khawatir akan terus ke orang lain. Dan sampai sekarang aku sendiri takjub dengan kesabarannya menghadapi ocehanku, yang kalau aku sendiri jadi pendengarnya, aku pasti sudah muak karena hobiku di rumah ngobrol ngalor-ngidul loncat-loncat topik.. πŸ˜‚

Mungkin juga dia tahan bukan karena sabar, tapi sebenarnya nggak di dengerin (kok sedih ya kalau begini 😬), tapi ya nggak apa-apa juga, yang penting dia bersedia diam menyediakan telinga dan bahu (atau semangkuk nasihat kalau topiknya perlu dikomentari serius). 

Nggak semua orang mau nonton anime  Tonari no Kaibutsu-kun denganku, nggak semua orang mau mendengarkan pendapatku tentang alisnya teman kerja yang seperti shinchan, tapi Abah Nuy mau. Dan aku suka itu.  


❤️❤️❤️

Hari-hari tanpa suami nggak gampang, tapi demi masa depan yang lebih cerah tetap harus dijalani, keyakinan bahwa semuanya pasti nanti akan terlewati menjadi hal yang tidak boleh dilupakan. 

Banyak harapan yang kita tanam dengan menyanggupi jarak saat ini. Jadi, semangat terus untuk semua mama yang sedang LDM.

Everything will always be daijobou. 



Custom Post Signature

Custom Post  Signature