Jumat, Juni 23, 2017

Hamil dan Terkena Demam Berdarah


Terkena Demam Berdarah Saat Sedang Hamil - Bagi setiap ibu, kehamilan yang sehat dan lancar hingga waktu melahiran tiba adalah sebuah harapan yang besar, tidak terkecuali buat saya dong pastinya. Saat hamil, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk saya dan janin yang sedang dalam saya kandung.

Maka dalam rangka mewujudkan kehamilan yang sejahtera, dulu sayapun melakukan beberapa 'penjagaan' dasar misalnya dengan rutin melakukan kontrol kandungan ke DSOG untuk memeriksakan kondisi janin, meminum vitamin khusus ibu hamil, dan juga menjaga ketat asupan makanan yang saya konsumsi.


Demi bayi yang saat itu belum pernah saya lihat wajahnya, saya bahkan puasa mie instan tercinta selama 6 bulan. Cuma 2 trimester sih, karena saat trimester ketiga saya 'tergoda' aroma mie kocok di kantin kampus dan kebobolan makan 2 kali 😛.

Pengorbanan besar tentunya, karena saat itu status saya adalah semi anak kost.
Coba saya tanya, anak kost mana coba yang bisa menahan godaan mie instan selama itu? Jarang pastinya. Wkwkwk

Namun seperti kata peribahasa *tsahhh..* untung susah digapai, malang tak dapat ditolak, meskipun sudah berusaha agar semuanya sehat sempurna, saat menginjak usia kehamilan 6 bulan saya didiagnosa dokter dengan suspect DHF.

Yea, saya hamil dan terkena demam berdarah dengue. Wah, ngeri-ngeri sedap nih. Saya share ya ceritanya, semoga bermanfaat.

🌷🌷🌷

Oh iya, mungkin ada yang masih belum familiar dengan istilah DHF ya...
Jadi gini, DHF ini secara garis besar penyakitnya sama dengan demam berdarah, tapi bisa dibilang lebih serius, naik levelnya jadi demam berdarah dengue (DBD), lebih berbahaya tentunya dibandingkan dengan demam berdarah biasa (DB/DF) karena mempunyai resiko kebocoran plasma darah yang lebih besar.

DHF adalah singkatan dari kata Dengue haemorhagic fever, yaitu penyakit yang disebabkan virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.

Masa inkubasinya tergolong lumayan cepat, (sekitar 4 hari) sehingga saya yang saat itu menjadi penderita juga Alhamdulillah nggak perlu merasa sakit terlalu lama.
Total saya dirawat di rumah adalah 1 hari dan total saya dirawat di rumah sakit sekitar 7 hari, kalau keduanya ditotal ya kurang lebih 8 hari.
Dirawat itu terhitung mulai penyakitnya aktif ya gaes, saat trombosit saya mulai drop.

Saya resume aja ceritanya mulai dari hari pertama muncul gejala supaya nggak terlalu panjang.

Minggu, 9 Januari 2015

Siang itu panas sekali, rasanya kulit seperti terpanggang. Saya dan suami pergi ke kondangan dekat tempat kerja, saat itu badan rasanya kurang enak tapi masih bisa ditahan sambil senyum dan mengobrol.

Sepulangnya dari kondangan, saya mendadak pengen makan sop buah, paksu pun menuruti keinginan istrinya (karena istri bunting adalah ratu, coy! :p).
Begitu tiba di warung sop buah, ternyata antriannya mengular, mungkin karena faktor cuacanya lagi panas kali ya, banyak orang yang nggak kebagian tempat duduk saat antri.
Kamipun mengurungkan niat untuk makan di warungnya, apalagi habis saya bilang sama paksu kalau kepala saya rasanya masih pusing, paksu langsung mengiyakan tawaran saya buat bungkus aja, akhirnya kami batal makan di warungnya, sop buah pesanan kami minta dibungkus karena kami memutuskan untuk makan di rumah.

Siangnya sesudah paksu pergi dinas, kepala saya makin pusing dan juga terasa berat, mata terasa sangat perih, saya putuskan untuk tidur karena mengira semua itu hanya kelelahan. 

Namun begitu bangun tidur disore hari, saya malah demam sekitar 38 derajat.

Malamnya demam saya semakin tinggi bahkan nyaris 40 derajat, saya beberapa kali muntah dan cuma bisa berbaring karena sakit kepala yang hebat, saya bahkan mengigau saking tingginya suhu tubuh.

Paginya saya ngarep demamnya turun, tapi ternyata tidak, badan saya bahkan mulai timbul bercak kemerahan. Waduh, apa pula lah ini...

Mengingat status saya sebagai ibu yang mengandung, keluarga merasa khawatir terjadi apa-apa dengan kondisi kandungan saya, maka pagi itu diantarlah saya ke puskesmas terdekat karena disana faskes pertama BPJS saya terdaftar, dan begitu para dokter dan bidan melihat kondisi saya yang sudah letoy kayak agar-agar, tanpa banyak cingcong mereka langsung menuliskan rujukan ke rumah sakit.

Bahkan seorang bidan senior di puskesmas itu bersedia mengantarkan dengan mobil pribadi beliau ke Rumah Sakit karena katanya kalau pakai mobil ambulance bakalan nunggu lama.
Ah, kalau ingat itu, saya rasanya jadi merasa hutang budi sama beliau. ☺

Begitu sampai di Rumah Sakit, saya diantarkan keruangan dengan menggunakan kursi roda.
I do not care at all bagaimana pandangan orang melihat saya waktu itu, karena rasanya menegakkan kepala saja susahnya minta ampun, saya lemas, rasanya isi perut saya sudah habis karena muntah.

Alhamdulillah suami langsung dapat kamar perawatan, saya langsung di infus dan diadakan cek darah, dan begitulah, hasilnya ternyata memang positif DHF.

Hah, terus bayi saya gimana?

Itu kekhawatiran saya yang pertama, bukan kesehatan saya karena itu nomor sekian, tapi bayi saya, janin yang saat itu saya kandung.
Saya takut kalau-kalau karena virus DHF ini bayi saya terganggu perkembangannya (Naudzubillahimindzalik).

Ah, namanya juga emak baru, parnoan, dikit-dikit panik, dikit-dikit heboh.

Kalau bisa saya rangkum sesuai ingatan dan catatan kecil saya waktu dirawat, ada gejala-gejala yang saat itu saya rasakan sebelum diklaim positif DHF, yaitu:
1. Demam tinggi secara mendadak. 
Merasa mual dan juga muntah-muntah.
2. Seluruh tubuh terasa sakit bak digebuki orang sekampung.
3.Mata terasa tidak nyaman, agak panas-panas perih.
4. Kulit kemerahan, ada bentol-bentolnya juga. Saya nggak ngeh, tapi keluarga bilang begitu.
5. Selalu haus (as always) tapi ini karena cuacanya panas mungkin juga sih.
6. Gusi berdarah. Tapi ini udah lama, seminggu sebelum positif juga udah ada dikit, bisa jadi karena bawaan hamil dan bukan karena DBD.  Mungkin saat itu saya kekurangan kalsium.

🌷🌷🌷

Lanjut ke bagian setelah saya diklaim positif DHF...

Saya sama suami pun ngobrol berdua, kok bisa ya saya yang terkena DHF, memang sih tepat di belakang rumah kami itu masih hutan belantara, lembab dan pastinya banyak sarang nyamuk, tapi kalau lingkungan rumah kami lumayan bersih kok. 😐

Eh, faktor lain lain juga ada, kami berdua adalah nakes dan paksu adalah frontliner, orang yang langsung terjun merawat orang sakit, termasuk penderita DHF! Kebetulan beberapa hari sebelum saya yang panas tinggi itu duluan paksu yang demam dan muntah, tapi paksu bukan ibu hamil, jadi dia nggak segan minum obat dengan dosis maksimal, Alhamdulillah dia sembuh dengan perawatan dirumah tanpa perlu ke rumah sakit.

Berdasarkan kemungkinan itu, kamipun merunut-runut kejadian dan sepertinya begini: 
1. (mungkin) suami yang pertama kena, tapi daya tahan tubuhnya kuat dan dapat obat yang tepat. Nggak tau juga sih, ini cuma praduga tanpa bukti.
2. Saya kelelahan karena minggu-minggu sebelumnya dihajar aktifitas kuliah-kerja-nginem seminggu full sehingga tubuh kurang fit dan daya tahan tubuh turun.
3. Saya sebelumnya pernah beberapa kali tidur tanpa kelambu. Kelambunya menurut saya udah kotor jadinya saya cuci deh, malamnya masih belum kering karena pas dijemur ternyata hujan. Saya lupa kalau nyamuk host DBD mempunyai sifat diurnal atau aktif pada jam tertentu yaitu pada pagi hari (sekitar pukul 09.00-12.00) dan juga sore (pukul 15.00-17.00).
Bisa jadi pas itu nyamuknya gigit ya, padahal sebelumnya 100% tidur pasti pakai kelambu.
Udah takdir kena sih menurut saya 😁

🌷🌷🌷

Akhirnya saya mesti pasrah, saya diputuskan untuk dirawat sampai trombosit saya mencapai jumlah normal kembali, hal ini membuat saya dirawat seminggu penuh, saya mesti cek laboratorium darah setiap hari untuk mengetahui sampai mana kemajuan perkembangan harian, setiap pagi hari sebelum sarapan diantarkan ke ruangan, para perawat datang untuk mengontrol obat dan mengecek tekanan darah saya sebelum akhirnya 'mengambil' darah segar sebanyak 3cc menggunakan spuit untuk diperiksa oleh bagian laboratorium. 

Saya udah terbisa dengan spuit atau suntikan, jadi rasanya cuma kaya digigit semut. 
Disuntik itu, kalau kata yanglek, dilemesin aja... 😝

Sayapun dirujuk ke poli kandungan untuk di USG setidaknya 5x dalam seminggu perawatan itu guna diperiksa gerakan janin didalam perut masih aktif atau menurun, dokter juga mengontrol bagaimana detak jantungnya, dua itu yang paling penting, ada pemeriksaan lanjutan DSOG tapi saya lupa nyatat. 😆

Pokoknya, selama perawatan saya highlight pengobatan saya itu, kira-kira begini...
1. Minum cairan yang banyak.
Pesan DSOG yang saya ingat banget itu adalah minum air putih dalam jumlah yang super banyak, minimal banget 3 liter sehari.
Waktu itu 1 dus air mineral saya pakai sendirian dan habis nggak sampai 2 hari, sekali sedot bisa sampai 2-3 gelas, kalau nggak habis minumnya suami saya emang nggak pernah maksa, tapi sodara-sodari saya itu tuuuuhhh... Selalu maksa sampe eneg saya minumnyaaa 😵😵😵

2. Makan buah jambu merah biji. 
Kebetulan di halaman rumah datuknya suami di Kandangan sana ada pohon jambu biji dan pohonnya lagi berbuah lebat. Mertua saya lagi silaturrahmi nengukin datuk, katanya sekalian deh minta buat saya, nggak tanggung-tanggung, mintanya satu plastik gede itu.
Bisa diduga, sayapun mabok jambu beberapa hari karena dicekoki jambu-jambu-dan-jambu sama paksu, kalau kemarin minum air itu dipaksa sodara, sekarang paksu yang maksa. Dalihnya gini: "Sayang kan ma, kalau buahnya nanti busuk... mending dimakan aja ya? ya? ya?" 
Zzzzz.... dia tau saya super pelit perkara buang makanan, jadi mulut saya pasti mangap sampai batas maksimal. 😤

Kalau nggak ada buah jambunya juga bisa pakai jus buah jambu merah yang ada dipasaran, Buavita misalnya. 
Kalau nggak suka rasanya, di apotek juga ada ekstrak jambu dalam bentuk sirup dan kapsul, namanya Psidii. Konsultasi dokter buat dosisnya ya!

3. Saya menolak segala jenis obat berapa antibiotik.
Ya buat apa? Awalnya saya menolak karena paksu yang ngeyel habis-habisan waktu itu, DHF karena virus, antibiotik buat bakteri, nggak tepat guna katanya. Waktu visit dokter, kami ajukan permintaan bagaimana kalau obat-obatan antibiotiknya tidak usah diberikan saja dengan pertimbangan saya sedang hamil, dokternya waktu itu sih manggut-manggut dan setuju soal antibiotik di-cut dari terapi saya, jadi gak masalah deh.
Sempet di skin test doang, waktu paksu lagi dinas ☺

🌷🌷🌷

Setelah seminggu dirawat dan jumlah trombosit saya dicek lab sudah memasuki jumlah normal, saya diputuskan boleh pulang dari RS, Yeayyyy!

Hal yang pertama saya rasakan adalah... Saya tambah semok. Ups, maksudnya saya tamvah bengkak, bukan bengkak kaya digigit lebah itu, tapi ini bengkak karena asupan air yang banyak dan juga kurang gerak tentunya, kan di tempat tidur melulu karena tangannya diinfus... Hihihi

Celana saya yang longgar ngepas semua, baju-baju juga, wow, reborn! Wkwkwk
Sampe rumah hal yang pertama saya lakukan adalah: PASANG KELAMBU! Soalnya saya ogah buat kena DHF lagi, kalau bisa ini yang pertama dan terakhir.

Saya jera!
9 komentar on "Hamil dan Terkena Demam Berdarah"
  1. Saya baru Mba ttg DHF yang ternyata lebih parah dari DBD. Iya jauh lebih cemas juga pengobatannya karena lagi hamil pula.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah nggak apa-apa mba :)

      Hapus
  2. semoga sehat-sehat terus ya mbak :(

    BalasHapus
  3. Andae bukan karena db, mam jambunya manteb juga tuh le
    Duh kebanyang di rs ngemilnya aer hihi, tetep ya infus cairan bikin semok
    Untunglah si nuuran sehat2 ya pas masanya lahir
    Deh degan gitu pas baca kupikir karena sop buahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Alhamdulillah banget sehat walafiat.
      Sampe sekarang rada trauma sama sop buah yang ada buah naganya mba :(

      Hapus
  4. Kalau kerjanya sebagai nakes kan ada booster vitamin ya supaya tetap fit dan ga gampang sakit?

    BalasHapus
  5. Aya Kemaren waktu kena DBD ribet nya luar biasa apalagi kalau lagi hamil �� Sehat terus bumil ��

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature