Sabtu, November 25, 2017

Diantara Angkutan Umum dan Angkutan Online.

sumber: taksi123.com
Bapak itu berkali-kali menyeka wajahnya dengan menggunakan handuk tipis yang menggantung di lehernya. 
Bajunya lumayan kusut, pun handuk tadi terlihat sudah usang.

Hari itu memang panas.
Dan ini taksi Colt Mitsubishi L300. Jadi dipastikan tidak ada AC dengan hawa dinginnya yang akan memanjakan penumpang seperti di bus-bus besar. 

Yang ada hanya kipas angin kecil menggunakan baterai yang ada di depan bapak supir. Kipas itupun berputarnya sudah soak, saya yang duduk di belakang pak supir tidak merasakan sedikitpun ada angin segar yang menerpa, jadi saya putuskan untuk membuka jendela taksi saja agar rasa gerah siang itu berkurang. 

Lumayan, semilir angin mulai masuk.

Sambil menikmati angin, sesekali saya dengar bapak itu mengangkat telpon, berbicara dengan rekannya diseberang sana tentang berapa penumpang yang didapat hari itu. Entah makelar atau sesama supir taksi colt. Yang jelas nada suaranya pahit sekali, sangat terasa kata-kata yang keluar dari mulut beliau penuh rasa getir.

Saya perhatikan sekeliling saya, hanya ada 2 orang penumpang tujuan Banjarmasin yang masih ada. Semua penumpang sebelumnya sudah singgah, hanya perjalanan pendek yang biayanya murah. Sekarang tersisa hanya kami berdua. Ibu-ibu disamping saya juga menaiki taksi dari Martapura. Sedangkan saya dari Rantau. 

Oh-oh! Paling-paling hanya dapat 55ribu saat sampai Banjarmasin nanti.
Seketika itu saya sadar, mata bapak supir itu sedikit merah, yang beliau seka berkali-kali tadi bukanlah peluh karena cuaca panas, melainkan air mata yang jatuh.

Bapak itu sedang menahan tangis!

🚎🚎🚎

Cerita itu bukan fiksi.

Sebelum era angkutan online dimulai, saya adalah pengguna setia angkutan umum. Taksi colt, taksi kuning, ojek pangkalan. Semuanya sudah sering saya naiki. Sejak kakak tertua saya melanjutkan SMU di Banjarmasin, saya kecil sudah sering menemani mama untuk menjenguk kakak ke Banjarmasin.
Waktu SMK dan juga kuliah, saya juga tidak dibekali dengan kendaraan pribadi. 

Alhasil, saya wajib mengadakan simbiosis mutualisme dengan teman yang bersedia membonceng saya, atau pilihan kedua, naik kendaraan umum.

Dulu, untuk jarak dekat, kalau ada teman, saya tentu akan numpang, misalnya dengan teman akrab saya, Rahma, yang pernah saya tulis juga aibnya disini. Kami berdua masuk tim #SudahHematSedariBelia.

Kalau jaraknya jauh. Semisal Banjarmasin-Rantau, maka akan saya lebih memilih menempuhnya dengan menggunakan taksi/angkutan umum.

Supirnya begini, pasti banyak yang antri :D
sumber: thedailyjapan

Menjelang boomingnya transportasi online, saya pun juga ikut menggunakan layanannya. Saya penasaran dengan performa layanan online yang katanya bagus, dan sesudah saya coba sendiri, ternyata memang oke. Untuk beberapa perjalanan dengan jarak tempuh tertentu, saya rasa harganya jauh lebih bersahabat dengan kantong saya yang sering kere ini. :D

Sampai hari ini, saya sudah menemukan berbagai driver dari angkutan umum maupun online. Ngobrol dengan mereka, mendengarkan curhat mereka juga, hingga saya dapat simpulkan, ternyata baik itu angkutan online maupun bukan, mereka semua punya suka dan dukanya sendiri.
Punya tangis dan tawanya masing-masing.

Saya tidak bisa keukeuh bilang kalau transportasi umum semunya menyebalkan, juga transportasi online semuanya menyenangkan.
Keduanya perlu digunakan, kalau bisa dengan seimbang.
Oke, saya sepakat kalau adil itu susah karena saya juga merasakannya. Wong makan aja maunya praktis minta diaterin~ :p

🚍🚍🚍

"Rezeki kan sudah ada yang atur, santai saja"

Statement itu sering saya dengar, terutama dari teman yang menimpali perihal angkutan umum yang sedang demonstrasi. 

Oke, saya paham bahwa rezeki sudah ada yang atur. Allah juga nggak bakalan ngasih cobaan diluar batas hambanya.

Tapi pernah nggak nyari tau, gimana perihnya di lapangan?
saya pribadi pernah pernah naik taksi kuning, dan seorang ibu-ibu cuma melemparkan sebiji perak 1000-an saat turun. Padahal seharusnya 4000! Mukanya juga jutek, lalu keluar taksi dengan dagu sedikit terangkat. 

Pafahal bajunya bagus dan di pergelangan tangannya melingkar arloji bermerek mahal. 
Sama sekali tidak menyenangkan, gaya tapi nggak punya adab. Kalau saya yang nyupir entah apa yang akan terjadi. Hahaaa

" Wah, nggak apa-apa nih pak? Harusnya kan gak segitu" Kata saya spontan, menegur sang supir yang sedang memungut uang 1000-an tadi.

"Yaa biasa aja mbak yang kaya gitu. Padahal kita sama-sama cari nafkah, tapi mau gimana lagi mba" sahut bapak itu pelan. 
Lalu beliau menjalankan taksi kuning kembali mengarungi jalanan Banjarmasin.

Saya diam. Gila juga ya.
Nggak perlu ke Jakarta buat menemukan kekejaman jalanan.

Udah banyaknya penumpang gak kooperatif. Ada pula masalah preman yang sering menarif penumpang, jadi dari 35ribu biaya sang penumpang, 5 ribu diambil sama sang preman yang berkedok makelar. Kadang ada juga yang 10ribu. 
Haduh, masa taksi Colt juga ada punglinya?

Supir-supir taksi colt hanya bisa menggerutu setelah menggas motornya jauh dari preman makelar. Mau apa lagi? Kalau nggak dikasih nggak dapat penumpang. Biar aja lah, asal ada sedikit. Begitu kata mereka yang sering saya dengar.

Kadang kasian juga, saya pernah nanya dengan salah satu kakek ojek (iya, kakek. Usianya sudah 55+, udah ubanan bok! Tapi masih lincah dan yang penting, taat sama peraturan lalu lintas) tentang gimana penghasilan beliau habis ada transportasi online.

Jawabannya, penghasilan beliau berkurang separuh, dan pernah juga gak dapet apa-apa. 

Saya terhenyak. Waktu saya minta no hp beliau, saya lihat hpnya juga masih alphabet numerik. Bukan android apalagi aypon. Menekannya juga mikir-mikir dulu karena nggak hafal letak hurufnya.

Tapi saat saya nanya pendapatnya tentang angkutan online, saya terkejut. Beliau visioner! Beliau bilang kalau di masa depan mungkin nggak ada lagi ojek pangkalan seperti beliau. Zaman berputar terus, katanya. Kolega beliau pun juga banyak yang jadi driver online, dan masalah rezeki emang ada bagiannya, tinggal kita yang berupaya nyari, kata beliau bijak.

Aih, keren kan kakeknya? Nama beliau kakek Gazali. Yang di Banjarmasin inbox saya deh kalau mau no hp beliau, bisa request antar jemput loh πŸ˜†

πŸš”πŸš”πŸš”

Lain taksi umum, lain pula taksi online. 

Diboikot, berbagi jatah, selalu menjauh dari pangkalan non online, tiga hal itu sepertinya sudah menjadi hal yang wajib dan harus dihadapi sehari-hari.

Kalau kalian ada di Banjarmasin, maka jika ingin pergi ke tempat umum seperti Duta Mall menggunakan ojek online, peraturan tidak tertulisnya,harus turun jauh-jauh dari pintu masuk, semisal di depan jalan arah Mall, karena didepan pintu masuk DM biasanya ada para supir ojek yang dihindari para driver angkutan online.
Wilayah terlarang.

Kalau pakai angkutan mobil online? 
Oh, bisa kok. Tapi peraturannya, kalian harus turun di lantai dua atau tiga, atau paling banter di depan masjid mall, sekalian driver sholat disana. Itu pengalaman saya.^^

Gimana kalau minta jemput ojek online di Duta Mall?
Nggak bakalan ada yang mau pick up. Percayalah.
Kecuali emang drivernya cari mati melanggar pantangan. Saya udah coba sendiri. HAHAHA.

Eh, bisa deng, tapi disuruh jalan dulu kedepan, nunggu di samping jalan raya, bukan didepan pintu masuk mall. 
Mau pulang cepet? coba ubah setting minta jemput di depan RSUD Ulin, nggak makan waktu lama pasti dijemput. πŸ˜†

Pindah ke Malang, ternyata tak banyak berubah. Disini juga seperti itu, setidaknya sih, begitu kata driver taksi online yang pernah saya naiki bersama keluarga saya. Lebih ekstrim lagi, beliau bilang kalau kaca mobil beliau nyaris dipecah karena perseteruan umum vs online ini.

Haaa... Saya jadi sedih mendengarnya. Sebegitu tidak akurnya kah?

πŸš‰πŸš‰πŸš‰

Saya akui, dulu saya juga sering ngedumel saat naik taksi colt. Ada supir yang semau gue, asap rokok disana sini, berbagai macam bau yang campur aduk, nggak ada AC, dan yang paling bikin kzl, penumpang mesti disuruh nunggu sampai target bawaan sang supir terpenuhi, yang jadinya kan waktu berangkat fleksibel, alias nggak jelas kapan. Belum lagi dijalan mesti singgah kesana sini. :(

Tapi semakin kemari, saya rasa nggak bisa pukul rata deh semua angkutan umum seperti itu semua., saya juga pernah naik taksi yang penumpangnya itu sesuai kapasitas, bersih, wangi, lagu yang diputar juga lagu boyband korea (wiiiiiiiw hahaha)

SNSD aja punya lagu buat para supir taksi... 

Semoga suatu saat nanti, ada perhatian lebih dengan angkutan umum ini. Karena kalau nggak, sudah pasti akan dilibas zaman. :)

Thanks for reading! 
3 komentar on "Diantara Angkutan Umum dan Angkutan Online."
  1. bukan sekali dua kali pikiran serupa menghampiri benak saya.

    sebagai orang yang ga bisa membawa kendaraan apapun, saya memang bergantung pd kendaraan umum. Sedih jg semakin lama angkutan umum berupa angkot di pulau tempat tinggal ortu semakin lama jumlahnya semakin berkurang. alasannya mau dipaksakan terus narik pun penumpang jg semakin sedikit

    BalasHapus
  2. SNSD pun punya lagu nya XD wooww baru tauu

    BalasHapus
  3. Saya tinggal di Pulangpisau 10 tahun yang lalu. Ketika itu tempat itu rada terpencil, sehingga kalau saya mau cari hiburan, saya naik travel ke Banjarmasin.

    Cukup menderita buat saya karena harganya seringkali harus tawar-menawar. Kalau saya ingin travel yang harganya terjangkau, saya harus booking beberapa hari sebelumnya. Kalau tidak booking, saya mungkin akan mendapatkan travel yang biayanya mahal.

    Travel yang biayanya murah pun belum tentu nyaman. Supirnya seringkali ugal-ugalan. Musiknya norak. Penumpangnya dibiarkan merokok di dalam mobil.
    Saya ingin naik travel yang lain, tapi saya tidak punya pilihan yang menyenangkan :(

    Apakah betul taksi online sekarang sudah melayani Banjar? Alangkah beruntungnya. Travel konvensional seharusnya belajar banyak, supaya tetap laris biarpun sekarang banyak angkutan umum online.

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature