Senin, September 18, 2017

Sukses Menyapih dengan Metode Weaning with Love


Senangnya hidup di era digital itu salah satunya adalah kita bisa mencari hampir semua informasi dari dunia internet.

Misalnya saja informasi tentang cara memerah ASI dan tata cara yang baik dan benar tentang penyimpanannya.

Dulu, karena di tempatku belum ada konselor laktasi, apalagi penyuluhan khusus yang mendalam tentang ASIP, maka informasi semacam itu kebanyakan aku dapatkan dari hasil surfing di internet. πŸ˜ƒ

Menurut pengalamanku saat itu (tahun 2015), sudah ada lumayan banyak situs-situs dalam negeri yang mengulas dengan rinci hal-hal seputar ASI di Indonesia, baik itu blog pribadi sampai dengan yang berbentuk komunitas seperti AIMI, Alhamdulillah nyari info soal ASI Perah jadi nggak begitu sulit. :)

Dan aku juga bersyukur, karena ternyata dengan informasi yang kukumpulkan sedikit demi sedikit di internet itu, akhirnya Syuna bisa lulus ASI 2 tahun meski diselingi dengan kesibukanku mengikuti kuliah dan juga bekerja.

Lebih lanjut, Syuna adalah cucu mama yang pertama full ASI.

Wooooo I'm a proud mom! πŸ˜†πŸŒŸπŸŒŸπŸŒŸ

Dan kebiasaan memanfaatkan internet sebagai media penyuplai informasi itupun berlanjut, dimulai dari soal ASI sampai akhirnya masalah sapih-menyapih pun juga aku browsing.

Sungguh generasi google sekali. Hahahaha
Nah, ngomongin perihal menyapih, awalnya aku sempat terpikirkan untuk menyapih Nuy seperti bayi yang lain di lingkunganku. Pakai metode zaman dulu seperti wejangan para tetua yang sering kudengar.

Tau kan? 
Pake metode pahit-pahitan atau ditinggalkan beberapa hari sampai si bayi lupa sama nenennya.
So lame, tapi katanya super ampuh.

Terus, seperti yang tadi aku udah bilang sebelumnya, Juni kemaren itu Syuna udah lulus ASI 2 tahun, dan mau nggak mau akhirnya aku mengalami tekanan dari lingkungan untuk segera menyapih.

Keluarga dari segala arah sudah mengeluarkan nasihat agar menyusui dihentikan. Hmmm...

Sebenarnya aku percaya, meski sudah lewat dari dua tahun pun ASI tetap bermanfaat untuk anak, nggak masalah kalau mau tetap dikasih sampai dia bener-bener siap.

Tapi ya endingnya tetep aja aku kepikiran, karena Syuna emang nempel banget sama aku gara-gara masih ASI.

Kata mama, jadinya benar-benar susah pisah, susah ditinggalin, susah buat ngapa-ngapain. 
Nggak bisa ngelak omongan beliau, karena emang bener juga wkwkwk :p

Beberapa hari sesudah hari raya Idul Fitri, aku pun akhirnya memutuskan untuk menyapih Nuy, yang karena selain udah didesak para tetua dari kedua belah pihak, ada faktor lain yang muncul, yaitu lecet.

Entah karena pengaruh gigi susunya yang udah hampir sempurna tumbuhnya atau ada hal yang lainnya, sekarang pelekatannya waktu nenen harus benar-benar diperhatikan, lengah sedikit posisinya udah berubah.

Gesekan antara nenen dengan gigi si kecil bikin lecet, dan karena posisi bikin lecet itu terus-menerus diulangi, jadinya nggak sembuh-sembuh :(

Keputusan memulai masa sapih tanpa rencana matang yang kumulai hari itu sungguh keputusan yang sangat impulsif.

Impulsif, karena diputuskan dariku yang benar-benar belum punya pengalaman apapun tentang menyapih. πŸ˜…

Tapi kukira, kalau nggak kunjung dimulai ya mau sampai kapan? Iya kan?

Sementara badanku katanya kurus karena menyusui. Dan katanya kalau mau gemuk mesti nunggu Syuna stop ASI dulu. Katanya sih... Ya pendapat orang kan itu mah. 😢


"Yakin? Udah siap menyapih hari ini ma?" Tanya bahnuy saat kuutarakan rencanaku untuk mulai stop nenen pagi hari itu.

"Iya, yakin abah." jawabku mantab bin gak mikir, tanpa memikirkan apa yang sebenarnya aku hadapi.

"Kalau gitu harus kuat ya ma, kalau di stop mesti disiplin jangan dikasih lagi" sahut bahnuy kemudian. 

Aku membalasnya dengan senyum semanis Raiso.
Oke, bahnuy udah ngasih restu, kembali ke wejangan tetua tadi, buat stop nenen mesti ditinggalin atau dimanipulasi rasanya.

Hmmm...
Kalau untuk ditinggalin sepertinya waktu itu nggak mungkin ya, karena aku merasa nggak tega menyusahkan mama ataupun mertua yang sudah tua untuk hal yang yang urgensinya rendah macam ini, sementara itu suami juga terkadang dapat giliran dinas pagi-siang-malam alias gak bisa ngemong anak kalau seharian, dan semua kakakku sedang punya bayi di rumah.

Lagian, mau ditinggalin kemana juga kalau berhari-hari? Nggak ada tempat tujuan. 
Skip. Mutlak sudah gak bisa pake cara ini.

Oke, kalau begitu yang bisa dicoba mungkin manipulasi rasa. 😀😀😀

Ibu 7 anak yang ada di seberang rumah memberi masukan berupa pengalaman beliau yang sudah-sudah buat menyapih, yaitu nenennya dikasih asam jawa supaya ASI ikutan jadi asem, idenya aku tampung.

Ibu-ibu teman bumer ngasih saran pakai pewarna makanan atau sambiloto. Oke, idenya juga aku tampung meski bergidik juga membayangkan pahitnya Sambiloto.😰

Teman yang lain bilang dikasih obat merah atau plester buat 'menipu' si anak kalau nenen lagi sakit.
Hmmm... Oke, ini juga ditampung masukannya.

Baiklah, masa menyapih dimulai!


JURNAL RINGKAS MENYAPIH SYUNA

WAKTU: 34 HARI


πŸ’ [29 juni 2017] πŸ’
Hari pertama menyapih.
Syuna ceria, aku optimis sepertinya ini akan mudah. Khukhuhkhu

Sejak pagi kami bermain bersama dan nyaris nggak ada tangisan, aku juga terus menguatkan diri karena sedang flu berat agar bisa full menemani Syuna bermain.
Che, udah flu sok iye mau nyapih wkwkwk

Namun menjelang sore akhirnya masa tenang berakhir. Syuna menangis, dia ingin tidur sambil nenen seperti biasa.

Aku pun berusaha sebisanya agar dia lupa keinginan nenennya. Kuajak dia nonton Cloud bread kesukaannya, makan mie rebus bareng, jalan-jalan ke ladang pinggir rumah nenek.

Tapi Syuna memang metode distraksinya kelas berat, cuma hal-hal begitu ternyata nggak bisa mengalihkannya dari nenen.

Hingga malam tiba, Syuna masih mode mellow dan senggol bacok nangis. Moodnya benar-benar hancur. Nasi sudah jadi bubur, udah basah memulai menyapih, sekarang udah nggak bisa balik nenen lagi, pikirku.

Namun pikiran keras kepala seperti itu cuma bertahan sampai menjelang tengah malam, kesabaranku habis.

Tanpa sepengetahuan bumer, pakmer bahkan suami, aku kembali menyusui, kali ini tanpa ada manipulasi rasa.

Toh, sisa-sia asam jawa yang masih menempel tetap diisapnya saking pengennya  Syuna nenen.

Beberapa kali kulihat wajahnya mengerinyit karena asam, tapi dia tetap meneruskan kegiatannya menyusu. Syuna tertidur pulas hingga subuh sesudah menyusu.

Aku merasa sangat bersalah.
Sambil menangis kupandangi muka Syuna saat tidur, agak lebam karena dia menangis terlalu lama.

Malam itu aku mulai mengumpulkan info tentang WWL. Aku menemukan quote yang menggentarkan djiwa, kurang lebih isinya seperti ini:

Menyusui adalah hubungan yang manis dan penuh cinta antara Ibu dan anak. Apakah Mama tega memutuskannya dengan rasa  pahit dan tidak enak?

Sungguh, tiba-tiba aku galau. Aku mulai berpikir untuk menghentikan menyapih paksa ini.

🌹 [30 juni 2017] 🌹
Sama seperti sebelumnya. Hari itu seharian Syuna mode mellow dan nempel nggak bisa pisah bak bayi kangguru baru lahir.

Syuna benar-benar berubah dari yang biasanya mandiri menjadi manja. Ah, jadi bukan Syuna banged lah pokoknya. T^T
Kuat, kuat, kuat, batinku.

Aku pun mandi harus berdua, makan harus berdua, jalan-jalan berdua, karena emang waktu itu nggak ada yang menghandle Syuna selain aku, meskipun terkadang suami turun tangan membantu tapi Syuna seolah tidak mau membiarkanku  jauh-jauh darinya.

Hari itu ada aksi baru, yaitu nggak mau jalan kaki. Dia maunya digendong terus dan jalan-jalan terus sampai kaki emaknya gempor.
Beneran lah, biasanya dia lari-lari sendirian kok. 😟

Malam juga diwarnai konser tangisan. Sounding buat stop nenen dibalas dengan teriakan marah. Salah sedikit dibalas dengan tangisan melengking.

Aku frustasi, apa yang salah?
Bahkan selama ini Syuna rewel karena sakit pun nggak pernah sedasyhat ini, apalagi aku juga hampir tumbang karena flu berat.

🌸[31 Juni 2017]🌸
Tidak banyak, hanya lebih buruk.

Teriakannya lebih keras, tangisannya lebih nyaring, dan emaknya semakin mata panda karena tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Aku sudah mulai kehabisan jurus. Makanan di piring sudah habis, dia nggak lagi bilang buat minta seperti biasa, tapi malah menangis nyaring sambil menunjuk-nunjuk ke arah piring.

Syuna yang biasanya melambaikan tangan sambil tersenyum dan bilang "ati-ati gawi abah" dengan imutnya saat mengatar abah bekerja, sekarang mengamuk bila tau ditinggalin abahnya kerja.

Dimana bayiku yang manis? Syuna berubah drastis.

Aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menceritakan rencanaku untuk menyapih dengan metode WWL saja pada bahnuy.

🌼[1 Juli 2017]🌼
Syuna menyusu lagi.
Nggak ada amukan bayi karena sekarang nenen is back!

Yep, abah setuju untuk cancel masa sapih. Bumer dan pakmer cuma manggut-manggut setuju karena... Ya mau gimana lagi kan? 😝
*dilempar asam jawa

🌺[2-14 Juni 2017] 🌺
Weaning with Love artinya menyapih dengan cinta, tanpa ada paksaan.
Natural sesuai dengan penerimaan si kecil, kapan dia mengikhlaskan nenennya stop, prinsipnya dont offer but dont refuse.

Aku terus sounding stop nenen seperti sebelumnya, tapi sekarang udah berhenti disahut Syuna dengan teriakan lagi karena dia tau kalau dia masih bisa nenen 😌

Tapi dia tetap nyahut "itaah" (itah -> indah=ogah) dengan muka menolak. lol. Tapi ga papa lah, daripada dia teriak kenceng seperti sebelumnya.

Selain terus-menerus sounding, aku juga terus mempererat bonding, misalnya dengan meminimalisir pakai smartphone saat bermain bersama. 

Selain itu aku juga sedikit-sedikit mengurangi durasi nenen dan menggantinya dengan makanan padat yang mengenyangkan.

Rasanya sesudah 3 hari menghadapi kelakuan Syuna yang ajaib, hari-hari seperti ini 1000x lebih nyaman. huahaha
*lebay

[14-26 Juni 2017] 
Sounding, bonding dan mengurangi nenen sukses, meski artinya pengeluaran bulan ini banyak terpakai buat beli makanan Syuna seorang karena dia tipe yang harus ada camilan setiap saat. Kaya emaknya.

Langkah kedua adalah stop nenen siang, masih boleh menyusu tapi cuma pas malam mau bobo doang. Kalau siang ya bisa diganti dengan susu UHT atau susu formula bubuk.

Sebelum menyusu bobo. Aku juga sudah memastikan Syuna sudah makan dan kenyang. Jadi dia nenen cuma sebagai pengantar sebelum tidur.

[27-31 Juni 2017]
Stop total. YEY!

Akhirnya nenennya berhasil distop total. Kali ini dia sudah terbiasa dan nggak ketergantungan lagi.

Transisinya menurutku lumayan smooth karena nggak ada anak marah-marah, meskipun awalnya sempat salah menggunakan asam-asaman.

Aku beberapa cerita dengan Syuna kalau nenen mamanya lagi sakit (I'm not lying, putingnya memang waktu itu belah) dan mungkin dia ngerti kali ya, jadi dia nggak terlalu menuntut lagi.

πŸ€πŸ€πŸ€

Jadi kalau kuringkas step-by-step, tahapannya begini:

1. Bonding.

Pertama-tama, pererat bonding dengan anak, berikan perhatian lebih banyak, soalnya kita akan mengakhiri hubungan yang sudah dibina 2 tahun.
Berkaca dari pengalaman Syuna, jangan buat anak merasa dengan nenen berhenti maka perhatian kita padanya berkurang, karena dia akan mulai caper. Nah, capernya anak 2 tahun? Kita sebut itu rewel.

2. Sounding.

Ngomongin sounding, dusta banget lah kalau nggak ada efeknya. Waktu masih dikandungan aja dengerin bacaan kitab suci Al-Qur'an janin bereaksi, bahkan katanya dengerin musik klasik berpengaruh dengan kecerdasan. Apalagi umur 2 tahunan ya? Dia udah bisa ngerti instruksi sederhana karena mulai berakal. Kalau baca-baca pengalaman ibu-ibu yang lainnya, sounding stop nenen bisa dimulai jauh sebelum masa menyapih tiba, aku soundingnya mulai 22 bulan. tapi sepertinya 2 bulan sounding masih kurang, iya, akunya yang kurang telaten. Hihihi.

3. Stop nenen dengan bertahap.

Jangan terburu-buru ^^.
Aku pribadi mengalokasikan waktu 1 bulan sampai akhirnya bisa total melepaskan Syuna tanpa nenen badan lagi. Menyapih sendirian tanpa paksu, soalnya dia sebulan nggak ada dirumah sibuk matrikulasi kuliah nun jauh disana. Hahaha.
Baiknya, karena menyapih sendirian, aku bisa mengatur jadwal Syuna dengan bebas. Kalau semisal di rumah mertua, aku nggak bisa gitu... karena sedikit banyaknya beliau bakalan ngasih masukan. hihi...
Intinya sih menurutku make it your own moment, nikmati prosesnya, persiapkan diri, karena kadang ketidaksiapan datangnya bukan cuma dari bayi, tapi dari kita sendiri.
*nunjuk muka sendiri*


4. Konsisten.

Karena tegar adalah K O E N T J I.
Saat anak sudah belajar menerima kenyataan, jangan malah dikasih 'harapan palsu' lagi.
Move on ya buk.. πŸ˜›

✨✨✨

Sekarang, Syuna sudah berusia 27 bulan, dia kusapih saat berusia 25 bulan, yang artinya sudah 2 bulan dia lepas dari menyusu.

Yang lucunya, sekarang bila dia lihat nenen, maka dia akan bilang "Nuy danal, nunu mama atit", "Syuna sudah besar, nenen mama lagi sakit", Hmmm... rupa-rupanya selain sounding kalau dia udah gede, cerita mamaknya kalau nenen lagi sakit kemaren juga dia ingat. huhu
Lagi, terbukti kan kalau dia ngerti maksud kita? :D

Terimakasih 2 tahun 1 bulannya yang menyenangkan ya, Syuna.
I love you.

Nah, itu dia pengalamanku seputar penyapihan, kalau kamu ada cerita juga. Drop di kolom komentar ya.
Thanks for reading 😘


12 komentar on "Sukses Menyapih dengan Metode Weaning with Love"
  1. Astaga sampai bikin jurnal WWL nyah *rajin pisan! Toss ah mba saya juga sukses WWL di usia 2 tahun 1 bulan, alhamdulillaah... Setelah tandem 4 bulan krn hamil kedua si sulung masih 21 bulan dan aku sounding berbulan2 ampe bebusa, wwkwkk....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kereeen bisa tandem, manajemen waktunya pasti oke banget nih sampe bisa ngatur 2 anak ^^

      Eh, sama2 WWL 25 bulan? Toss dulu dong :D

      Hapus
  2. Ak waktu itu pake metode emak zaman dulu.. *nyumpelin n*n*n pake kapur sirih.. Hihihi..
    Dia liat bingung.. Kenapa jadi putih begini? Ak bilang expired (sok banget bahasa emak ini) haha..
    Tapi yg paling kuat waktu it adl peran ayahnya yg mau melukin dy pas lg pengen berat.. Ga kebayang kalo ak sendirian aj.. πŸ˜…
    Saluteee sama artikel ini.. Sampe ad jurnal hariannya juga.. Ak mn bs gt.. Hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Expired... Paham kah Pica lawan kadaluwarsa? Mama bahasanya jangan ngalih-ngaliih maaa πŸ˜‚

      Hapus
  3. waa mudahan nanti aku juga bisa ngasih ASI sama anakku sampai 2 tahun trus bisa WWL juga

    BalasHapus
  4. yang utama adalah KONSISTEN dan TEGA membiarkan anak menangis y mba aku pun saat menyapih tega ga tega melihat anakku nangis dari siang sampe tidur malam pun seperti itu tapi akhirnya berhasil menangis semalam hanya berlangsung seminggu selanjutnya alhamdulilah :)

    BalasHapus
  5. Duh' perjuangan nya panjang...πŸ˜³πŸ˜‚

    BalasHapus
  6. waaa anakku udah 20 bulan, pelan2 mulai sounding buat lepas nenen 😭 rasanya kok kitanya yg sedih ya 😒
    bakalan kangen pas dia manja2an minta nenen, aaaaa semoga emakmu ini bisa setrong ya nak πŸ˜‚

    BalasHapus
  7. Perjuangan banget memang, malam pertama lepas nenen pun anakku ndusel-ndusel nenen, tapi langsung dipisahin sama mertuaku, disuru makan pisang, hehe. Untungnya waktu itu lagi suasana mudik, jadi banyak yang bantu mengalihkan Rayan dari nenen, banyak yang ngajak main. :) Support dari orang terdekat juga sangat membantu mba.

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir yaa :)
Silakan tinggalkan komentar, Insya Allah saya kunjungi balik ^^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature